Kamis, 30 Juni 2011

Pasar kaum Troll terbakar? Atau sengaja dibakar?

Yup, mengutip headline berita di koran Fajar edisi tanggal 29 Juni 2011..

detik-detik kebakaran *sumber : http://nasional.inilah.com/read/detail/1647062/pasar-sentral-makassar-terbakar

Kemarin siang, dengan berat hati aku menenteng tiga tas berisi laptop dengan berbagai ukuran dan usia. Mulai dari laptop ukuran batu gunung (unknown mark) jaman bapak saya pertama kali menjadi dosen, laptop compact ukuran sederhana yang sekarat akibat dijerat ribuan virus yang tak terkontrol, sampai laptop vaio mini keluaran baru yang mulai berasap akibat perbuatan adikku.

Siang itu aku menemani bapakku beserta adikku, Amma yang menjengkelkan ke Computer city yah nggak lain buat servis, upgrade, karantina, atau ditimbang *ngelirik laptop ukuran batu gunung*. Dua jam menunggu dan mendengar pembicaraan (atau tepatnya gosip?) tante-tante sales disampingku tentang pasar sentral yang kebakaran. Kasihan juga..

Setelah keluar dari cyborg-lair itu, bapak mengajakku keliling kota dulu. Makan konro bakar karebosi, liat schedule penerbangan ke jakarta, dan nyuci mata di lotte mart (belanja bukan hobi kami).

Tapi mobilku terhenti di sebuah landmark penting di kota Makassar, pusat belanja segala usia, dan dulunya sering kusebut pasar troll seperti dalam serial Hellboy : The Golden Army yang jorok. Pasar Sentral, korban si jago merah yang liar.

Di sudut mata aku memandang puing-puing kayu dan bangunan yang rapuh, gerombolan pedagang (mungkin) yang menurutku sedang berdiskusi tentang 'siapa yang patut disalahkan', dan seorang nenek tua korban (mungkin) yang sedang makan di tempat yang lebih mirip tempat pengungsian korban banjir.

Telingaku menangkap banyak chatroom, yang sedang menangis, menggerutu, atau mungkin menyalahkan? Mataku pedih melihat banyak yang berpelukan, meronta, dan sedikit yang terlihat ikhlas.

Sekedar info, aku salah satu 'orang yang kurang dalam hal menafsirkan emosi' maksudku hal seperti kasihan. Tapi keadaan ini sungguh tragis, jeritan para pedagang, tangisan para anak kuli barang, dan keringat dingin para tukang becak.

Kami tak tinggal lama di tempat itu, bapakku harus pulang sebelum jam lima atau kami berdua kena marah mama ku. Mereka harus menghadiri sebuah pertemuan.

Di perjalanan pulang, suasana mobil begitu hampa. Terdengar sayup-sayup riuh kendaraan diluar, alunan musik country dari mulut penyanyi jalanan, dan cepritan bunti peluit mas ogah. Amma yang biasa cerewet, sok, kurang ajar, dan senang melihat emosiku sekarang diam. Bapakku berkonsentrasi pada kemudi. Dan aku menatap kosong keluar jendela, sebuah gerbang bertuliskan Chinatown yang angkuh.

Banyak cepritan opini dalam otakku, apakah ini benar-benar kebakaran? sebuah ketidaksengajaan para pedagang? aruspendek listrik? puntung rokok?

Dibakar? apakah ini salah satu dari apa yang kusebut 'rantai pemusnahan pasar'? yang telah menimpa pasar butung, tanah abang, dan pasar lain? sebuah sabotase? praktik mafia yang berencana meniadakan tempat kumuh itu? dan membangun gedung-gedung tinggi bernama 'mall'?

Walaupun kesal jika aku diajak mama (tepatnya dijadikan kuli angkat barangnya), bercengkerama dengan cepritan lumpur dan bau ikan yang sangat kubenci, dan menatap muka pedagang yang menurutku licik, dibalik semua itu, aku kasihan.

I hope the tragic scene like now doesn't affect the merchants (how to say 'pedagang?') to try again, and again...

Selasa, 07 Juni 2011

What's on Smansa Makassar?


SMAN 1 Makassar or known as Smansa Makassar is one of the best school in Makassar (and Sulawesi Selatan). It's formed in 1950. At the time, the name wasn't SMAN 1 Makassar, but AMS. So, now the age of Smansa is almost 61 years old!

After that, the name of AMS Makassar changed to SMA Makassar.
Well, along with the times, the number of students of SMANSA increasingly added, therefore, in 1957 the school was divided into two parts. Well, now a part of a SMANSA and one we now know with SMADA (SMAN 2 Makassar).

Behind of SMANSA history, it turns out SMANSA also been destroyed due to experiencing a major fire. Later rebuilt and completed 14 April 1982, and inaugurated by David Joesoef, Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia at the time.
Well, that's a handful of flash back on the history of the school that fester in the number of Mount Bawakaraeng St. Not much different from other schools, SMANSA also want quality graduates. But behind it all, apparently in addition to creating a smart, superior and intelligent student, SMANSA also wanted "outgoing" students. So that's according to Herman Hading, the principal.

"Well, outgoing as I meant doesn
't like students know nowadays, but also how they (students, red) can establish communication with whoever and wherever they are," added Herman Hading who headed the school since 2003.

Of course all of these things coupled with the optimization of academic and extracurricular which spurred further. For instance the application of additional school hours each afternoon and 18 extra-curricular program options provided. Including photography extracurricular (Forzha, Photography of Smansa), which may be can only be found in this school.
Facilities at the school, which until now has 14 head of this school may be spelled out quite complete, like laboraturium, library, multimedia room, etc.

Even each of the two special rooms are used to support learning in Mathematics, English and Religious Education, Herman Hading also said his expectations. "We always optimize the potential of existing resources on students in the learning process, to achieve maximum human qualities and outgoing to the people," he added.


*quoted from : http://puisiachelya.blogspot.com/2011/02/whats-on-smansa-makassar.html

Minggu, 05 Juni 2011

'C'

Cinta...

Apakah kau berasal dari cairan racun merah muda dari dalam hatiku? Yang hanya akan puas jika engkau memilikinya hanya untukmu sendiri? Puaskah?

Atau justru sebuah stimuli yang mengalir melalui dendrit otak sebagai buah pemikiran yang pendek? Dan ketika suatu saat di benakmu muncul yang lain, akankah kau melupakan dan memikirkan yang lain?

Ataukah hanya suatu tekanan darah yang mengalirkan nafsu sesaat? Lalu dimanakah akhirnya? Diatas ranjang kah?

Aku hanya menatap kekosongan, apakah kau ada diantara mereka atau tidak satupun?

Yang aku tahu kau bagaikan intan biru langit yang sangat mempesona

Yang karena pesonanya bahkan bisa merusak persahabatan, persaudaraan, dan kekeluargaan

Aku ingin melupakan Cinta...

Sejak saat itu

Sejak ketakutan merambati setiap nafas yang kuhirup, ketakutan akan kehilangan intan biru langit-ku akan direnggut oleh orang lain

Oleh sahabat, teman, apalagi orang yang tak kukenal
Aku sering marah dan tak terkendali ketika perhiasanku di colek dan dilirik oleh orang lain, yang membuat hubunganku dengan sahabat dan orang lain menjadi pupus

Sehingga aku menyimpannya di kotak pengap untuk diriku seorang

Ketika aku merindukannya, dia akan selalu ada di kotakku, mendengarkan ceritaku, tertawa, dan akan kupeluk selalu

Tapi semuanya berubah ketka aku mendapatinya mulai berkarat dan berdebu, ketika aku mulai jarang menemuinya

Tapi aku takut untuk membawanya, takut akan dilirik oleh orang lain

Aku memilih untuk melepasnya, berharap dia bisa merona diantara semua perhiasan, bahkan paling mempesona

Sehinga dia akan mendapatkan orang yang tepat untuknya

Lalu

Lucunya
Begitu sulit untuk melupakanmu

Sesulit dengan menari hubungan
Antara 'Love'-'Fuck'
Dan aku menemukan huruf 'C'
Yang lagi-lagi menuntunku

Padamu Cinta...

Aku teringat disaat kita tertawa dan menangis bersama
Menghadapi dunia dengan kata Cinta...

Menari di tengah ilalang kehidupan
Dan kau selalu memastikan setiap langkah yang kuambil
Seirama dengan langkahmu

Bernyanyi nada-nada cinta
Menantang riuh suara ejekan
Celaan yang datang menerjang
Kita

Kau selalu menyuguhkan senyuman hangat sebagai sarapanku
Bisikan lembut menyiur melambai
Dan pelukan yang selalu bisa menutup luka ku

Lalu bagaimana aku menyembuhkan luka ini?

Luka yang tak juga mengering
Aku tak ingin membebani perasaanku lagi dengan Cinta... 

Maaf
Bukannya aku membenci mu
Cinta...

Hanya saja

Aku takut berharap yang tak pasti
Lebih baik aku sendiri
Berharap esok aku menemukan mereka
Kehidupan behagia dan masa depan indah

Daripada harus berharap dan terluka

Sabtu, 04 Juni 2011

Oldiesnight

"semoga mawar kembali tegar dan segera kembali segar"
Aku memperhatikan seorang pria terduduk di halte tua

Memangku mawar penuh duri

Dia melebarkan sayap-sayap senyumnya

Namun, kemudian senyum itu terbang

Menyisakan seurat nadi yang dalam

Terbayang seorang gadis mungil yang sangat di cintainya


Ia sangat ingin memiliki gadis itu sepenuhnya
Namun, gadis itu terlalu rapuh

Seperti mawar hitam layu di pangkuannya
Yang akan patah dan menyisakan darah
Ketika genggaman erat menyetubuhinya

Namun angin akan membawanya terbang
Ketika tak satupun jari melingkari batangnya

Ia kemudian berdiri

Lalu kereta angin dikayuhnya kencang
Seirama dengan denyut jantung yang berdegup kencang
Atau hati kah itu?


Tak sempat saya tanyakan
"Ada yang bisa saya bantu, Diriku yang satu lagi?"

Dan..
Sebuah mobil trailer besar menghampiri...Diriku yang satu lagi
Berwarna merah berapi-api
Tanpa cacat
Mengkilat dan penuh pesona
Dan bertuliskan, "Cinta"

Berdasi lagi berbaju hitam kosong
Dan...tanpa disapa
Kematian menghampirinya
Sang pencabut nyawa tertawa, dan mengangguk
Walaupun tak tahu nama...Diriku yang satu lagi


Tubuh tak bernyawa
Jemarinya bergerak
Meraih bunga hitam tanpa harapan


Ditanamnya bunga itu
Berharap di suatu hari
Bunga itu akan mekar kembali


Sebagai bunga mawar merah penuh harapan


Sayap-sayap senyumnya melebar
Dan kemudian terbang lagi bersama genggaman kematian