Minggu, 31 Juli 2011

MOS#3 -> Beratus ribu jabat erat si poconggg edan


Pagi itu kami berbaris dibawah rimbunan pohon-pohon raksasa yang  menyelubungi sekolah.

Dibawah masing-masing pohon ini terdapat bundaran semen berlapis tehel, tapi gak sempurna. Bentuknya gak oval. Dibilang kotak malah bakalan digampar. Giliran lu yang bilang segitiga gue yang bakal ngegampar. Intinya lu liat aja sendiri.

Konon, disitulah tempat mejeng favorit buat kunti-kunti yang-beberapa-suka ngegangguin anak baru di Smansa mnurut sumber yg gue dapat. Entah itu Kuntilanak, Kuntimalak, ato Kuntigertak. Semuanya melebur dalam satu kekuatan kunti yang menyeramkan. Buat yang pernah ngalamin, ato lagi dalam proses, lo tau gue lagi bicarain tentang apa.

Yang nggak keduanya, gue juga ikut sedih kawan. Nggak, bukan karena kamu sial. Persetan dengan kamunya. Tapi lebih kepada sekolah masing-masing, kali aja di sekolah lu udah bukan kunti-kunti lagi, malahan udah berwujud kun'tits'. (pemeran utama dengan tetek gede di film-film horor esek-esek khas Indonesia sekarang, ih napsuuuuu...) MySpace MySpace MySpace

Gue cuma berharap gak terimbas efek radiasi buah asam tempat gue berteduh yang katanya bisa bikin asem belahan ketek, benarkah?

Parahnya lagi, katanya sih pohon-pohon itu beneran menyimpan cerita masing-masing. Terutama yang ini...

Semua berawal dari adanya anak pindahan baru ke sekolah ini sepuluh tahun yang lalu. Namanya Regina. Dia salah satu cewek tercantik saat itu. Rambutnya coklat disusuin, kulitnya sawo dimatang-matangkan, giginya berbaris rapi tanpa taring, dan senyumnya agak aneh.

Regina adalah siswi pindahan dari Surabaya. Dia dipaksa pindah karena kontrakan rumahnya disana sudah lama tertunggak dan ayahnya sedang menerima proyek sumur bor dimana-mana. Orangnya gak milih-milih dalam berteman. Mau anak pejabat, anak tukang becak, maupun anak tuyul tetap diembat. Gah heran kalau dia jadi idola.

Nah ini dia, menurut gosip, Regina pernah mencabut sebuah pohon kecil misterius yang belakangan diketahui adalah jamur payung. Dan anehnya, setelah dipinang bule asal Afrika Selatan, dia gak pernah keliatan lagi. MySpace MySpace MySpace

Nah, di dekat jamur itu pernah tumbuh, ada sebuah sumur tua. Dan di samping sumur tua itu, tumbuhlah sebuah pohon asam raksasa (jangan tanya gue kenapa di sana yang ada cuma pohon asam semua). Lebih detailnya yang make kalung ban besi tua karatan bekas lonceng prasejarah. Pohon yang pernah gue kunjungin di hari pertama. Bekas daerah kencing pendagus gue. Pohon itulah yang katanya keramas-maksud gue keramat.

Gue juga bingung kenapa dariawal ceritain tentang Regina dan jamur payung dekat sumur tua nya. Bener-bener jayus.
Sebagai bukan apa-apanya si Regina, gue ngerasa gagal. MySpace

* * *

Jadi, dia pohon asam itu katanya bener-bener ada Kuntilanak (secara harfiahnya). Cerita itu mungkin sedikit diragukan, karena beberapa saksi mata bersaksi bahwa  mereka melihat bayangan putih sejenis pocong. Atau kalau mereka salah lihat, mungkin bantal jemuran mbak kantin yang ketinggalan.

sekalian promosi, conggg
Bicara soal pocong, yang paling gue takutin kalo ternyata yang sedang jaga di pohon itu adalah @poconggg. Nggak, bukan karena gue parno ama pocong. Persetan dengan si Parno. Tapi lebih kepada gimana cara gue harus manggilin dia. Kalo gue manggilnya 'conggg', fonemnya bakalan membingungkan pembaca. Iya nggak, conggg? Mereka pasti bakalan bertanya-tanya,"lu lagi manggil pocong ato godain bencong sih?".

Apalagi kalo gue manggilnya pake nama 'aconggg'.MySpace

Jadi, supaya gue gak dikatain demen ama bencong dan bukunya laris-manis di pasar loak, gue mutusin manggil dia dengan sebutan 'bokonggg'. MySpace MySpace

Oh iya, apalagi kalo dia nekat terbitin sekuel kedua "poconggg juga pocong", judulnya "poconggg jaga pbokong" dan cerita soal muka gue yang (maaf ya?) gagah. Insyallah, kalo koneksi luas, rajin sholat, dan senantiasa berusaha, bakalan best seller deh bukunya.

Gue sih oke-oke aja, gue masih bisa ngasih tanda tangan ke fans gue. Yah elo? (ngelirik sarkatis ke arah poconggg) Bersyukur aja gak perlu repot-repot nyari cara buat nanda tanganin buku lo nanti, call me trus kasih hak tanah milik Lapangan Karebosi ke pembantu gue dirumah, gue siap.

Back to the topic, maaf ya soalnya sampe sekarang gue masih kesel mikirin gimana bisa seikat sosis gosong bisa nulis novel dan best seller pula. Gila nya lagi gue sampe repot-repot ngebacanya.

Lama-lama gue santet juga tuh anak. (emang bisa?)  MySpace

Jadi, keliatannya barisan sana cukup lengang.

Barisan manusia tak beradab mulai berkurang, gue pikir mereka mulai sadar setelah kakinya mulai berselaput akibat lompat kodok kemarin.

Akhirnya para pendagus datang, dan awan gelap menyertainya. Kami lalu menerima instruksi baru, tepatnya komando. Dan kali ini benar-benar kejam...

...membersihkan seantero Smansa. MySpace

Hening.

Gue diem. Semua siswa saling bertatapan muka. Chila gak kuasa berbicara.

Tiba-tiba...

"ituji kah?", bisik seorang teman gugus gue minta digamparin.

Gue mulai sebel. Beberapa siswa kelihatan marah. Chila bahkan mulai merengek. (nih anak daritadi ngapain sih?)

Oh iya, kalo lo mau tau arti dari kata 'seantero', gue bicara soal bongkahan daun mati yang mulai menyusun sebuah hegemoni yang rapuh di setiap sudut sekolah, badai debu yang membuat face scrub para cewek kayak bedak bayi, dan sarang laba-laba yang penuh kotoran. Mulai dari kumbang kotoran yang tentunya merupakan santapan lezat buat om laba-laba, sampe yang bener-bener kotoran kayak upil yang sangat merusak akal jernih, berimajinasi apakah laba-laba juga mempunyai sistem pembeda rasa di lidahnya? Gue bahkan gak yakin dia punya lidah yang cukup licin untuk mengolah gumpalan terkutuk itu.

Gue bengong.

Chila juga ikut-ikutan bengong. (sumpah, nih anak kan seharusnya ngobatin temen-temennya yang sakit biar bisa main sama-sama lagi, kan?)

Gue menyumpah-nyumpah dalam bahasa yang bahkan nggak gue ngerti. Dan gue bener-bener ngegampar temen gugus gue tadi. Nggak, kali ini nggak ada Chila. Sekali lagi Chila muncul, bakalan gue susuin pake susu nyamuk.

Kenapa? Mungkin lebih keren jika kami mendapat daerah nyapu seperti lapangan basket ato paling nggak kantin lah. Sialnya kali ini, kami bakalan jadi pengurus masjid.

* * *

Gue ingat guru ngaji gue dulu pernah bilang,"setitik debu yang kamu bersihkan dari masjid, akan bernilai seorang bidadari cantik nan jelita di surga nanti", jadi gue sempat berharap. Namun, pernyataan sarkatis itu membuat para santriwati manggut-manggut karena merasa gak adil.

Gue tau apa yang lu pikirin. 'Bidadara' kan?

Tapi gak begitu ceritanya,  para santriwati diberi imbalan,"bla, bla, bla, suami yang kamu cintai-", beberapa diantara mereka terlihat merona, gue ngerti mereka udah pada jatuh cinta,"-itu kalo suamimu termasuk ahli surga", lanjut guru ngajiku yang membuat muka para santriwati itu lebam, dan gue nggak berhenti ngakak.

Oh iya, seumuran gitu gue juga udah jatuh cinta, loh. Ya, sama seorang gadis imut dan ngegemesin. Teman Taman Kanak-kanak gue yang lucu dan manis. (serius, soalnya dulu mama gue sering banget nonton telenovela--ya--bukan tontonan yang bagus buat anak berumur 5 tahun)

Jadi, setelah menetralisir sedikit pengertian itu,"setiap daun kering yang gue angkat, buang, gunting, lem, dan mungkin dibakar, akan bernilai satu bidadari cantik yang gue harap bidadari itu mirip dengan orang yang kucintai".

Permintaan yang ekstra serakah, namun setidaknya cukup memberikan motivasi yang bener-bener menggigit untuk meratakan segumpal daun kering yang patah.

Setelah itu, kami kembali ke barisan utama dengan bercucur keringat dan bener-bener berbau asam. Kami duduk, bernapas, lalu diarahkan menuju kelas kami yang baru.

* * *

Gue gak pernah ngebayangin scene ini. Kami terhenyak di tangga sekolah dan menatap (mungkinkah?) sebuah kelas.

Sebuah kelas paling ujung di lantai teratas. Papan kelas berbunyi X-8 mengangguk lesu diterpa angin. Ubinnya menyeramkan, kuno, dan kombinasi catnya parah, merah-abu-abu. Mengingatkan gue pada suasana yang menyenangkan di Kfc. Sayangnya kelas ini benar-benar seperti yang gua bayangin. Berantakan, berdebu, dan berderak. Terutama kebocoran parah yang dialami jendelanya, mungkin dulunya Kenpachi pernah bertarung melwan hollow di kelas ini. Kalau emang tempat ini dulunya bekas Kfc, gue gak bisa bayangin yang berkunjung makan kesini berwujud apa. Mungkin hollow, ato para Shinigami.

Sialnya lagi gue dikelilingi orang-orang diatas normal kewarasan yang secara teminologi adalah teman kelas gue dan fakta bahwa kelas X-8 adalah kelas paling nakal sepanjang sejarah Smansa, setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Gue pikir hidup gak bakalan lebih buruk daripada itu, kan? Hingga penanggung jawab dan pendagus mengumumkan ide cemerlangnya soal unjuk bakat...

...menari dan memotong bebek angsa. MySpace

* * *

Gue sempat berpikir bahwa kotak tertawa itu ada dan bakalan terbakar seperti tipuan Squidward yang membuat Spongebob terlihat menyedihkan. Kira-kira ilustrasi itu cukup menggambarkan keadaan perut kami yang saling melilit akibat tertawa yang berlebihan.

Gugus-gugus lain sungguh menghibur. Mereka dapat mengombinasikan profesionalisme, cool performance, kontrol bola, dan humor dengan baik (gue bilang gitu karena emang penampilan gugus kan macem-macem, gak cuma nyanyi doang dong). Contoh khususnya, Mega yang awalnya gue kira bakalan ngebaca puisi yang romantis, ternyata cuman jadi penari latar doang, anjing, ngerusak imajinasi banget.

Namun, kami gak begitu menikmati penampilan-penampilan gugus selanjutnya dengan tarian erotis gak jelas khas Sm*sh. Lebih gak jelasnya lagi yang joget ternyata segumpal cowok ekstra melar.



Argumen itu mungkin beralasan mengingat akhir dari penampilan itu adalah pintu masuk para penjagal bebek angsa. MySpace

* * *

Gue cuma berharap kejadian ini gak disiarkan. Maksud gue, bisa gak lu bayangin Kak Seto bakal ngapain kalo ngeliat tiga puluh anak remaja berjerawat yang menyanyi dan menari potong bebek angsa yang bodoh dengan muka yang bodoh dan diiringi tawa yang bodoh? Dia mungkin bakalan berasumsi gak baek seperti tayangan gak mendidik soal penyuluhan tentang arti kebodohan sesungguhnya.

Kenapa gue yang gagah ini berkata demikian?

Soalnya ada puluhan-lebih wartawan yang menyesaki aula yang dari sononya udah sesak banget malahan. Fajar Tv, TVRI, Gamasi, Fashionworld, National Geographic Channel, dan jangan harap gue mau nyari tau wartawan lainnya.

Semuanya sama, dengan rambut sok dirapikan, kamera di bahu, dan sebuah nota kecil di kantongnya. Melontarkan beberapa pertanyaan menjatuhkan, mengoleksi informasi rahasia, dan berusaha membuat beritanya selalu dinantikan. Semoga aja berita tentang peristiwa barusan di edit dan di format sehingga berjudul "Cuma di Smansa, MOS sambil potong bebek angsa" yang setidaknya kedengaran lebih baik dari kenyataannya.

Untungnya, suara emas sebuah bola raksasa bernama Clara cukup menutupi kemaluan (kata ganti darurat dari rasa malu) gugus kami dengan mengoleksi perhatian dan applause dari penonton.

Setelah semua gugus selesai, para juri masuk ke ruangan isolasi. Memilah-milih pertunjukan yang terbaik dan untungnya mereka gak mempertimbangkan membuat penghargaan gugus terjelek.

Kami gak terlalu mempersoalkan soal pemenang ajang pencarian bakat dadakan itu. Bagi kami, acara berakhir dengan ataupun tanpa penghargaan. Wassalam.

* * *

Hari itu cukup melegakan, gak ada materi sia-sia sama sekali. Hanya selingan games, hiburan tambahan yang banyak memakan korban, dan acara mengerjai terbalik-dimana junior yang mengerjai seniornya-yang membuat para senior menggeram kesal mengingat pesan pak polisi kemarin soal MOS yang damai dan tentram.

Akhirnya setelah istirahat, kami dikumpulkan untuk menghadiri upacara penutupan rangkaian acara Masa Orientasi Siswa yang menyenangkan selama tiga hari itu. Makasih baksonya, pak.
Di meja tampak hadir lengkap semua personil yang membuka acara pada hari pertama. Pak D, Mr. Sunlight, dan the magnificent eight.  Diapit oleh kedua puluh pendagus, guru-guru, dan senior yang gak jelas perannya sebagai apa disitu.

Jadi, setelah beberapa sambutan pendek dan doa syukur yang dipanjang-panjangin, kami ratusan anak baru diminta berjejer memanjang seperti ular di aula, gue berdiri paling depan di barisan ketiga dan merasakan atmosfir aliran kebingungan merayapi rantai tangan yang tersambung membentuk barisan panjang dibelakangku.

Para guru, pendagus, dan senior gak jelas itu sepertinya sudah tahu akan hal ini dan tanpa dikomando mereka berbaris memanjang dibawah panggung di hadapan kami.

Pak D kemudian meraih mikrofon dan mengucapkan semacam pemberkatan kepada kami.
Lalu diawali dari gugus terujung, secara bergantian menjabat tangan pak kepala sekolah, para guru, dan senior. Giliran gue sebentar lagi, kuperhatikan Pak D sepertinya menggenggam erat wibawanya dengan memperlakukan semua anak dengan adil, tanpa diskriminasi. Hanya sebuah genggaman erat dan doa. Mr. Sunlight kelihatannya kurang berbahagia, hal itu ditandai sinarnya agak meredup hari ini.

Guru-guru lain bermacam-macam, ada yang menjambak rambut, nyubit pipi, bahkan ada yang terlalu jual mahal hanya dengan anggukan arogan. Untungnya gak ada yang repot-repot nyium pipi.

Inilah saat dimana semua dendam kesumat terbakar habis, wajah-wajah senior yang sangar kini berubah ramah. Dan ketika sampai di barisan the magnificent eight, dihadapan kak ketua Osis (yang belakangan ini gue tau ternyata sepupu lain karungnya Modi), nyali gue menciut, gemetaran, dan takut. Namun, kali ini pemandangan sungguh berbeda, dia merangkul gue dan mengangguk bangga.Seumur hidup gue yang menyedihkan ini gak pernah sekalipun merasa diakui seperti itu. Gue serasa punya kakak laki-laki yang hilang. Kalo saja tempat itu gak disesaki ratusan anak yang saling bersenggolan, gue pasti kelihatan kikuk banget.

Setelah itu, gue dengan pedenya menghampiri senior-senior cowok selanjutnya, kak wakil ketua Osis, para pendagus lain, dan...gue berhenti di hadapan seorang senior cewek.

Gue bingung. MySpace

Kalo senior cowok-cowok ama guru-guru cewek maupun cowok mah gue berani menjabat bahkan (dengan ogah) mencium tangannya. Tapi ini kan cewek, manis lagi.

TAPI INI KAN CEWEK !! C-E-W-E-K !! MANIS LAGI !!
Sengaja diulang biar kelihatan tegang.

Gue ngerasa semuanya jadi gelap, persetan dengan mereka yang berteriak dan mendorongku dari belakang.

Tiba-tiba secercah cahaya datang dan menggapai tangan gue, lalu menjabatnya dan entah darimana keberanian itu datang, gue ambil tangannya dan menciumya seperti yang kulakukan (ingat? dengan ogah) pada senior cowok.

Dalam kurang dari sedetik yang mengerikan, gue membayangkan beberapa hal yang mungkin terjadi. MySpace

Namun dia mulai tersenyum dan menjambak rambut gue. Gue lega dan kembali pede menghadapi siapapun, mau cewek maupun cowok, walaupun memang sedikit takut menghadapi beberapa senior yang mirip bencong. Kami semua lebur dalam penutupan yang penuh emosi. Salam ribuan tangan.

Inilah acara jabat tangan terbanyak yang pernah gue rasakan, lebih dari ribuan kali jabat tangan saat itu. Tidak heran kalau telapak tangan gue terasa panas dan dingin dan pegal-pegal.

Oh iya, sebagai penutup, selama tiga hari ini gue belum merasakan aura senioritas di Smansa, doakan aja tetep begitu. Amin.<>

MOS#2 -> Ekskul yang mana, mana, mana pilihan elu?

click to go back...

Jam weker memukul keras hidung gue, meninggalkan sisi gelap yang lebam dan untungnya gak terlalu nampak. Sampai sekarang masih sakit loh.

Tapi penyakit ayang gue kumat ketika menatap ke arah jam yang menampilkan jarum panjang di angka 3 dan jarum pendek menusuk angka enam. Gue punya waktu tiga puluh menit jika gak ingin mendapat gelar 'pecundang lamban'.

Gue nyesel banget ngebangunin Bapakku secara gak etis, yang membuat speedometer mobilnya gak pernah berada di bawah 100km/jam dan liur gak berhenti mengucur dari mulut gue. MySpace MySpaceMySpace

* * *

Mungkin lo harus mulai memanggilku 'Luke'. Gue beruntung banget memasuki aula ketika para murid sudah bersiap ke lapangan upacara, dan dengan mudah gue praktekin kemampuan mimikri gue dan berkamuflase ditengah para siswa yang teladan. MySpace

Kami berbaris rapi menurut gugus masing-masing mengikuti instruksi kakak pendamping yang mulai membentuk barisan baru bagi manusia tak beradab ; pecundang lamban dan siswa tak bertopi. Gue tak bilang ini asyik, tapi melihat mereka sedang lompat kodok keliling sekolah yang membuat gue bahkan berharap lebih. MySpace MySpace

Setelah puas menghibur kami dan juga diri mereka sendiri, para pendagus mempersilahkan kaum tersebut bersatu dalam barisan dan kami bersama-sama duduk bengong menunggu pertunjukan pameran ekskul yang membuat semua anak tak sabaran. MySpace

Gue berhasil menghitung seluruh jumlah pendagus (sesuatu yang gak akan mungkin gue lakuin kecuali saat situasi seperti saat itu). Ini gak mudah loh, lu harus tau mereka bisa saja berada dimana-mana dan tentu saja butuh waktu yang tidak sedikit. Gue gak yakin, tapi kalo dihitung dengan anggota 'the magnificent eight', mereka semua berjumlah 28 orang secara eksak tanpa cacat.

Oh iya, selain kakak pendagus baik hati yang kemarin, gugus kami juga di dampingi seorang cowok seukuran laistrygonian dewasa. Kulitnya hitam mutung, tapi begitu imut. Kesimpulannya adalah 'Lostamasta'--Lotong sedikit tapi manis tawwa. Gue cukup lega mengetahui akan ada yang melindungi kami jika saja terjadi hal semacam chaos antar gugus.

Akhirnya penantian panjang kami terjawab dengan kedatangan segerombolan anak setahun lebih tua dari kami menggunakan jaket merah putih dengan garuda di dada nya. Paskibra Smansa.

nol satu !
Mereka memperlihatkan kelihaiannya dalam hal baris-berbaris dengan berbagai gaya, 01, panah asmara, bom, dll. Tapi seperti halnya Paskibra lainnya, kaku, robot, dan gue benci-banget-robot. Bayangkan jika saat ini manusia tengah gencarnya mengembangkan robot dan berusaha memainkan peran Tuhan mereka, mungkin di masa depan robot-lah yang mengambil tahta dan menjadikan manusia pion-pionnya. Manusia tengah berusaha memunahkan diri mereka...

Setelah itu, beberapa ekskul lain secara bergantian berunjuk gigi dengan disertai keluhan tanpa diminta :

  • Marching Band, fakta unik bahwa gue bahkan gak bisa memainkan satu pun alat musik dengan baik, ditambah gue gak pernah berpikir mau masuk ke barisan penari.
  • Texas (Taekwondo Smansa), gue punya pengalaman pahit dimana suatu hari demi mendapat perhatian teman-teman, gue menyusun tiga buah bata secara vertikal, mengumpulkan cakra di telapak tangan, dan berlagak seolah-olah arwah Bruce Lee bersemayam dalam diri gue. Gue memukulnya... dan berhasil meremukkan seluruh kuku jari guae.
  • BBC (Bawakaraeng Basketball Club), gue gak bisa menampik bahwa mempunyai sedikit pengalaman dan dasar yang cukup baik dalam hal ini, namun mungkin gue harus berpikir dua kali sebelum dipepet di tengah himpitan raksasa.
  • BFC (Bawakaraeng Futsal Club), menggiring dan menendang bola, cukup mengglobal, tapi cukup dengan mengkhawatirkan ribuan jiwa yang menunggu panggilan masuk tim--pengalaman smp
  • PMR (Palang Merah Remaja), gue lebih suka dirawat oleh perawat cantik dan seksi dan baik, titik.
  • Orzhat (Oryza Sativa/pramuka Smansa), gue kurang nyaman mengenakan baju coklat ketat dan ingat? gue bahkan lupa cara menyimpul tali sepatu.
  • Forzha (Photograph Smansa), datang di setiap event, membawa kamera berat, dan mengabadikan tiap momen manis, cukup menyenangkan, namun gak cocok sama sekali sama kebiasaan tidur abadi gue.
  • Perisai (Persekutuan Kristen Smansa), no comment--.
  • Imadam (Komunitas Remaja Masjid), pengalaman menjadi remaja masjid dekat rumah gue mungkin memberikan sedikit doa dan restu, namun mengingat jiwa pemuda yang masih bebas dan liar, gue gak bakalan memaksakan diri berwujud ustadz.
  • Citos (Cyber Community Smansa/iptek+robotika), mungkin ketika anak lain tengah sibuk membuat animasi serta web design, gue bakalan nangkring di blog sambil nulis uneg-uneg doang ato ngeliat foto-foto s-a-yur, dan apakah gue udah bilang gue benci robot?
  • Kalpataru (Pecinta Alam), gue cinta taman bunga mama, bertualang ke pelosok desa dengan sepeda, dan menyetel National Geographic channel, namun maaf... gue gak menjamin gue bakalan bisa ngebuang kaleng kosong tepat di tempat sampah.
  • SECC (Smansa English Conversation Club/English debate), sebagai lulusan Smp RSBI, mungkin membuat gue memiliki catatan sejarah bahasa inggris yang manis dan pastinya bisa berbicara banyak, namun disisi lain-terkutuklah-gue juga mempunyai catatan buruk dalam berdebat.
  • Kierzha (Mading), tempel-menempel dan menulis adalah hobi dasar gue, tapi menyadari sebagian besar anggotanya cewek, gue milih mempertahankan kejantanan gue.
  • Ganas (Gerakan Anti Narkoba Smansa), gue benci ama narkoba, namun gue lebih benci berkampanye.
  • Sanggar Seni, budaya daerah harus dilestarikan, namun menari bukan gaya gue.
  • Cheerleaders, bayangkan gue dengan lipstik pekat mengenakan baju ketat dan rok mini sambil menggoyang-goyangkan pinggul datar...tolong buang pikiran itu jauh-jauh.
  • Macz-man Smansa, semua siswa Smansa sudah seharusnya mendukung sekolahnya dalam lomba kan? Gak masuk ekskul ini juga bisa kok duduk di bangku suporter.
  • Osis, impian gue selain kawin, terutama masuk 'the magnificent eight', namun sebelum itu gue harus menyogok beberapa massa pendukung dan menduduki jabatan kelas, setidaknya.
Gue mulai frustasi soal oraganisasi dan ekskul. Mereka menyebar dan meracuni dendrit-dendrit di otak gue. MySpace MySpace

Setelah pertunjukan selesai, para pendagus menggiring kami kembali ke aula dan konsumsi mulai bergilir. Lalu mengikuti materi hari kedua dengan seorang pesulap gagal yang memilih jadi polisi dengan games 'botol kecap anti gravitasi'-nya yang membuat pendagus raksasa gue dikerjain basah kuyup dan benar-benar basah akan tertawaan kami. Sebagai penutup dia sedikit menekankan slogan andalannya,"pelanggaran adalah awal dari sebuah kecelakaan" dan sedikit pesan soal MOS yang aman dan tertib.

Setelah itu ditambah dengan suplemen 'tata krama' yang menyehatkan jiwa. Eh...makasih.

Gak lama-lama amat, segerombolan jompo' memasuki ruangan. Dan yang membuat gue nganga, mereka tua, stylish, dan berdasi. Mereka lalu berbisik-bisik dan bertatapan muka satu sama lain seakan mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui dan gue benci-banget-ketika orang melakukan hal itu.

Seorang dari mereka pun maju, dan memperkenalkan diri mereka. Mereka adalah utusan dari IKA Smansa. Yang sendirinya adalah sebuah komunitas khusus bagi alumnus Smansa agar dapat saling menjaga silaturahmi antar sesama dan selain itu turut andil dalam pembangunan Smansa kedepannya.

Setelah menyuntikkan morfin motivasi sepenuhnya sekaligus godaan beasiswa bagi yang berprestasi, sekaligus menceritakan pengalaman serta suka-duka selama berada di Smansa, kami mengucapkan terimakasih dan berjanji akan meneruskan generasi emas pengurus IKA Smansa nantinya. MySpace MySpace

Acara saeperti kemarin ditutup dengan sholat berjamaah lagi di mushollah dan-alhamdulillah-pulang dengan tenang tanpa beban acara pidato suka-duka yang bodoh.

Kami semua bahagia, jika saja acara membersihkan, ajang bakat, dan tugas merangkum materi ditiadakan, serta jika saja seseorang dapat tega menggampar Abu Bakar yang gak berhenti mengeluh dan membanggakan pidato konyolnya kemarin.<> MySpace


Jumat, 15 Juli 2011

MOS#1 -> Masa Osis eksiS

"SMANSA !!!"

Teriak laki-laki paruh baya bertubuh kurus itu dengan lantangnya. Tangannya mengepal dan mengacung tinggi ke udara, suaranya menggelegar memenuhi aula yang cukup luas untuk dijadikan gedung resepsi pernikahan. Bola matanya yang lincah memancarkan kecerdasan, menyala dan menusuk kami satu persatu. Wajahnya jenaka, tapi kali ini dia sangat serius, alis tipisnya nyaris bertemu dan otot gerahamnya benar-benar menggigit. mengingatkan gue pada para pemimpin demo.

Selanjutnya kami semua terhipnotis dan kesetanan, seperti terkontak jutaan volt aliran dari belut listrik bertanduk.

Dalam hitungan detik, kami bagaikan ribuan tawon yang kebingungan, sebelum para pendagus (pendamping gugus--red) mengajarkan cara membela diri dengan mengucapkan mantra,"JAYA !!!"

"SMANSA !!!", bapak kurus itu kembali menyalak.

Kami ratusan anak tangguh, menjerit balik, dan tidak mau kelah kencang,"JAYA !!!"

Berkali-kali, berulang-ulang, dan  beroktaf-oktaf, sampai tenggorokan gue mulai panas dan serak. Demi alasan bertahan hidup, gue ngerampas air mineral kemasan gelas punya seorang kawan segugus, dia kelihatan oke-oke saja mengingat dia punya satu-atau dua-simpanan air yang sama di tasnya. Hasil menjarah seorang guru tua. Telinga gue meringking, sementara kuperhatikan wajah kami swmua memerah menampung tenaga dan tekanan teriakan. Meja kayu di hadapan kami bergetar, bahkan lantai aula pun mengkilat, dibanjiri tumpahan air mineral dan sejuta liur yang ikut beterbangan seiring teriakan lantang. MySpace

Setelah merasa cukup, bapak itu berhenti dan mengambil napas dalam. Mukanya kembali jenaka dan bersahabat. Dia tidak sedang berproklamasi, atau merencanakan pemberontakan, demo, ataupun hal-hal lain yang memuat aura negatif. Dia dengan ikhlas membagikan sumber energi positif yang sangat besar dan meletup-letup. Kami merasa tersengat dan menikmatinya. Seperti kumpulan jerami kering dan rapuh di sebuah gudang kayu lapuk yang disirami bensin lalu terpercik puntung rokok, mulai membakar, memanas, dan bergairah. Bahkan disaat gue lagi galaunya mengetahui kenyatan pahit dimana rekor  manis ku yang serba VII.1 > VIII.1 > IX.1, harus terdampar di X.8. MySpace

Dengan wajah dan kumis lucunya disertai dengan senyum sepuluh senti terbingkai di wajahnya. Laki-laki ini tengah memotivasi kami semua. Sekumpulan siswa baru dengan celana dan rok yang melorot.

Laki-laki itu adalah Mr. Sunlight (berbicara tentang relevan antara sinar-matahari), kutahu dia dibagian kesiswaan. Mereka sangat pandai memotivasi murid, namun sebuah kutukan, mereka juga sangat pandai menghukum.

Inilah pelajaran berharga yang kami pelajari di hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa) di SMA Negeri 1 Makassar. Pemantik semangat yang efektif, menyalakan harapan yang redup dan membuka celah impian di setiap saat, di sudut manapun, dan oleh jiwa manapun di Smansa. A sendiri menyebutnya 'korek semangat' dan kami tahu kata ini bakalan menjadi suplemen energi berharga sampai kami meninggalkan sekolah ini. Bahkan akan kami bisikkan sendiri di setiap saat kelak.

Perkenalkan, gue salah satu putra Ranggong Dg. Romo, gugus 8. Gue pikir  akan cukup menghibur jika lo tau sejarahnya. Gue suka banget ama pendagusnya, dia baik dan gak maksa dalam segala hal. Walaupun gue nyaris dijewer di pertemuan pertama dengan ketua osis, akibat kakak baik hati itu menunjuk gue sebagai tangan kanannya dalam bidang mengabsen. Namun gue sedikit menggerutu mengingat teman segugus gue adalah sekumpulan anak gila yang cukup jahil. Namun-aku benci mengatakan ini-aku akui mereka sekumpulan anak gila yang cukup cerdas. MySpace

Di meja, tepat disamping Mr. Sunlight, kepala sekolah kami, Pak D (read : Pak Dzakaruddin), tapi ketika dia sedang berpidato dia kadang berdehem dan membuat kami kehilangan kontrol dan cekikikan) sedang membuka acara secara resmi. Disekitar mereka, duduk delapan orang berjas merah dengan papan nama emas dan logo resmi Smansa yang membuat mata kami berkelap-kelip...

anggota inti Osis Smansa.

Kusebut mereka 'the Magnificent Eight'. MySpace MySpace MySpace

Setelah pembukaan, mereka mulai memberi instruksi tentang upacara pembukaan MOS secara serentak di lapangan Karebosi. Dan menganugerahi masing-masing dari kami sebuah bendera merah-putih bertiangkan sedotan yang syukurnya berfungsi menyedot rasa malu kami.

* * *

Tidak seperti sekolah lainnya, yang mewajibkan siswanya langsung ke tujuan dan menunggu, Smansa sengaja memupuk rasa persatuan dan kesatuan lewat jalan santai dari sekolah menuju tujuan. Cukup masuk akal mengingat jarak sekolah ke tujuan cukup dekat. Aku suka cara ini.

Disana sungguh ramai, dan rapat. Para cowok melebarkan tangan dan para cewek menutup bagian dada mereka. Sungguh...
pemandangan luar biasa. MySpace

Kami mendapat lahan kami dan duduk sambil menunggu acara dimulai.

Kurang lebih 30.000 siswa berbagai kalangan hadir, dari SD-SMP-SMA yang memecahkan rekor Muri sebagai pembukaan MOS dengan peserta terbanyak. Dibuka oleh Walikota beserta artis-artis ibukota lainnya.

Lima menit pertama, kami sangat bersemangat. Menolak sana-sini kali aja ketemu temen lama, atau kalo nggak ya...nyari gebetan.

Lima menit selanjutnya, barisan makin merapat. Mencari bayangan raksasa yang dapat melindungi dari teriknya mentari pagi.

Lima menit paling kejam, korban mulai berjatuhan, air mineral tertumpah ruah, dan jiwa mulai meninggalkan inangnya.

Lima menit terakhir, gak ada yang cukup sabar berdiri di barisan.

Setelah acara-belum-selesai, banyak siswa menyebar bak tsunami yang begitu berantakan, semuanya menyeruak berusaha keluar kayak cacing kepanasan akibat berdiri tegak selama hampir sejam lebih. Untungnya gue sering nonton Naruto jadi cukup lihai melihat celah dan cukup seram untuk menakuti banci penganggu jalan sehingga kami bisa pulang hidup-hidup ke sekolah tanpa menjadi korban 30 ribu tumit kaki.

* * *

Sesampainya, para pendagus diberi misi khusus membawa kami untuk berkeliling sekolah yang tentu saja menjadi sangat menyebalkan. Bayangkan lo adalah Atlas yang dikutuk menanggung beban bumi yang sangat berat berabad-abad, dan ketika lo udah bebas dari kutukan itu, Zeus kembali mengutuk lo bermilenium lagi. Gue berhenti nulis kalo lo gak sebel.

Gue mengkhayal. MySpace

Gue bayangain apa yang taerjadi dua tahun mendatang-itu kalo gue masih idup-...

...mengenakan jas merah darah yang lebih pekat, rambut coklat ikal gue mungkin sudah agak lebat dan rapi, kelihatan lebih keren. Gue sebesar dan sekekar pemain rugby (mungkin jika mampu mengikuti ekskul basket, kalpataru, taekwondo dan pramuka sekaligus) dengan ekspresi merenggut permanen di wajah gue. Di dada bagian kiri baju terasa berat, menanggung beban logo Smansa yang berharga. Dan dada bagian kiri terpampang papan nama emas bertuliskan "Muhammad Shadiq" dengan jabatan sebagai 'wakil ketua Osis'. Ya, gue gak terlalu nafsu jadi ketua, bukan gaya gue.

Dua tahun kedepan, dan semoga itu terwujud. Amin MySpace

Namun, jika berani bermimpi demikian, maka setidaknya gue harus setidaknya fokus pada beberapa ekskul dan menjaring banyak massa pendukung. Tapi hingga saat itu, gue masih bingung menentukan pilihan. Gue cukup piawai memasukkan bola ke keranjang, namun sudah fakta Aslam jauh lebih superior. Mungkin juga cukup berbakat dalam bidang tulis-menempel, namun Aqilah mungkin memiliki tangan yang lebih lengket. Bahkan gue ngerasa cukup pede dalam speaking english, namun Rikpan lah yang bakalan berbicara banyak.

Jadi, pendagus baik hati memimpin tur keliling sekolah.

Dia meluncur penuh wibawa, walaupun mukanya agak berawa. Memandu kami melewati gang-gang sunyi yang menggema, melewati jalan setapak kering, dan berhenti dihadapan lonceng misterius yang tertempel di sebuah pohon asam dekat ruangan Osis.

Dia berhenti sejenak, ekspresi wajahnya berubah, kalo tebakan gue bener, dia mungkin merasa bersalah pernah mengencingi pohon itu.

Jadi lagi, perjalanan dilanjutkan.






Tanpa terasa kami kembali ke aula lagi.

Duduk dan menonton para pendagus yang membagikan konsumsi, kue sus dan segelas air mineral. Setidaknya. Lalu ketua Osis (gue mungkin pernah berbuat salah padanya) mulai memperkenalkan nama-nama guru, staf-staf pendukung, letak sekolah, mitos, penghuni gaib, dll, dll, dll. Cukup menyenangkan mengetahui banyak tentang Smansa, tapi jadi 'tidak cukup baik' ketika mengetahui fakta bahwa guru matematika Smansa rada berkumis dan menyeramkan (percayalah, gue punya beberapa pengalaman menakutkan yang menyangkut guru matematika) ditambah kantung kemih kepunyaan gue gak lagi kompromi dan berniat membuang 'sampah'nya.

Setelah menuntaskan masalah kecil, selanjutnya acara dilanjutkan dengan beberapa materi, diantaranya adalah 'Karakter Budaya Bangsa' dengan drama penuh nilai luhur dan 'Kurikukum RSMABI' yang lebih tepatnya -mendongeng- yang membuat gue berkali-kali ditegur secara acak oleh tatapan menikam kak ketua Osis, bisikan berdesing kak wakil ketua Osis berkumis jahil, dan senyuman kak wakil sekretaris yang manis. (ngomong-ngomong mereka semua adalah anggota 'the magnificent eight')

Adzan Dzuhur pun menghentikan saemua aktivitas bisu, memanggil jiwa-jiwa terkutuk ke rumah Allah s.w.t. MySpace

Sehabis sholat, setelah mengisi kotak sumbangan dengan *ikhlas* (sekedar berharap sesuatu yang ajaib akan terjadi), kami kembali ke aula sebelum pulang.

Dan... (sorry, pikiran gue udah mulai korsleting)

Pemandangan terakhir yang gue ingat adalah sebelum pulang, para anggota Osis mengadakan ekstra time dimana mereka menunjuk seseorang dan orang itu bakalan berpidato singkat tentang kesan-pesan hari pertama MOS yang konyol.

Dan lagi... (sorry, kehabisan akal)

Gue sempat gemetar, kak ketua Osis (oke, gue gak tahu apa lagi salah gue) sempat menatap tajam ke arah gue. Memang sih, gue sasaran empuk mengingat berada di posisi tegak lurus di hadapannya, duduk di barisan terdepan gugus, dan kenyataan bahwa...

gue memang gagah. MySpace


Oke, gue bakalan mengeluhkan soal kue sus yang agak keras, pikirku.

Namun, rupanya bukan itu rencananya..

Gue mencium pipi gue sendiri (gue bingung, sorry) ketika seorang anak bantet bergelar Abu Bakar ditunjuk dan jadi korban perdana pidato konyol itu. Dan yang gue lihat sungguh menyedihkan, dia menyukainya.

Cerita berakhir dengan bahagia mengetahui kami punya tugas merangkum materi yang bahkan tidak kami perhatikan dan Abu Bakar bakalan jadi anak kesayangan kak ketua Osis.<>

Minggu, 10 Juli 2011

Macet? Akibat ulah mahasiswa, sopir angkot, atau buaya putih sih?

"♫♫ lagu ini buat yang lagi macet !
yang mobilnya lagi kegencet !
pengennya lancar tapi gak bisa cepet !
padahal waktu janjinya udah mepet ! ♫♫"

ketat persaingan...
Lantunan suara personel Project Pop dengan lagu gelo mereka semakin membakar emosi ku. Rencana abis hunting sepatu + persiapan MOS, pengen banget pulang terus istirahat full seharian sehabis kegiatan pra-MOS hari ini. Semuanya hancur gagara macet panjang yang kira-kira memakan waktu selama 4 jam. Awalnya kukira ada semacam ulah gila an ekstrim seperti dalam video clip lagu 'Welcome To My Life' nya Simple Plan. (sekalian aja denger lagunya, gan !)


potret siswa termulia saat ini
Atau paling gak ya, demo mahasiswa yang semuanya pada nyalahin pemerintah. Belum tentu kan semua kesalahan ulah pemerintah? Setidaknya gak ngerugiin pengguna jalan, cari kek tempat keren buat demo. Di lapangan karebosi aja sana, sekalian jadi daya tarik wisatawan, kan?

Malu dong ama kita, adek adek kalian yang masih cupu ini. Jangan memberikan contoh jelek dong !


Gak sedikit juga yang nyalahin supir angkot. Emang sih, kalo soal ugal-ugalan dan ngebut, mereka lah jagoannya. Apalagi jumlahnya sekarang udah overload, ampe-sampe pemerintah pusing mikirin cara ngelebarin jalan sampe ada acara bongkar tanah paksa. Untung aja polisi sopan nan gagah walaupun sering nagih upah tilang yang senantiasa berjaga, take care, sir !

Tapi ada rumor yang paling menakutkan sekaligus aneh. Gosip itu yang paling panas dan cepat menyebar diantara mobil yang kegencet. Buaya putih Tallo lagi unjuk gigi !

creepy creatures...

Dari teropong ilmiah, ini memang memungkinkan. Dimana seekor buaya yang lahir normal seperti buaya lainnya namun dia memiliki sedikit keanehan, yakni menderita Albino, sehingga tidak dapat memproduksi pigment melanin yang memberi warna pada kulit, menyebabkan kulit buaya ini putih dan matanya berwarna merah. Cool...

nasionalisme banget ya? mata merah-badan putih

Di lain sudut, buaya putih juga menyimpan banyak sejarah dan legenda keren di setiap daerah yang mempunyai cerita masing-masing. Di Makassar sendiri, khususnya mengungkit keberadaan sungai Tallo yang disebut-sebut 'Kerajaan buaya putih'.

jadi ingat waktu diving bareng sambil nyari lobster
"Awal kisah, seorang ibu yang tinggal di bibir sungai Tallo, Makassar melahirkan sepasang bayi kembar. Semuanya bahagia sebelum ibu tersebut yang disinyalir bernama Ibu Halimah, mengetahui bahwa kembaran dari bayi perempuan cantiknya berwujud seekor buaya putih.

Ibu Halimah dan suaminya, Bapak Dg.Tunru memutuskan untuk melepaskan bayi mereka yang berwujud buaya putih itu ke sungai Tallo yang dipercayai sebagai kerajaan buaya, Sinrijala.

Namun 20 tahun kemudian, buaya putih itu muncul kembali seakan mengabarkan sesuatu. Namun 2 hari kemudian mayat buaya itu ditemukan dan membuat semacam tragedi macet ini.

Sebelum kejadian itu, Ibu Halimah bermimpi, bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita. Gadis itu diyakini sebagai perwujudan dari buaya putih yang mati tersebut.

Upacara layaknya seorang bangsaan yang meninggal duniapun digelar. Pasangan suami-istri tersebut mempersiapkan sesaji dan mengundang empat orang perempuan tua yang dipercaya sebagai turunan buaya putih. Salah satunya pernah kudengar berasal dari dekat rumahku, Tambasa.

Prosesi diawali dengan membakar dupa dan mengikat jenazah buaya itu dengan daun pandan. Sementara itu, keempat perempuan tua itu terus bernyanyi sambil memukul kendang.

Tiba-tiba mereka yang bernyanyi kerasukan bahkan ada yang sampai tercebur ke sungai. Upacara itu diakhiri dengan menceburkan bangkai buaya tersebut ke sungai yang dipercaya merupakan kerajaan buaya putih..."


Namun sudah beberapa kali ini buaya putih sering muncul di tempat yang sama, jembatan sungai Tallo. Dan sedang mencari tumbal, huahahahaha...