Selasa, 05 Juli 2011

Area 71, beware of the dangerous idiot #2

click to go back...

-- A hot striptease dance for Mr. Shoot-it --

hot bukan? beginimi rehan
Kisah absurd lainnya tentang guru misterius yang killer namun selalu mengundang tawa, Mr. Shoot-it.

Kebiasaan kami untuk menghindari pelajaran-pelajaran membosankan seperti kir dan tik adalah meminta izin khusus ke wc selama 3 menit dan selanjutnya akan selalu ada waktu tambahan untuk jiwa-jiwa yang tak sarapan ini.

Hari itu setelah menuntaskan urusan perut dan udah yakin Mrs. Old-Seamstressa (wali kelas tercinta sekaligus guru kir yang membosankan, Rehan mungkin masih memiliki masalah cinta dengannya, namun aku punya hutang maaf atas hal ini) sudah meninggalkan kelas, kami pun bergegas kembali dan bertindak seolah kami tersesat dan membutuhkan waktu satu jam pelajaran untuk mencari jalan pulang.

Namun langkah kami sempat terhenti di depan koridor kelas VII.2 dan menemukan pemandangan mengerikan yang menghantui kelas menyenangkan itu, Mr. Shoot-it. 

Setelah yakin disekelilingnya aman, Rehan pun mulai mengeluarkan tarian striptease (dimana dia belajar?) nya yang aduhai mantap dan mengejek yang spesial ditujukan ke Mr. Shoot-it. Ia seorang cowok dan aku berharap lebih Mr. Shoot-it akan tergoda dan berbuat baik kepada kami.

Ketika Rehan tengah asyik menari disambut siulan dan tepuk tangan dariku, Apip, dan Amir, tiba-tiba dari balik pintu temaram, tampak jelas sebuah tatapan 'extra exam later' khas nya Mr. Shoot-it ke arah kami dan kami tahu kami tidak akan saelamat dari ujian matematika lima paragrafnya besok.

-- Om satpam, I'm in love --

Mungkin inilah kisah cinta pertama yang bersemi di kelas tentu saja jika Deli tak membuka hatinya yang kedua dan seterusnya untuk Amir dan Apip.

Romeo-Juliet /wf glasses's story between Rehan and Desmy...

Selintas mereka terlihat cocok, dari postur tubuh, wajah, dll. Mereka tertawa, becanda, dll, dll. Semuanya bahagia, senang, dll, dll, dll, sampai hari itu...

Abangnya Rehan dan calon Mbaknya Rehan, sepasang Romeo-Juliet sesungguhnya mengadakan kunjungan khusus hanya untuk bertemu dengan dia yang telah memikat hati Rehan. (gue aja kaget Rehan punya hati)

kenapa ada rapip dibelakang?
Maka berlangsunglah acara interogasi antara Rehan alias Warrior Pemabuk, dan Ecy alias Peri Penjaga yang dipimpin langsung Abangnya Rehan alias Kakek Sesepuh di lahan parkir yang disaksikan kami sekelas dan om satpam botak.

Beberapa dari kami menertawakan kekakuan antara mereka berdua. 

Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke kelas secara terpisah beserta muka cemberut.

Sejak hari itu, Ecy secara tragis dan tanpa alsan serta status yang jelas mulai menjauhi Rehan dan dalam seminggu kami memperingatinya dengan mengibarkan bendera setengah tiang (ya iyalah benderanya emang gitu kok).

Alhamdulillah, dengan akhir cerita sedih tersebut, sekarang Rehan sudah menemukan Juliet sesungguhnya, seorang putri cantik (thanks atas sogokan baksonya) bernama Sari.

-- Maksud hati pengen sok Nge-lem, apa daya malah Nge-bogem --

Setiap pengalaman konyol di tahun pertamaku pasti ada kaitannya dengan Mr. Shoot-it. Entah karena disengaja atau tidak, ia begitu mudah dipancing emosinya. Dan yang terpandai dari yang terpandai melakukannya adalah Rehan, Dirham, dan Apip tentunya.

Pada suatu hari kami diharuskan membawa persiapan lem untuk praktikum kir. Namun ternyata dua diantara kami benar-benar melekatkan sesuatu pada hari itu, yup, some trouble again.

Singkat cerita, lagi-lagi masalah muncul di jam pelajaran matematika yang emang mematematikan. That day was Friday, and i really mean its Fried day (benar-benar panas--red). And Mr. Shoot-it isn't in a good mood.

tolong jangan biarkan mereka bersatu
Entah karena takdir atau apa, Rehan dipertemukan dengan Dirham dalam sebuah bahtera bangku yang membuat mereka super menjengkelkan dan kombinasi momok yang menakutkan bagi guru manapun.

Ditengah pelajaran, Rehan feat. Dirham sedang bermain dengan lem mereka untuk membuat para gadis terhibur. Tapi sayang, tak satupun dati gadis tersebut terhibur ketika menatap Mr. Shoot-ittepat di belakang Rehan-Dirham dan tentu saja ia sedang tak enak perasaan.

*plaaak

Dirham yang berada di ujung sana terkapar, sedang Rehan sedang berpikir tentang cara untuk melarikan diri tepat ketika celana saekolahnya tersangkut di bangkunya dan sontak membuat seisi kelas tertawa.

Namun semua tawa terhenti ketika penyakit asma Dirham kambuh gagara bogem mentah yang sedikit lembut dari Mr. Shoot-it yang menurutku tidak disengajainya, mungkin dia lagi ada masalah.

Beberapa detik kemudian, kelas kami tiba-tiba berubah menjadi teater dadakan dimana scene nya bercerita dimana dirham tengah diujung sekarat dan ingin mengatakan permintaan terakhirnya, dan Mr.Shoot-it mendengarkan sambil meneteskan air mata tersendu lalu membopongnya dalam keadaan slow motion.

Sejak kejadian itu, kami mulai tak bernafsu mencari masalah dengan Mr.Shoot-it. Dan kelihatannya walaupun tak dicari, masalah itu tetap berdatangan.

--  Shad's Fin --

Hari itu hari ulang tahunku, dan aku gak sepenuhnya sadar dan siap untuk itu. Tentu saja orang sepertiku tak tinggal duduk dan diam untuk memperhatikan kalender.

Semuanya biasa saja, datar, bahkan terlihat sepi dan seram. Entah kenapa semua orang menjauhiku seakan aku baru saja menempelkan permen karet ilegal yang sudah ku kunyah ke bangku mereka.

Ada yang aneh, kulihat ada sebuah rapat tertutup. Para cowok berbisik dan satu kata yang kudengar,"lempar !". Dan para cewek menggeleng tak mampu. Lalu majulah dua lelaki kekar dan bertato, Rehan dan Aslam mengajukan diri.

Bel pulang berdering, aku memutuskan langsung pulang ke rumah. Tanpa sebongkah keringat sehabis maen basket dan setitik kecemasan ketika war clan di perfect world /wf my sparring partner, Apip and Koke.

Satu langkah aku meninggalkan kelas, dan aku mendapati tubuhku terbang dibopong Rehan dan Aslam yang secara de facto dua kali lipat badanku. Aku menjerit seperti perempuan yang hendak diperkosa, dan tentu saja mereka tertawa khas pemerkosa.

tidakkah kau memperhatikan ingus disana?
Depan kelasku terpampang seabuah limbah beracun berisi monster mutasi yang mereka sebut kolam ikan. Dan tampaknya mereka ingin menggunakan kenyataan pahit itu untuk menyakitiku. Lalu disitulah kami terhenti. Aku sedikit memberontak tapi badan goblin ku tak mampu mengalahkan seekor kolor ijo dan segumpal troll bau.

Para gadis ingin ikut melempar, namun tampaknya niat mereka menciut setelah mengetahui sebuah fakta unik dimana tanganku cukup gesit untuk mengerayangi mereka, dan mereka pun memilih menghitung,"1...2...3...!"
Jika kau pernah melihat cara bajak laut melempar tahanannya ke kerumunan hiu lapar sepanjang dua meter, sepeti itulah aku saat itu. Terputar, pusing, dan tentu saja bau. Baunya jauh lebih menyengat daripada di danau loch ness monster yang telah merenggut hape ku.


Aku tak pernah ingat jadi tontonan sekolahan. Para guru, kakak kelas keparat, anak kelas lain, anggota basket ku, tiga orang security guard, Dg. Lamming, and the gangs, dan yang paling buruk seseorang yang kucintai saat itu.


Ada yang simpati (sedikit), tanpa ekspresi (batu), dan girang (hampir semuanya).


Momennya memang tepat dan tempatnya strategis, sepulang sekolah,dan kolam dekat gerbang keluar sekolah. Pastinya aku kelihatan cukup bodoh.


Aku beberapa kali berusaha keluar dari lumpur hidup itu. Namun dengan bantuan (trims) the butcher cs, Appang, Fatir, Indra, Rehan, Apip, Dirham, Aslam, Aco, Hilmy, dan para cowok yang merasa harus berpartisipasi, itu menjadi satu hal yang cukup sulit.


Bercengkerama dengan ikan lele hasil mutasi yang mengerikan, ganggang busuk yang memasuki sepatu dan celana dalamku, serta fakta bahwa aku akan mengidap semacam bau khas sepanjang minggu membuatku kesal dan menggerutu soal parfum baru. Namun jauh dibalik itu, aku senang karena pada akhirnya aku menemukan orang yang seantusias ini merayakan ultahku.


Ketika para penonton sudah merasa cukup terhibur, dan mengucapkan selamat yang diiringi gelik tawa yang menjengkelkan, akhirnya dengan bantuan the butcher fucker cs, aku pun kembali merasakan empuknya tanah.


Setelah meminta maaf dan mengucapkan selamat juga, aku memeluk mereka yang kudapat dan membagikan semua kesenanganku, dan tentu saja beberapa sisik ikan yang bau.

-- Don't wanna be an American idiot --

Another rotten story about the stinky hole named fish pole.

Hari itu cukup bersahabat dan berangin untuk kerja bakti. Beberapa menyapu, menggunting rumput, menyirami bunga, dan yang paling berbahaya adalah membersihkan kolam.

Aku tak pernah ingat kapan terakhir kali kolam ikan itu dibersihkan, menurut sumber terpercayaku, seorang agen rahasia yang menyelundup di bagian kantin, kolam itu tidak pernah dibersihkan sejak dibuat. Hanya disaring airnya, tapi dasar dan lantainya gak pernah disikat. Momok menyeramkan buat Mr. Disk Jockey (selanjutnya dipanggil Mr. DJ) yang memegang bidang kebersihan dan lingkungan sekolah.

aku mulai menyukai anak ini
Untungnya Mr. DJ mempunyai beberapa kaki tangan genit dan salah satunya si Apip.

Entah ikhlas, atau tertekan, Apip bersama Mr. DJ pun memberanikan diri memasuki sarang ranjau itu. Mereka pun kompak mulai menjaring ikan yang selamat dari bencana kejam tersebut. 

Menurut pendapat terakhir, kolam ikan itu biasanya disalahgunakan sebagai toilet darurat yang menyebabkan pigmen hijau merayapi seluruh kolam.

Setelah air kolam diisap, maka mereka pun mulai menyikat. Kuliat ganggang dan lumut disitu mulai membentuk koral dan karang, sisa air disana seperti cairan ijo seperti ingus di video clip nya Greenday -- American Idiot, ikan yang hidup juga sudah bermutasi menjadi kecebong (ikannya emang udah ditangkap semua kali). Sungguh pemandangan yang tragis.

Akhir cerita, menjadi seorang pahlawan memang berat. Jika berhasil kita akan dipuja, namun jika gagal kita akan dihina. Namun hal yang terjadi pada Apip sedikit lain, dia berhasil dan kami tetap menertawakannya.

click to continue...