Rabu, 09 Mei 2012

Tanpa sebuah ketergesaan

Dalam ketergesaan,
aku berlari menuju kantin.


Bertumpuk tak rapi makanan, minuman, dan keringat di ruangan kantin yang kadang bisa terlalu seronok karena pejantan tangguh, terlalu absurd karena pejantan tanggung dan sesak karena pejantan tambun. Penuh celoteh dan perbincangan tak penting tentang harga dan kepuasan, kenyang-lapar, huruf besar-kecil, dan tanda seru dan liur dimana-mana. Kenyang akan kelaparan.




Tapi, begitulah, lapar menghidupkan mereka. Aku tak akan bisa protes, perutku juga. Tak akan pernah bisa meminta mereka diam, malah, kupikir, aku justru harus berjuang untuk kejayaan perutku dan rakyatnya. Bukankah lapar adalah bukti cinta pada diri sendiri?


Karena cinta itu pula aku ingin menceritakan bagaimana rupa cinta yang mekar dalam ketergesaan, dalam kelaparan, dan ketiadaan.


Kantin. Hari itu mendung diluar, dingin di kulit, dingin pula di hati. Menu biasa, mie goreng campur rasa plus teman-teman yang bahagia. Dalam himpitan rutinitas dan tugas yang padat, mereka masih berteriak gembira sesekali, berteriak kegirangan keseringan. Terkadang berada dalam parade tersebut aku merasa menjadi orang paling jaim sedunia, pasang pose sampil ngupil.


Aku kembali lapar dan terbenak kembali rasa cinta. Ah, sudah lama cinta lama tak menyapa. Cinta lama sudah mencintai cinta yang baru dan meninggalkan rasa cinta kepada cinta lama dari cinta lama tersebut. Sebuah frase rumit dari sebuah kalimat 'mantan' yang sederhana.


Tanpa ketergesaan,
kulirik muka teman-teman ku tadi satu-satu. Semuanya memang sudah terikat cinta, entah itu jadian, naksiran, atan gantungan. Kecuali aku yang masih pencarian. Sebuah fase setelah fase ketiadaan.


Diam-diam, aku berharap, memang ada cinta untuk ku hari itu. Entah diselipkan ke bawah pintu kamar, ke dalam buku yang kubaca, menyelinap masuk lewat inbox e-mail, atau sms? Atau datang secara terang-terangan, juga lebih baik.


Dalam ketergesaan,
seorang gadis datang dan memesan minum. Air putih, sederhana namun jujur. Kupandang dia dalam-dalam, dia tersenyum lalu pergi. Tanpa sebuah ketergesaan.


Campuran mie goreng, telur, tempe, semur, nasi dan seisi kantin tak mampu mengalihkan pikiranku dari sosok gadis tadi. Menarik. Satu kata yang melukiskan semua keindahan pada dirinya. Dalam ketergesaan, kuhentikan makan dan segera membayar. Kubiarkan angin menerpa wajahku ketika memburu bayangnya yang sudah menghilang.


Masih dalam ketergesaan,
aku terpesona pada rupa-rupa cinta dalam struktur sempurna gadis impianku. Terpesona pada senyuman yang mewakili tanya. Terpesona pada kejujuran dalam sebotol air putih.


Bukankah karena cinta, hidup pun memiliki banyak harapan. Harapan pun mencuat dari setiap ranting dari cabang pemikiranku tentangnya. Satu, tiga, sepuluh, dan seterusnya.


Dalam ketergesaan, aku memutuskan mewujudkan harapan pertamaku. Sebuah nama, tanpa nama maka apakah kata yang akan kupakai untuk memanggil semua harapanku yang lainnya?


Sungguh,
tanpa sebuah ketergesaan,
aku jatuh cinta.

Selasa, 08 Mei 2012

Untitled

Sebuah gambar buatannya di dalam catatan ku, sebelum kami putus.
Sebuah gambar buatannya di dalam catatannya, setelah kami putus.
Well, sebelum di tenggelamkan gue udah tenggelam duluan kok, hahaha. Sisi positif: Gambarnya di catatanku lebih bagus dan berwarna :)

Rabu, 02 Mei 2012

Untitled

Emptiness is killing me. Hits my face like the moon crashes the sun. Make a lonely ton of pain. So I gotta run, pick up my shotgun, and shoot everyone I hate to, intimidate everyone I love to, and knock everyone I don't want to. Ask them to end this show. Eeeny, meeny, miny, moe... . Fuck life. Fuck liars around me. Fuck noise. Fuck love.

All I need is some happiness. So I could stop to write this fucking words and fucking use it in everyfuckingwhere in this fucking sentence.

I hate when people say I am not happy. For me, happiness is a thing secretly combined with thousands of unfulfilled expectations. Unfilled, not yet. And I'm sure one day will be reached before the day that I die.

Or should I ask my parents to kill me now? They'd be glad to.

Selasa, 13 Maret 2012

Malaikat Tanpa Sayap

Biar lebih hikmat, kalau koneksi cepat ada baiknya diiringi dengan lagu ces.


"Dalam hidup, gak ada jaminan buat terus bahagia. Gak ada kepastian buat apapun, setiap orang bisa terlempar dari kotak rasa nyamannya itu secara tiba-tiba.." 

Alhamdulillah, gue bersyukur banget film Indonesia bergenre drama keluarga kembali menghiasi layar lebar tanah air. Film ini judulnya “Malaikat Tanpa Sayap” sangat pas ditonton oleh para remaja dan orangtua yang gak akur. Skenario film ini ditulis oleh Anggoro Saronto dan disutradarai oleh Rako Prijanto. Yang menarik dari film ini adalah banyak menampilkan dialog puitis, faktualitas hidup, dan jernihnya arti cinta yang sesungguhnya.



Film ini mengisahkan betapa berartinya sebuah keluarga. Makna terdalam dari cerita film ini mengajarkan kita akan arti pengorbanan dan perjuangan seorang remaja untuk keluarga dan orang yang dicintainya.

Kisah dalam film ini bermula dari kehidupan Vino (yang diperankan Adipati Dolken), seorang remaja tanggung yang berasal dari - mantan -keluarga kaya. Vino remaja normal ababil yang tak pernah peduli dengan permasalahan keluarganya.

Suatu ketika Ayah Vino, Amir (diperankan Surya Saputra) usahanya bangkrut karena ditipu oleh rekan bisnisnya. Rumah Vino disita Bank demi menutupi hutang ayahnya. Ibu Vino, Mirna (diperankan Kinaryosih) yang terbiasa hidup berkecukupan, tidak dapat menerima kenyataan itu. Mirna dengan tragis memilih meninggalkan keluarganya padahal ia memiliki putri kecil yang masih berusia 5 tahun, Wina (diperankan Geccha Qheagaveta).

Keluarga Vino harus menanggung semua akibat dari keterpurukan usaha Amir. Mereka terpaksa tinggal di sebuah kontrakan di lingkungan kumuh. Belum lagi ketika ayah Vino tak mampu membayar uang SPP Vino. Akibatnya Vino harus dikeluarkan dari sekolah. Di tengah situasi yang kacau itu, ternyata Wina mengalami kecelakaan. Wina terjatuh di kamar mandi. Akibatnya jika Wina tidak segera dioperasi, kakinya terancam diamputasi.

Pikiran Vino semakin kacau dan galau, ia bahkan sempat berpikir bunuh diri. Ia hanya seorang remaja biasa, yang tak tahu harus bagaimana lagi. Pura-pura tua untuk melewatinya atau pura-pura muda untuk menghindarinya. Ia sangat menyesalkan mengapa ayahnya membuat kehidupan mereka porak poranda. Di tengah kegalauan hatinya, Vino bertemu dengan broker bernama Calo (diperankan Agus Kuncoro). Calo menawarkan Vino agar ia mau menjual organ tubuhnya (jantung) untuk didonorkan kepada seseorang untuk menutupi biaya operasi adiknya. Vino yang tidak suka diberi pilihan malah marah, namun alasan Calo benar juga. Daripada bunuh diri yang sia-sia, lebih baik menguangkan hidup yang kita punya.

Tawaran Calo tersebut tak langsung diterima Vino. Vino dan Amir masih berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkan uang demi mengoperasi kaki Wina. Namun usaha mereka selalu gagal.

Pikiran Vino kalut. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ia menerima tawaran Calo tersebut untuk mendonorkan jantungnya demi mendapatkan uang. Calo memberikan uang muka kepada Vino atas persetujuannya menjual jantungnya. Dengan uang itu Vino bisa membiayai operasi Wina. Vino juga bisa menebus kembali rumah lamanya yang telah disita bank.

Saat Vino berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan operasi Wina, secara tak sengaja Vino bertemu dengan seorang gadis manis, Mura (diperankan Maudy Ayunda) .


Mura, gadis yang sebaya dengan Vino memiliki kehidupan keluarga yang hangat. Hubungan Mura dan ayahnya (diperankan Ikang Fawzie) begitu berbanding terbalik dengan kehidupan Vino yang selalu berselisih paham dengan Amir.

Perbedaan Vino dan Mura justru menjadi pelengkap bagi keduanya. Mura yang kesehariannya hanya memiliki teman di dunia maya dan mengikuti homeschooling itu merasa nyaman berteman dengan Vino yang memiliki banyak teman meskipun telah putus sekolah.



Hubungan Mura dan Vino semakin dekat dan akrab. Sejak mengenal Vino, Mura menjadi gadis yang penuh semangat dibanding sebelumnya. Ia nampak lebih ceria menjalani hari-harinya. Demikian pula halnya dengan Vino. Ia mulai peduli dengan ayah dan adiknya.


Kegalauan hati Vino mendadak muncul saat calo menagih janji Vino untuk mendonorkan jantungnya. Sejujurnya Vino belum siap memberikan jantungnya dan berniat mundur. Tapi bagaimana mungkin Vino bisa mengganti uang yang telah diterimanya dari Calo.

Masalah semakin pelik di tengah kegamangan hati Vino. Betapa ia ingin melanjutkan masa depannya dengan organ tubuh yang lengkap. Namun di lain sisi, Vino harus menerima kenyataan bahwa orang yang akan menerima donor jantungnya adalah Mura, gadis yang sangat dicintainya.

Untuk mengetahui siapakah malaikat tanpa sayap tersebut, silakan tonton film ini. Begitu banyak kisah mengharukan yang ditampilkan dalam film drama keluarga ini. Yang patut diacungi jempol adalah film ini tidak mengumbar adegan-adegan ciuman layaknya film remaja pada umumnya.


Film ini juga diiringi alunan lembut “Malaikat Juga Tahu” Dewi Lestari. Film ini serentak ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia tanggal 09 Februari, buruan nonton !

Terus mendukung perfilman Indonesia untuk bangkit. Tunjukan kualitas film kita. Masyarakat kita merindukan tontotan yang sarat edukasi untuk mendidik akhlak generasi muda bangsa ini. Bukan sekedar disuguhkan tontonan yang hanya mengumbar kevulgaran tubuh wanita, cerita-cerita mistik atau kehidupan glamour kaum jetset. (* + +)

Kamis, 01 Maret 2012

Annivailed

Hari ini gue seneng banget. Semua orang seakan senang dalam perayaan hari ini. Gue gembira, temen-temen gue gak berhenti mengucapkan selamat dan gue gak berhenti ketawa. Gue merasa seakan hari ini sekolah libur khusus buat gue, dalam artian anak-anak lain belajar dan gue molor. semuanya baik, normal sekali.

Pulang sekolah, gue dijemput supir gue pake pete-pete. Temen-temen yang tadi ngucapin selamat ke gue buat hari ini gue ajak naik juga, kasihan mereka gak pernah naik pete-pete. Mereka sangat berterima kasih, lagi-lagi mereka ngucapin selamat sampai gue hampir nangis karena gembiranya, semuanya baik, normal sekali.

Pas masuk di perumahan tempat gue tinggal. Gue ketemu sama adik-adik kelas gue di smp dulu dan mereka juga mengucapkan selamat, gue sayang ama mereka. Mereka masih unyu dan gue merasa mereka harus turut bahagia hari ini. Jadi gue traktir mereka makan bakso, gue makan baksonya mereka makan tusuknya, semuanya baik, normal sekali.

Sampai di rumah, gue jadi inget tahun-tahun yang lalu. Dimana gue juga pernah merayakan hari spesial ini. Dulu, waktu gue punya pacar.

Gue suka semua hal yang ada pada pacar gue yang dulu ini. Begitu banyak cerita yang gue lalui bersama beliau.

Gue ingat pas pertama gue jadian, hari itu adalah hari ini namun perayaannya berbeda. Saat itu orang-orang lagi merayakan hari kelahiran dia, Maulid. So, udah jelas kan kenapa nama belakangnya 'Maulidya'?

Oke, cara gue nembak dia sangat absurd.

Dia memperhatikan ustad, gue memperhatikan dia >> dia ngeluh tentang ceramah, gue berbisik tentang cinta >> dia ngangguk tanda terima, gue ngangguk tanda gak ngerti >> dia bisik cinta, gue malah ngeluh tentang ceramah >> dia memperhatikan gue, gue malah memperhatikan ustad. #krik

Dalam prosesi selanjutnya, pacaran kami sangat fantastis. Berbeda dengan anak baru pacaran lainnya, kami sangat akrab dan orang lain pasti berpikir kami bersaudara. Kami sering menghabiskan waktu bertiga. Gue, dia, dan setan yang selalu gagal menggoda kami untuk melakukan hal yang enggak-enggak.


Masa awal pacaran kami sangat indah. Layaknya remaja ababil yang normal, kami sering main persamaan dan perbedaan.

Dalam logika matematika, jika kami menemukan suatu kesamaan antarsatu sama lain, maka akan timbul pernyataan 'Kita sama, maka kita adalah jodoh'. Dan ingkarannya, jika kami menemukan banyak perbedaan, maka akan timbul pernyataan 'Perbedaan dan tidak sama lah yang membuat kita saling melengkapi'.

Kesimpulannya, apapun yang kami temukan baik itu kesamaan maupun perbedaan maka hasilnya tetap saja saling mencocokkan satu sama lain. Begitulah, gue bersyukur gue udah dewasa dan melewati fase alay ini.

Salah satu dari banyak persamaan semu yang kami temukan adalah kami jarang sarapan di rumah. Sebagai pasangan yang selalu sibuk smsan sampai begadang, kami tentu gak akan sempat bangun tepat waktu untuk sarapan. Jadi kami selalu sarapan di kantin sekolah, tiap pagi, bertiga bersama tante kantin.

Dan salah satu dari perbedaan jelas kami adalah gue suka membaca novel dan dia seneng ngembek kalo gue lagi membaca. Sampai sekarang gue masih bingung, kenapa ya cewek-cewek sering cemburu dengan benda-benda mati? Semacam buku, futsal, game, dan lain-sebagainya.

Namun yang akhirnya gue mengerti adalah mereka butuh perhatian, sepenuhnya dan hal itulah yang berusaha gue lakukan. Gue selalu berusaha perhatian buat dia. Walaupun gue tau perhatian gue gak akan pernah cukup dibandingkan perhatiannya.

Semakin lama, kami semakin tak terpisahkan. Begitu banyak problematika yang menguji hubungan kami, mulai dari munculnya rasa cemburu dan posesif yang tinggi, gosip yang miring, sampai yang paling serius kami pernah di fitnah dan berurusan dengan guru.

Gue gak akan pernah lupa dengan peristiwa itu. Saat-saat dimana gue sama doi disidang, walaupun tersudutkan dan dikepung tatapan guru yang dingin kami tetap berpegangan tangan. Saling menenangkan dan membela satu sama lain hingga masalah selesai dan guru tersebut meminta maaf.

Cinta, itu yang membuat kami tetap bertahan. Dan apakah yang akhirnya membuat kami berpisah? Waktu kah?

Begitu banyak cerita yang ingin gue ceritakan, semua yang terjadi kemarin akankah terulang hari ini. Namun sayang, hari ini hanya terdiri dari 24 jam yang gak akan pernah cukup menceritakan semuanya. Biarkan aku tetap bercerita tentang kenangan, biarkan kenangan tetap bersemayam dalam hati. Walaupun mungkin besok gue akan mencari cerita baru, memulai halaman baru tanpa namanya.


Oh iya, hari ini masih hari Kamis tanggal 1 Maret 2012, hari Kamis yang baik, dan normal sekali. Dan perlu kalian tahu, gue seneng banget semua orang merayakan hari "HAPPY *failed* ANNIVERSARY" ini. Selamat malam.

Kamis, 09 Februari 2012

I'm with her, Mom

Aku galau, aku sedih, aku menderita. Aku terima.

Dia bahagia, dia senang, dia tertawa. Aku terima.

Tapi...

Innalillahi, Wainnailaihi, Rojiun. Aku gak terima.

Disaat-saat harusnya dia bahagia, dia senang, dia tertawa, mengapa Engkau membuatnya menangis, sungguh bukti kekuasaan yang Maha Tiba-Tiba nan pahit.

Ini kali keempat aku harus menyaksikan teman-temanku kehilangan orangtuanya di depan mataku. Kali keempat dari yang nggak pernah kuinginkan. Dan yang satu ini begitu berbeda. Dulunya dia adalah calon nenek dari anak-anakku yang gak akan pernah lahir lagi. Dia salah satu dari sedikit orang yang percaya padaku.

Beberapa jam yang lalu, seorang ibu meninggalkan anak gadisnya, suaminya, keluarganya untuk selamanya. Menggantung senapan berat yang selalu dipikulnya, terbaring tenang setelah perjuangannya, membela dan melatih anak-anaknya. Sesuatu proses yang membutuhkan taktik perang yang hebat.

Matanya hitam keabu-abuan, penuh kewaspadaan dan angin badai, seakan-akan selalu sigap untuk menerkammu disaat lengah. Tapi sekaligus memancarkan keanggunan, pengetahuan, dan rasa percaya diri yang tinggi.

Rambutnya keriting berliku-liku, susah ditebak. Alisnya tipis berkabut, halus dan penyayang, namun selalu punya cara lain untuk menunjukkannya. Wajahnya bulat, tapi senantiasa membentuk siku penuh ketegaran.

Aku merindukanmu, bu. Disaat dimana kau menelpon dan mengirimkan pesan ketika khawatir dengan anak gadismu, dan kau menyuruhku agar tidak memberitahukan itu pada anakmu.


"Yang penting modi baik-baik saja, nak", katamu.

Selalu mengingatmu, bu. Disaat pertama kali kau mendapati kami sedang bermesraan di tangga mal. Kepercayaan, itu yang kau ajarkan saat itu.

Takkan kulupa, bu. Disaat aku mengantarkan anakmu pulang tanpa pengaman motor dan kau marah-marah karena khawatir kami akan terjadi apa-apa. Aku malu, bu. Saat itu aku berjanji akan mengantarkan anakmu dengan mobil mewah dan aman suatu hari nanti.

Aku rindu, ibu.

Lihat betapa miripnya dia denganmu, bu.

Maaf telah banyak sok tahu tentang dirimu, ibu. Tapi terima kasih telah melahirkan dewi yang sangat indah di muka bumi ini, ibu. Seorang gadis muda yang keras dan tangguh sepertimu. Terima kasih telah melatih dan merawatnya, sehingga aku bisa belajar banyak hal dari dirinya. Sesungguhnya tidak ada ibu yang lebih beruntung di muka bumi ini selain dirimu. 


Seorang ibu yang bahkan lebih baik dari ibuku.

Dan ketika tiba saat di mana pamakamanmu tiba, aku akan menjadi orang yang paling pertama percaya bahwa kuburan tersebut adalah jejak seorang malaikat.

Memang benar orang baik capat mati. Semoga diterima di sisi-Nya, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Untuk seorang menantu gagal yang mencintai kesuksesan mertuanya. Dan oh iya, sekarang anakmu sudah menemukan pengganti ku. Namanya Billy Bobby Putra, dan aku percaya dia sangat baik untuk anakmu.

Tapi tentu saja, aku selalu disini. Tiga bangku disampingnya, mengawasi dan mengaguminya. I'm with her, mom. I'm with her.

Kamis, 26 Januari 2012

Capek

Gue mulai menyerah mengikuti langkah mantan gue yang move on nya cepat banget itu. Gue merasa ketinggalan karena apa yang beberapa minggu belakangan ini gue lakuin cuma menjadi 'hantu' di hubungan mereka. Setiap beberapa menit gue gelisah, gue merasa harus nge check timeline mereka, menyaksikan bagaimana cinta tumbuh dalam garis waktu yang singkat. Timbul satu pertanyaan, yang seharusnya gue sendiri bisa menjawabnya. 'Apakah dia benar-benar cinta dengan cowo itu?'

Gue mulai sadar, gue harus berhenti menjadi 'hantu' yang bergentayangan di timeline kalian. Berhenti jadi bayangan pencemburu yang cuma diam. Berhenti menjadi seseorang yang selalu menyalahkan dirinya atas kegagalan dalam suatu hubungan. Gue harus bergerak.


Sekarang gue belajar bagaimana hidup sendiri, dimana orang-orang disekeliling gue belajar bagaimana hidup berdua. Setengah hidup disaat orang-orang diluar sana saling menghidupkan.

Sayang, butuh waktu yang lama hanya untuk membuat gue merasa baikan. Untuk mengingat bagaimana mengembalikan cahaya dalam mata gue.

Hingga akhirnya gue udah tumbuh menjadi sangat kuat, sangat kuat untuk tidak kembali sama lo lagi.

free counters