Senin, 04 Juli 2011

Area 71, beware of the dangerous idiot #1

Pagi ini aku dibangunkan oleh Bapakku dengan alasan yang kurang menyenangkan,"tolong pasangkan dasi adekmu !".

Setelah mampu menguasai diri dan memfokuskan lensa mata, aku mencoba memasang dasi itu di leher adekku, but wait, i forgot how to tie a tie !! (i really mean a tie). Dia pun beringsut sambil menggerutu soal terlambat materikulasi. Oh my god, adekku tumbuh dengan cepat dan sekarang dia udah menginjak bangku smp. *hiks

Aku jadi teringat beberapa kejadian ajaib bin gokil yang terjadi di tahun pertama sekolahku di smp, mumpung lagi in a good mood, mending di ceritain :

-- Modi? Seems Familiar --

Sadiq : dilingkari, barisan paling bawah kedua dari kanan
Modi : barisan paling atas sudut kiri
Bapakku adalah tipe orang yang mudah akrab dengan siap saja, talkative, charismatic, dan mungkin ia pernah menjadi salesman pikirku. Jauh berbeda dengan pribadiku waktu itu yang pendiam, uncomunicated, dan tertutup.

Hari itu adalah pertemuan calon siswa baru di SMPN 12 Makassar. Dan secara tidak sengaja, bapakku bertemu dengan teman lamanya mungkin? Tapi ketika kuperhatikan wajahnya tampak familiar. Tapi menurut ingatanku seharusnya di pangkuannya duduk seorang gadis imut yang cantik. Where's she?

"Modi, ini Sadiq eh teman TK mu dulu !", teriak ibu itu.
Di sudut tergelap di kelas itu, disitulah dia sedang duduk di samping seorang cewek dengan gaya rambut yang aneh, mungkin Bob (ngomong-ngomong dia Irma 'Cimoot') dan mereka sedang memandangku sinis.

Aku benci itu, sekan aku punya salah pada mereka. Aku pun menarik tubuh bapakku dengan alasan mules. Setelah mohon pamit sama teman ngomongnya pas nungguin aku dan Modi pas TK, kami pun meninggalkan kelas dan tanpa lupa, aku memberikan tatapan ancamanku kepada dua orang tadi, terutama Modi.

Dan kini baru kusadari kalau waktu itu aku baru saja menerima dan memberikan tatapan cinta kepadanya.

-- Dipenogoro's troops -- 

kengerian apa yang telah
merubahnya jadi begini?
Kelas begitu hening dan sepi, kami semua hanya bertatap muka karena belum saling mengenal dan kenyataan kami sedang berada dalam tahap MOS (Masa Orientasi Siswa). Beberapa yang kukenal adalah Apip, Aco, Dirham, dan Hilmy, itupun karena kami masih berhubungan darah sesama lulusan dari SD Inp. Kampus Unhas/ Unhas 1. Juga Amir dan Rikpan yang kukenal dari hasil usaha SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) sewaktu tes, seorang lulusan Al-Ashri dan SD Inp. Daya yang baik, ceria, dan bersinar (saat itu).

Namun keadaan tadi meleleh bersama kedatangan lima ksatria matahari, Kak Ahmad Razak, Kak Iin, Kak Riri, Kak Ghea dan Kak Auno Rofiq, thanks velo udah ingetin. Mereka lah pemimpin kami, pendamping gugus I, gugus Dipenogoro.

"like we got a supranattral senior that can hipno us become a creative, brilliant, funny, cheerfull, religious, naughty, and fucker student", komentar Amir dan menurutku dia benar.
Kecuali dalam agenda mereka tidak ada acara 'cabut-cabut-cha-cha-cha' yang memberikan motivasi sehingga semua lulusan 7.1 rata-rata memiliki tingkat kelalean yang tinggi. *ngelirik Apip dan Amir

Kami bersyukur mendapatkan pendamping seperti mereka. Selain kreatif, mereka juga menyenangkan dan nggak ngebosenin. Dan itu akhirnya memberikan hasil yang baik ketika gugus kami, dengan menjadi juara 1 dalam lomba gugus terbaik tahun itu dengan yel-yel "we're dipenogoro's troops" hasil adaptasi lagu "anak gembala" nya :

"We're from the group..Dipenogoro..always cheerfull and brilliant too..we ready to get the challenges from you, and exactly we're the winner...Lalalalalalalalalalala"

-- Aco pelari marathon dengan celana merah ketatnya --

Pagi itu aku termasuk penghuni awal kelas, namun masih belum bisa mengalahkan Rikpan dan Apip yang lebih purba kedatangannya. Kami hanya ngobrol-ngidal-ngidul hingga seorang anak berambut cepak dengan celana SD diselubungi baju SMP yang kelihatan absurd yang sontak membuat kami bertiga menggelinjang karena tertawa.

Namanya Aco dan dia dalam bayang-bayang tertawaan kami, dan sekedar info hanya sedikit yang bisa lolos dari kenyataan itu.
Untungnya dia punya cukup semangat dan energi untuk tak memperdulikan kami dan berlari marathon sejauh kurang-lebih 1 km pulang-balik rumah-sekolah dalam 5 menit dan terlihat cukup jantan untuk mengikuti upacara penaikan bendera kami yang pertama.

-- Ipul, korban kuntilanak sesungguhnya --

Deli adalah anak baik dan murah senyum, walaupun tidak semua orang membutuhkannya.

primary victim
primary suspect
Long, long time ago...hiduplah seekor Deli duduk termenung memandangi kolam ikan sekolahku yang semakin lama semakin menghijau, dan takkan berubah selama ia duduk disitu. Tidak lama kemudian, lewatlah seekor Ipul dengan gaya khasnya, jalan tegak dan sering memegangi rambutnya yang seakan setiap ia memegangi rambutnya ia akan terlihat lebih gagah. Namun menurutku hal itu berhasil pada Deli. Menurut Deli, Ipul waktu itu rada-rada too-cool deibandingkan saemua cowok di dubels. (bisa kuterima)

Setiap kali upil, maksudku Ipul lewat di koridor depan kelasku, serentak Deli mempersiapkan vocal group nya yang beranggotakan Jusma, Ulul, dan Amir. Lalu mulai meluncurkan melodi serak yang berbunyi,"Ipuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul !" disertai bunyi *tiiiiit*  yang berlangsung selama beberapa detik yang mengerikan yang mengakibatkan seisi kelas lumpuh untuk sementara.

best friends ever

Jadi kesimpulannya, setiap kali Upil-nya-Ipul lewat di depan kelas kami, maka bencana besar akan mengiringinya. (sekarang aku tau alasan mengapa Ipul lari kocar-kacir ketika mendengar panggilannya Deli)

Walaupun kelihatannya nggak terlalu seriusa, aku tau jauh di lubuk hati Deli, di bagian tergelap yang tak tersentuh kebaikan sama sekali, di antara himpitan kenangannya bersama Apip, Amir, Aco, Mega, dan Rikpan yang pernah dia kasihi, adalah Ipul saebagai first-love-never-die-is-the-best-of-the-best-nya Delilot.

-- Monokuroboy versus Mr. Shoot-it --

Itu mah cerita lama dimana suatu hari seorang anak yang genit bernama Apip 'Monokuroboy' and the gangs yang sedang mengikuti ulangan matematika. Dan yang sedang menulis di papan tulis tentu saja seorang guru matematika bernama Mr. Shoot-it (kata sapaan untuk menggantikan nama sesungguhnya, entah darimana kata itu di dapatkan, namun aku yakin penemunya adalah Rehan dan kami sedang latihan shoot).

little monokuroboy
Ketika selesai menuliskan soal, Mr. Shoot-it pun berpesan,"jangan lupa tulis nomor absensi dan Nis kalian".

Tiba-tiba beberapa kaki dari bangku ku mengacungkan tangan dan bertanya,"nama iya, sir?", tanya Apip dengan nada mengejek diikuti gelak tawa Rehan yang sakral,

Untuk beberapa detik kukira Mr. Shoot-it akan membalas,"iya, nak", dengan muka innocent nya atau setidaknya,"tentu, kecuali kau bayi besar berpopok yang hilang dan tak punya nama, sedangkan kami sekelas ini sedang makan gulai kambing di hari akikah mu", candanya.

Tak disangka ternyata Mr. Shoot-it menganggap apa yang barusan dilakukan Apip itu sebagai salah satu bentuk 'pemberontakan dan pencemaran nama baik guru oleh murid' (singkatnya 'patotoai').

Dengan wajah berubah 180 derajat, Mr. Shoot-it pun mengeluarkan ultimatum permusuhan kepada Apip dan mengeluarkannya dari kelas saat itu.

Apip yang malang (aku mulai suka anak ini). Jika saja aku bisa mencegahnya dan membisikkan kata-kata yang lebih lembut, mungkin sekarang ia tengah duduk di bangkunya dan kami sudah memulai 'operasi pemencaran kode aritmatika' yang kemudian dipersingkat menjadi 'nyontek'.

click to continue...