Jumat, 02 Desember 2011

Megananda Septianto

Mengawali harinya sebagai manusia darah campuran Bugis-Jawa pada tanggal 22 September 1996, di sela-sela ilalalang dan padi di kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, dari rahim seorang ibu, Heli yang ditemani sang suami, Lulus Karsono. Pria humoris ini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dengan diasuh oleh nenek di kampung, sebelum akhirnya hijrah ke Makassar untuk bersatu kembali dengan kedua orangtua dan adik perempuannya.

Selalu berusaha menjadi manusia pembelajar dan tak pernah berhenti untuk berkawan dengan buku dan pena sejak memulai riwayat pendidikannya dengan memasuki Taman Kanak-Kanak Cahaya Ilmu Sidrap, lalu SD Inp. Paccerakkang Makassar, naik tingkatan menuju SMP Negeri 12 Makassar, dan sedang belajar mati-matian agar cukup layak disebut manusia di SMA Negeri 1 Makassar.

Pria yang terkenal sangat kritis ini mempunyai hobi membaca buku, nyanyi, joget, bermain futsal, dan ngaskus. Selain itu, ia juga hobi bermain airsoftgun, trade dueling card, dan blogging. Mempunyai sifat dominan karnivora yang sangat membenci sayuran, telur, ikan, dan seafood lainnya.

Selain itu, pria ini juga seorang yang sangat aktif dalam berorganisasi. Tercatat ia termasuk anggota grup vokal kawakan Trio OVD, Kaskuser Makassar, Kancut Keblenger, Drama musikal, Pasukan pengibar bendera (Paskib), dan Karya Ilmiah Remaja (KIR).


Orang hebat adalah orang yang mengidolakan orang yang hebatAde Wibowo”. Demikian kata mutiara tersebut terjadi pula pria ini yang mengidolakan kiper utama klub Chelsea, Peter Cech dan vokalis band Queen, Freddy Mercury.

 

Walaupun merasa tidak romantis dan mempunyai catatan sejarah kisah cinta yang selalu berakhir tragis dan menyeramkan, setelah ditolak diberbagai genre kisah cinta sebelumya, akhirnya pria yang juga jago baca puisi ini dapat merajut kisah cintanya sendiri setelah cukup depresi malang melintang mencari cinta.


Pria yang imut ini mempunyai cita-cita menjadi seorang pakar telematika dan psikiater. Dan sepertinya hal tersebut bukan merupakan hal yang sulit, mengingat semua prestasi hebat yang telah diraih oleh jagoan Kimia ini. 

Sebagian kecil prestasinya adalah juara 3 pada lomba model busana muslim dan juara 2 lomba lagu daerah saat ia berusia 6 tahun, juara umum lomba tusuk botol pada usia 9 tahun, juara 1 lomba “British Fair” saat duduk di bangku Smp kelas 2 dan yang terakhir turut berperan dalam menyabet juara 1 pada lomba baris-berbaris Smada competition.

 

Demikianlah sebuah bingkai sederhana mengenai seorang pria yang hidup berdasarkan cinta dari orang yang tersayang dan kaskus, hidup dengan membayangkan dirinya sebagai Roy Suryo, dan berbagai prestasi yang didukung kemampuan melamun yang hebat. (*)

Kamis, 03 November 2011

Hujan pun berhenti...

Debat sore tadi panas banget. Motion-nya tentang "This house would recommended the underage to purchase liquor and condom". Untungnya gue dapet posisi 1st speaker di Opening Opposition team, pas banget dah, akhir-akhir ini jareng banget dapat kubu yang kontra. Malas gue sejalan ama Government mulu.

Dapat diartikan menurut pendapat masing-masing.

Jadi, debat selesai. Gak usah nanya tim mana yang menang, abisnya takut sombong nih. Entar orang-orang pada su'udzon mengenai abang gagah ini.

Langit menyeka tangisnya, dibarengi dua-'shit', sial, gak tega gue bilang 'teman', buru-buru gue lari sebelum langit keburu nangis lagi, gak tega gue pulang barengan 'shit-shit' ini.

Tapi di tengah jalan,

*kriiik, kriiik, kriik*...

Gue gak pernah tau bunyi perut si Rehan kalo lagi ngamuk separah itu.

Kemudian, *PING!!!*...

Gue juga kaget kalo bunyi perut si Miftah bahkan gak kalah jayus dibandingin si perut jangkrik di atas.

Dan akhirnya,

*prooot*...

Semuanya hening.

Ternyata bunyi perut gue yang paling mengundang kontroversi dan penyebab polusi suara terbaik. Langit sampe-sampe sempet ngancem bakalan nangis kalo gue kentut lagi.

Kami laper. Semuanya tercermin dari warna aura perut kami yang saling membuncahkan dan meracaukan kemarahan serta kegalauannya.

Sayangnya, anceman langit tadi beneran. Langit nangis sejadi-jadinya, membuat kota Makassar kembali Basah Mami.

Kemudian.

Rencana awal :
naek angkot, singgah di warung coto, makan sampe pegel. Sialnya, hujan-merem gini sopir pete-pete-angkot jadi nyeuh buat susah-susah ngambil anak-anak sekolah yang terlanjur basah mami gini.

Rencana cadangan :
lirik sana-sini nyari warung kaki lima deket jalanan, makan seadanya, dan pulang seadanya, seperti yang telah digariskan Tuhan secara seadanya.

Mata gue perlebar, Miftah mulai menggunakan instingnya, dan Rehan sepertinya mulai mendengus sesuatu dengan hidungnya.

Sepermili-mikro detik berlalu, Rehan telah sampai jauh di ujung sana. Di sebuah toko sekaligus warung bakso dengan label "Sentosa". Tanpa menunggu persetujuan dari kami, pelari cepat itu kemudian memesan tiga mangkuk bakso.

Bakso.

Bulat, kenyel, penuh, kental, sintal, hangat, dan bikin ketagihan. Apalagi hujan, di pencet sana-sini pasti asyik. Jadi gak tahan.

Semuanya aman, dari jauh. Namun semakin dekat, gue jadi semakin parno.

Jualnya Bakso, yang jual originally tionghoa mata rapet pake kalung perak yang mencurigakan, dan ternyata punya sepasang dalmatian galak yang kelihatan serakah. Dan anjing dalmatian ini gak bakalan seimut film animasi garapan Disney, dalmatian ini kelihatan lapar, dirantai, dan tentu saja nyata.

Gue memandang Miftah yang sama bingung dan cemasnya disamping gue, Miftah memandang Rehan dengan harapan kosong, dan-sialnya, Rehan sedang memandang proses penyiraman kuah bakso dengan seriusnya.

Dan inilah kami, duduk dengan masing-masing semangkuk bakso di depan wajah kami. Masing-masing dari kami berkelut, dan saling mamandang satu sama lain.

Sekilas memang gak ada yang aneh dari bakso-bakso imut ini. Tapi jika didalami dengan seksama, melihat kondisi eksternal disekitar kami sekarang, dengan si Tionghoa, sepasang dalmatiannya, dan kalung perak anehnya, ditambah lagi jumlah bakso yang ada di piring itu cuma tiga. Cuma T-I-G-A (sengaja diulang biar tambah mencekam) dan semuanya hitam pekat dan agak keras. Selain itu kuahnya-begitu berbeda.

Kecurigaanku berada di ujung tanduknya, kupikir kami tengah menghadapi saat-saat terdekat kami antara bisikan setan dan rengkuhan Tuhan, atau lebih buruk, tidak keduanya.

Di sudut pandangku kulihat Miftah sedang membentuk simbol tangan bersiap untuk berdoa sebelum menyantap hidangan seperti apa yang mungkin kami kira, memohon ampun atas keterpaksaan serta kesalahan situasi, tempat, dan suasana.

Begitu pula dengan Rehan, namun sekelimit kudengar sayup-sayup, ternyata dia nyengir,"lima ribu bede, baru tiga ji baksonya, ya Allah...Cina takkullei nobo'"

Mungkin di situasi normal, kami bakalan menganggapnya sebagai sebuah gurauan. Tapi hei, sulit untuk menikmati gurauan saat hidupmu sendiri bahkan terasa seperti salah satunya. Kami sedang berhadapan dan cukup tergoda dengan apa yang sejauh ini kami asumsikan sebagai bakso babi.

Itadakimasu... salam dari tuan babi...

* * *

Yang terdengar dari tempat itu hanya dentingan sendok dan garpu yang saling memukul sama kerasnya dengan mangkuk, kami hanya ingin makan dengan tenang dan tanpa rasa bersalah sekalipun, lalu membayar dan pulang dengan damai. Sekali lagi, cuma menjalani proses alamiah manusia, makan, dan bukan menikmatinya.

Untungnya, setibanya di angkot, Rehan yang paling bijaksana diantara kami kemudian menafsirkan kejadian dengan positif dan membuat sebuah kesimpulan yang cukup menenangkan.

"Apa poe kalo jadi Tai mi..."

Jumat, 21 Oktober 2011

#1310

Dimana-mana banyak pasangan berduaan. Tetapi bagaimana mereka sampai bertemu, bagaimana kisah mereka bermula, gue gak peduli. Gue punya kisah cinta yang patut gue kenang selamanya.

Kudapati diriku memandangnya, tindakan ekstrem yang sudah kulakukan bermiliar-miliar kali. Tingginya dan aku hampir sama akhir-akhir ini, dan hal itu bahkan terasa lebih melegakan.

Hampir.

Sayangnya, secara eksak dia-sedikit-lebih tinggi dariku.
Rasanya sedikit mengintimidasi.

Tapi dia manis.

Oke, maksudku-memang-dari dulu dia imut, tapi dia mulai jadi cantik banget. Biasanya kami gak bakalan bisa memulai suatu interaksi cinta tanpa sebuah ajang baku hantam, dan memang itulah kenyataannya. 

Aku cinta dia, dia cinta aku. Gak satupun dari kami yang mencintai mereka. #abaikan


Kalo diingat apa yang telah kami lalui selama ini, rasanya pengen nangis. Begitu banyak perkelahian, penginjak-injakan, penindasan, dan tangis. Namun kadangkala, kami sering bercanda dan tertawa-menertawakan orang lain, membisikkan kata-kata cinta, dan merangkai mimpi-mimpi indah.

Semuanya dilakukan dengan cinta dan rasa bahagia saat itu, setidaknya gue harus bilang gitu, kalo nggak Modi pasti bakal membunuh gue.

Stop.

Gue jadi ingat saat pucuk-pucuk cinta pertama mulai merekah. Bersama putri Maulidya, ketika matahari sepanas-panasnya di awal tahun. Di negeri Gorens, kerajaan Opera Van Dubels, kami dipertemukan.

Seorang dukun jadi-jadian, terpaksa gue sebutin, Deli Datu Arung-lah yang mempertemukan hati kami. Bertindak sebagai mak comblang, biasanya dia minta beberapa tumbal. Walaupun berat dan beresiko, setiap istirahat jam pelajaran terpaksa gue berkorban duit demi beberapa snack.

Emang sih, gue ama dia udah kenal lama, sering SKSD juga, tapi baru pas itu gue ngerasa lain banget. Sesuatu dalam diri gue menggeliat dan memberontak.

Gue jatuh cinta. Sudah pasti bukan sama si dukun goblok.

Jadi, akhirnya kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Smsan, telponan, ngerumpi, sampai makan nasi goreng sepiring berdua yang samasekali gak romantis karena faktor bokek nya si gue.


Saat itu, rasa canggung masih melingkupi kami berdua. Kami bagaikan singa yang haus cinta kalo lagi smsan atau telponan. Tapi kalo face to face, gak lebih dari sepasang kucing kecil yang mau pipis.

Tapi lambat laun kami semakin dekat, akrab, dan menyatu. Hati gue cuma buat dia, hati dia cuma buat gue. Gak ada yang berani tanpa hati-hati mendekati hati-hati kami.

Akhirnya, awal Maret hubungan kami pun mengikat janji resmi.

Kami pacaran. 

 
Semuanya berjalan baik, gue putih dia putih. Gue hitam dia hitam. Kami sejalan dan sehati, hati ke hati.

Saking dekatnya, sampai kisah kami menjadi buah bibir di semua kalangan. Adik kelas, musuh, teman, kakak kelas, batu, kolam, ikan, sampai guru-guru.


Tapi masalah lama muncul kembali, sesuatu yang membuat rasa cemburu mulai tumbuh. Kombinasi iri dan dengki menyayat hati dan mengikis cinta yang mulai membuat jadi sering berantem.

Akhirnya, diakhir tahun...
kami memutuskan untuk memutuskan hubungan kami.


Waktu berlalu, tak terasa kami kembali bertemu di sekolah yang sama, bahkan sekelas. Namun sayangnya tidak dalam hubungan yang sama. Gue udah putus ama dia.



Dan akhirnya hari-hari itu pun tiba.

Hari-hari tak berbicara dengannya, hari-hari tak bisa meneleponnya, hari-hari yang tak pernah gue bayangkan akhirnya mejeng di kalender kamar gue.

Tapi dia terkadang masih melemparkan senyum manisnya, dan hati gue serasa ditendang. Masih ada cinta di senyumnya. Gue ingin percaya, bahwa dia memang masih menungguku.

Tapi ternyata gue salah, dia ternyata move on nya cepat sekali. Dia barusan jadian sm mantan lamanya, si Batagor. Gue yang sama sekali gak tau cara make deodoran roll on sampe kaget, sewaktu salah satu sahabat gue menyampaikan kabar buruk ini.

Gue gak tau kenapa, gue galau banget. Lu semua pasti gak tahu gimana rasanya sekelas sm mantan pacar yang cepat banget move on nya. Semangat belajar gue abis men, mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia, pas mau ingat dia, gue lapar dan ngantuk. Asli galau gue.

Hubungan gue sekarang ama dia gak jelas, sebagai cowok tulen gue menginginkan perpisahan yang baik, namun gue masih belum biasa dalam kondisi seperti ini, gue mantan yang gagal total.

Gue cuma mau dia tahu kalo gue cinta dia kemarin, hari ini, dan besok. Sebagai teman, sahabat, pacar, mantan, musuh.

Nama gue Muhammad Shadiq, baru aja dapat gelar sebagai The man who can't be moved...

Senin, 03 Oktober 2011

Opera Van Dubels #anjing?

click to go back...

Permisi. gue mau pamer karya tangan gue lagi nyoretin dinding lab biologi sekolah. (jangan ditiru di lab biologi kamu !!)

#abaikan
Oke, kita mulai dari gambar ini. Pertama, gue mau ngejelasin setiap unsur plus struktur gambar tersebet. Dimulai dari tulisan OVD-nya. Huruf V-nya sengaja gue ganti dengan simbol peace biar kelihatan cinta damai gitu, trus gue tulis "Peace, Love, and Gaul" dan hasilya orang-orang ngehina gue makhluk dari Planet Remaja (emang ada?).

Trus soal adanya hal aneh, masjid yang bersebelahan dengan gereja. Didalam kelas gue, soal kepercayaan ada dua, Islam dan Kristen (gue sengaja gak nyebut beberapa orang yang menganggap diri mereka Tuhan). Demi menciptakan kelas yang kondusif dan asyik, beken, gaul, gilakh, jadi menurut gue kita gak perlu saling ngebeda-bedain teman hanya karena si Fulan atau si Robert beda agama dengan kita. Ibunda Justina kan udah berkali-kali nerangin ke kita, bukan?




Terakhir, soal manusia yang mirip alien botak raksasa dengan hullahoop melayang diatas kepalanya lagi ngedek di belakang gedung. Yah, saat itu mood gue lagi gak jelas, anggap aja makhluk itu gak ada. #abaikan

Pindah ke permasalahan selanjutnya, akibat dari gambar tersebut. Adanya gambar tersebut memancing munculnya partai-partai nama kelas yang lain. Dan beberapa mengakibatkan pertikaian yang serius.

Contohnya kelas gue, diejek Ovede Anjing. MySpace

Gila aja, bagian mana yang mewakili kebinatangan dari kelas kami? Sungguh daya nalar yang sangat rendah dimana mereka tidak sadar bahwa mereka lah anjing tak bertuan yang mereka singgung-singgung.

Apa gue udah cerita kalo angkatan gue terbagi atas dua kubu? Kubu Rsbi (yang kemudian disebut Gorens--Gedung Orens) dan Kubu Reguler. Yah, menurut gue itulah penyebab utama permusuhan dan perang dingin antara kedua kubu ini.

Berlari ke Gedung Orens. Di Gorens inilah kelas gue berada. Bertetangga dengan Dadu (Delapan-Dua) dan Detigh (Delapan-Tiga). Dan akibat ejekan yang tadinya terus-menerus menghantam kelasku, maka pada akhirnya kelasku berganti nama menjadi  virus Desa (Delapan-Satu).

Nah, di Gorens ini beberapa kali terjadi perang saudara sesama komunitas Rsbi. Beberapa terjadi hanya karena rasa iri dan gila urusan yang berlebihan. Yang alhamdulillah akhirnya bisa diselesaikan baik-baik dan kembali bersatu dan menjalani hidup bersama yang bahagia selamanya.


Minggu, 02 Oktober 2011

Opera Van Dubels #plagiat?

Gue kesel banget setiap kali gue denger orang bilang gitu. Emang napa coba kalo gue ngefans ama Opera Van Java? Emang napa kalo nama kelas gue mirip-miripin? Emang napa kalo Ayu Ting-Ting salah alamat? #kemudian hening

MySpace
.............



Semua berawal dari tiga orang bocah dungu yang menganggap kehidupannya hanya humor belaka bercengkerama tentang episode Opera Van Java "Meteor Garden". Mereka menyebut diri mereka masing-masing; Sadiq Taw Mingkem, Amir Wah Jhuelek, dan Megananda Mhijowo (gue gak mau ingat arti dan tafsiran dari nama yang emang aneh ini).

Dan sayangnya...

gue salah satu anak dalam dongeng itu (cari aja yang mingkem). MySpace

gue gak pernah bener-bener tahu kenapa si Amir
dan Mega ngemirip-miripin gue ama si Sule
Yah, di dalam habitat kecil itu, mereka (si jelek dan si jowo) ngasih peran ke gue sebagai Sule. Padahal gue ngerasa gak lucu, gak asik, gue malah marah banget kalo dikira pesek. Terus si jelek diumpamain aja sebagai Andre. Sayangnya peran ini dikasih berdasarkan morfolgi doang (hidung). Terakhir si jowo mungkin yang paling mumpuni dengan peran Aziz Gagap. Gue gak heran dia gagap, hidungnya aja sempit gitu.

si jelek - si jowo - si mingkem
Singkat cerita, inilah kami. Opera Van Dubels (OVD) yang gak plagiat-plagiat amat, sekian wassalam.

Rabu, 07 September 2011

Hilang, yang berarti nggak kemana-mana

Aku sudah tiga kali menyaksikan teman-temanku kehilangan sosok orangtua, ini berarti tiga kali lebih banyak dari yang nggak pernah kuinginkan...

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun...

Beberapa hari yang lalu, seorang ayah telah meninggalkan dunia. Ayahanda dari seorang kawan baik, ceria, suka menolong, dan sparring partner yang sportif.

Tadi pagi,seorang ibu juga meninggalkan anaknya. Seorang anak yang ceria, riang, dan gembira. Setia kawan dan senantiasa bersedia merangkai mimpi bersamaku. 

Sayup-sayup buah bibir pun bertebaran. Manusia selalu saja berkata:

"Ia mati karena stroke..."

"Ia mati karena kanker..."

"Ia mati karena... ya memang..." (jawaban tukang becak) dll, sebagainya...

Namun sebenarnya, manusia itu mati karena ia telah dilahirkan. Jika saja ia tidak dilahirkan, ia nggak mungkin mati.

Namun dilahirkan bukanlah sebuah pilihan, melainkan takdir yang telah diatur. Begitu juga kematian, sehingga mereka bersama-sama membangun sebuah siklus yang tak pernah berhenti hingga hari akhir.

Dipindahkan, dihilangkan, yang berarti gak kemana-mana. "mereka yang kita sayangi akan selalu ada disini, di dalam hati kita.", begitu kata Sirius Black.

Semoga almarhum ayahanda Mono dan Ibunda Al-Amir Rafsanjani dapat diterima disisi-Nya dengan baik dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, kekuatan, serta rezeki yang banyak. Amin.

sabar, kawan...

Rabu, 17 Agustus 2011

Merdeka atau tetap bermimpi !


Judulnya maksa banget, yak? Emang gitu sih kenyataannya. Kalo aja nggak ada kewajiban dan absen nggak digulir, gue gak bakalan datang upacara bendera. Apalagi sampe repot-repot nyetel channel yang nyiarin proses upacara. Gue lebih memilih tidur, bermimpi basah-basahan dan bangun ketika emang gue mau bangun. Thanks, gue emang anak yang jujur. MySpace

Jadi langsung aja, bisa dibilang gue ini anak ajaib, kenapa? Punya lubang pantat dua? Nggak lah, emang mau diapain punya dua, satu aja masih repot kok nyeboknya apalagi dua. Kecuali aja kalo tangan lu bersih.

Tangan gue bersih, kok, emang napa?

Garukin pantat gue.  MySpace

Oke, jadi ada beberapa kriteria utama, terutama cakep, pinter, gaul, gokil, bugil, dekil, tapi dalam pembahasan ini maksudnya adalah lain daripada anak lain. Aneh? Bukan, bukan aneh. Persetan dengan aneh. Maksudnya tuh, gue ditunjuk secara khusus bareng beberapa temen-temen kelasku buat ngewakilin sekolah gue ke Upacara Hari Kemerdekaan di Lapangan Karebosi.

Apakah gue seneng? Nggak lah, secara upacara disekolah tuh lebih adem, titik.


So, upacara disana tuh, garing banget. Untung aja cuaca lagi kompromi, tumben, jadi puasanya gak terlalu keganggu. Tapi gue salut ama paskibranya, kompak. Walaupun ada satu insiden yang gak bermoral banget.

Gini, pas mau masangin benderanya, salah satu anggota dari pasukan delapan kehilangan sepatunya. Apaaa? Ja--jadi, dimana sepatunya? Sepatunya tuh kesangkut di tengah lapangan, dekat komandan upacaranya, jadi gue nggak berhenti ngakak ngeliatin pengibar bendera yang ngeker dan komandan upacara yang nggak berhenti ngelirik sepatu didekatnya seolah-olah dia lg mikir,"gue tilep gak ya tuh sepatu? cocok kagak? harga jualnya berapaan yak?".


Udahan upacara, cuaca udah lupa daratan, panas banget. Mana sopir Wakil Walikota gak berhenti teriak-teriak ama mobil di depannya lagi. Seolah-olah itu bakalan bikin mobil itu bisa jalan, padahal orangnya masih gak ada, lagi kencing kali. Tapi gue turut prihatin soal paduan suaranya. Bukan, bukan karena suaranya jelek. Persetan dengan sepatu. Tapi mereka sial-banget, soalnya baru dipersilahkan nyanyi, barisan udah kelar lari-larian kesana-sini nyari celah keluar lapangan.

Get well soon, orang sial. MySpace

Gue gak mau ngebacot ama kenek angkot, jadi gue diem aja sampe dirumah. Eh, ngomong-ngomong udah pada ngeliatin google gak hari ini? Keren, Google 17. Nih, gue sedekahin.


Gue kepukul banget. Bagemana nggak, gue aja yang-asli keturunan Indo gak maksa-maksa amat buat memperingati Hari Kemerdekaan, malahan orang luar sana yang sibuk ngegobrak-gabrik gini. Sebagai anak Indonesia, gue merasa gagal.

Oh, iya Selamat memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66, kalo aja Indonesia tuh orang, gue mungkin udah jadi cucunya yang durhaka.

Selasa, 16 Agustus 2011

"Always..."




Strange...
is the song in our conversation...

Walking on the edge of an empty lake, we were talkin' about something...
it was funny and it was cool, lowered down our voices...



The deer ran here and there, so do we...
woods and twigs bind us, so here we...
entangled in a bond, love...

Something that rarely happens in the forbidden forest...

We were holding our laugh, cause we know the moon was standing there.. 
with our own noise...


Tomorrow, we are separated by fate, destiny, an evil...
 


You're riding on a flying griffin...
and slashing with the sword of dreams...


and I ?

Trapped in a snake pit and learn their-fucking-language...
turn into something bad...
isolated in black pendant...


I'm very thankful we're still bound...
dreamy horizon magic together, and remake our love potion...



One day, when a poor boy hanging in a tree...
because inhumane magic, a man who called himself a man...

with the evil eye behind his glasses...

You come and defend me, but instead something wrong happens...
you forgive him...
Since then we are getting far, and far away...

You decided to fly with him...
the glasses stupid and careless...




Years of darkness and regret came...
see you laughing, joking, and love each other...
no more beautiful frame of hills...
the deer ran, and now you too...



Until an angel was born, an angel named 'son'...




Frankly, I hate myself...
trying to be happy, because of your happiness...


I hate your husband, but I love you...
i don't know what i felt to your son...
i don't have the opportunity to care for my baby Lily...
even to say it...

Then...

I lost my love to the darkness I was in...
my biggest regret, my greatest sin...
it was then I made the switch, I was a changed man...
Working against the wicked one and his evil plan...


'Death-eater'...


After a while...

"Forgive me, something bad happened to your love
and it's not my business",
I tried to convince myself...
 

but...

When I knew that my master is also looking for you, I come...
i come, Lily...

But everything is too late...
time tied me in a vacuum space...
to watching you snatched away by the darkness...


Melt into a bits of dazzle light...
realize the form of our Patronum...
 
Deer...


That was left was a 'son'...
I made a promise to protect the son with your eyes in...
I tried to protect him, Lily...
I can do no more...

These feelings will never die, after all, this time ...
'Always'...




Sabtu, 13 Agustus 2011

Biking? Monggo mas

Ini video amatiran bareng temen-temen gue pas biking ke desa Moncongloe, kabupaten Maros, kalo gak salah pas lagi nungguin pengumuman hasil Ujian Nasional (udah lama banget yak?), enjoy it MySpace !!


Yang ini awal kesesatan kami, awalnya sih mau ngelanjutin perjalanan kayak pas bikech to beach. Tapi kayaknya gak asyik deh kalo bikingnya ke kota mulu, jadi kita milih pergi ke tempat yang baru,eh kesasar sampe Moncongloe.


Oh iya lupa, sekalian aja gue promosiin temen gue, Al-Amir Rafsanjani (jumper hitam, movie-holic alias pecandu film blue). Multi-talented, bisa diapain aja, calon wartawan majalah dewasa.

Next, ada si bule gila, Hilmy Arief Baja (outfit narapidana). Jenius, berkeingin-tahuan yang tinggi, tapi sampe sekarang mau aja disesatin ama gue.


Paling besar dan berkuasa, Andi Dirham Nasruddin (jaket abu-abu ekstra melar). Lebih bule dan lebih gila daripada si Hilmy, pekerja keras, dan kawan yang setia. Awas, makanan apa aja diembat.

Sebaliknya, paling kering dan melarat, Dadang Wardana Mas Bakar (jaket abu-abu ekstra sempit, agen promosi iklan koperasi). Jail, gokil, bugil, bengil, plus dekil. Entah mimpi buruk apa yang membuatnya rela memasuki komunitas ini.


Sang kegelapan, Abdurrahman Shiddiq Thaha (kacamata, jaket putih coret-coretan gak jelas). Walaupun covernya gelap, gue tahu kalo dia orang yang baik-baik.

Kaki tangan sang iblis, temennya si Aco, waduh gue lupa namanya (jaket merah kecil mungil unyu mmuah). Anak yang baik, lugu, dan gampang banget ditipuin. Salah satu korban perjalanan. Rest in peace, bro.


Gue pikir udah semua, jadi gue mau jujur tujuan awal perjalanan adalah mencari akhir dari Btp alias ujung-ujungnya. Perjalanan cukup mulus awalnya. Lewat Btp terus ke perempatan daya, ada jalan misterius, dicekidotin aja, malah nembus ke desa, menembus batas.

Jalannya gak kompromi, beberapa korban berjatuhan, terutama Hilmy yang emang sial-banget hari itu. Gue sempet take beberapa foto, tapi hasilnya ancur banget, suram, cocok banget dengan objeknya.

Pas lagi laper-lapernya, kita cekidot asal-asalan malah nyampe ke padang merah kering nan eksotik, Red Canyon. Dehidrasi melanda, beberapa anak gila ini bahkan-sempat bermain pasir.

Nyari tempat minum, malah dapet mata air mistis. Beberapa temen gue sempet terisap, dan banyak sendal yang jadi korban. Untungnya gak ada yang sempet kencing sembarangan.

Menyerah dengan keadaan, kami memilih kembali ke Btp dan mencari tempat pas-murah bin mantap buat makan sarapan. Sampe deh ke rumah Dora.


Udah makan, walaupun beberapa piring nyaris ketelan, kami memutuskan pulang. Cerita berakhir dengan bahagia mengetahui ban sepeda kami melimbas bebarapa kotoran sapi.

Minggu, 31 Juli 2011

MOS#3 -> Beratus ribu jabat erat si poconggg edan


Pagi itu kami berbaris dibawah rimbunan pohon-pohon raksasa yang  menyelubungi sekolah.

Dibawah masing-masing pohon ini terdapat bundaran semen berlapis tehel, tapi gak sempurna. Bentuknya gak oval. Dibilang kotak malah bakalan digampar. Giliran lu yang bilang segitiga gue yang bakal ngegampar. Intinya lu liat aja sendiri.

Konon, disitulah tempat mejeng favorit buat kunti-kunti yang-beberapa-suka ngegangguin anak baru di Smansa mnurut sumber yg gue dapat. Entah itu Kuntilanak, Kuntimalak, ato Kuntigertak. Semuanya melebur dalam satu kekuatan kunti yang menyeramkan. Buat yang pernah ngalamin, ato lagi dalam proses, lo tau gue lagi bicarain tentang apa.

Yang nggak keduanya, gue juga ikut sedih kawan. Nggak, bukan karena kamu sial. Persetan dengan kamunya. Tapi lebih kepada sekolah masing-masing, kali aja di sekolah lu udah bukan kunti-kunti lagi, malahan udah berwujud kun'tits'. (pemeran utama dengan tetek gede di film-film horor esek-esek khas Indonesia sekarang, ih napsuuuuu...) MySpace MySpace MySpace

Gue cuma berharap gak terimbas efek radiasi buah asam tempat gue berteduh yang katanya bisa bikin asem belahan ketek, benarkah?

Parahnya lagi, katanya sih pohon-pohon itu beneran menyimpan cerita masing-masing. Terutama yang ini...

Semua berawal dari adanya anak pindahan baru ke sekolah ini sepuluh tahun yang lalu. Namanya Regina. Dia salah satu cewek tercantik saat itu. Rambutnya coklat disusuin, kulitnya sawo dimatang-matangkan, giginya berbaris rapi tanpa taring, dan senyumnya agak aneh.

Regina adalah siswi pindahan dari Surabaya. Dia dipaksa pindah karena kontrakan rumahnya disana sudah lama tertunggak dan ayahnya sedang menerima proyek sumur bor dimana-mana. Orangnya gak milih-milih dalam berteman. Mau anak pejabat, anak tukang becak, maupun anak tuyul tetap diembat. Gah heran kalau dia jadi idola.

Nah ini dia, menurut gosip, Regina pernah mencabut sebuah pohon kecil misterius yang belakangan diketahui adalah jamur payung. Dan anehnya, setelah dipinang bule asal Afrika Selatan, dia gak pernah keliatan lagi. MySpace MySpace MySpace

Nah, di dekat jamur itu pernah tumbuh, ada sebuah sumur tua. Dan di samping sumur tua itu, tumbuhlah sebuah pohon asam raksasa (jangan tanya gue kenapa di sana yang ada cuma pohon asam semua). Lebih detailnya yang make kalung ban besi tua karatan bekas lonceng prasejarah. Pohon yang pernah gue kunjungin di hari pertama. Bekas daerah kencing pendagus gue. Pohon itulah yang katanya keramas-maksud gue keramat.

Gue juga bingung kenapa dariawal ceritain tentang Regina dan jamur payung dekat sumur tua nya. Bener-bener jayus.
Sebagai bukan apa-apanya si Regina, gue ngerasa gagal. MySpace

* * *

Jadi, dia pohon asam itu katanya bener-bener ada Kuntilanak (secara harfiahnya). Cerita itu mungkin sedikit diragukan, karena beberapa saksi mata bersaksi bahwa  mereka melihat bayangan putih sejenis pocong. Atau kalau mereka salah lihat, mungkin bantal jemuran mbak kantin yang ketinggalan.

sekalian promosi, conggg
Bicara soal pocong, yang paling gue takutin kalo ternyata yang sedang jaga di pohon itu adalah @poconggg. Nggak, bukan karena gue parno ama pocong. Persetan dengan si Parno. Tapi lebih kepada gimana cara gue harus manggilin dia. Kalo gue manggilnya 'conggg', fonemnya bakalan membingungkan pembaca. Iya nggak, conggg? Mereka pasti bakalan bertanya-tanya,"lu lagi manggil pocong ato godain bencong sih?".

Apalagi kalo gue manggilnya pake nama 'aconggg'.MySpace

Jadi, supaya gue gak dikatain demen ama bencong dan bukunya laris-manis di pasar loak, gue mutusin manggil dia dengan sebutan 'bokonggg'. MySpace MySpace

Oh iya, apalagi kalo dia nekat terbitin sekuel kedua "poconggg juga pocong", judulnya "poconggg jaga pbokong" dan cerita soal muka gue yang (maaf ya?) gagah. Insyallah, kalo koneksi luas, rajin sholat, dan senantiasa berusaha, bakalan best seller deh bukunya.

Gue sih oke-oke aja, gue masih bisa ngasih tanda tangan ke fans gue. Yah elo? (ngelirik sarkatis ke arah poconggg) Bersyukur aja gak perlu repot-repot nyari cara buat nanda tanganin buku lo nanti, call me trus kasih hak tanah milik Lapangan Karebosi ke pembantu gue dirumah, gue siap.

Back to the topic, maaf ya soalnya sampe sekarang gue masih kesel mikirin gimana bisa seikat sosis gosong bisa nulis novel dan best seller pula. Gila nya lagi gue sampe repot-repot ngebacanya.

Lama-lama gue santet juga tuh anak. (emang bisa?)  MySpace

Jadi, keliatannya barisan sana cukup lengang.

Barisan manusia tak beradab mulai berkurang, gue pikir mereka mulai sadar setelah kakinya mulai berselaput akibat lompat kodok kemarin.

Akhirnya para pendagus datang, dan awan gelap menyertainya. Kami lalu menerima instruksi baru, tepatnya komando. Dan kali ini benar-benar kejam...

...membersihkan seantero Smansa. MySpace

Hening.

Gue diem. Semua siswa saling bertatapan muka. Chila gak kuasa berbicara.

Tiba-tiba...

"ituji kah?", bisik seorang teman gugus gue minta digamparin.

Gue mulai sebel. Beberapa siswa kelihatan marah. Chila bahkan mulai merengek. (nih anak daritadi ngapain sih?)

Oh iya, kalo lo mau tau arti dari kata 'seantero', gue bicara soal bongkahan daun mati yang mulai menyusun sebuah hegemoni yang rapuh di setiap sudut sekolah, badai debu yang membuat face scrub para cewek kayak bedak bayi, dan sarang laba-laba yang penuh kotoran. Mulai dari kumbang kotoran yang tentunya merupakan santapan lezat buat om laba-laba, sampe yang bener-bener kotoran kayak upil yang sangat merusak akal jernih, berimajinasi apakah laba-laba juga mempunyai sistem pembeda rasa di lidahnya? Gue bahkan gak yakin dia punya lidah yang cukup licin untuk mengolah gumpalan terkutuk itu.

Gue bengong.

Chila juga ikut-ikutan bengong. (sumpah, nih anak kan seharusnya ngobatin temen-temennya yang sakit biar bisa main sama-sama lagi, kan?)

Gue menyumpah-nyumpah dalam bahasa yang bahkan nggak gue ngerti. Dan gue bener-bener ngegampar temen gugus gue tadi. Nggak, kali ini nggak ada Chila. Sekali lagi Chila muncul, bakalan gue susuin pake susu nyamuk.

Kenapa? Mungkin lebih keren jika kami mendapat daerah nyapu seperti lapangan basket ato paling nggak kantin lah. Sialnya kali ini, kami bakalan jadi pengurus masjid.

* * *

Gue ingat guru ngaji gue dulu pernah bilang,"setitik debu yang kamu bersihkan dari masjid, akan bernilai seorang bidadari cantik nan jelita di surga nanti", jadi gue sempat berharap. Namun, pernyataan sarkatis itu membuat para santriwati manggut-manggut karena merasa gak adil.

Gue tau apa yang lu pikirin. 'Bidadara' kan?

Tapi gak begitu ceritanya,  para santriwati diberi imbalan,"bla, bla, bla, suami yang kamu cintai-", beberapa diantara mereka terlihat merona, gue ngerti mereka udah pada jatuh cinta,"-itu kalo suamimu termasuk ahli surga", lanjut guru ngajiku yang membuat muka para santriwati itu lebam, dan gue nggak berhenti ngakak.

Oh iya, seumuran gitu gue juga udah jatuh cinta, loh. Ya, sama seorang gadis imut dan ngegemesin. Teman Taman Kanak-kanak gue yang lucu dan manis. (serius, soalnya dulu mama gue sering banget nonton telenovela--ya--bukan tontonan yang bagus buat anak berumur 5 tahun)

Jadi, setelah menetralisir sedikit pengertian itu,"setiap daun kering yang gue angkat, buang, gunting, lem, dan mungkin dibakar, akan bernilai satu bidadari cantik yang gue harap bidadari itu mirip dengan orang yang kucintai".

Permintaan yang ekstra serakah, namun setidaknya cukup memberikan motivasi yang bener-bener menggigit untuk meratakan segumpal daun kering yang patah.

Setelah itu, kami kembali ke barisan utama dengan bercucur keringat dan bener-bener berbau asam. Kami duduk, bernapas, lalu diarahkan menuju kelas kami yang baru.

* * *

Gue gak pernah ngebayangin scene ini. Kami terhenyak di tangga sekolah dan menatap (mungkinkah?) sebuah kelas.

Sebuah kelas paling ujung di lantai teratas. Papan kelas berbunyi X-8 mengangguk lesu diterpa angin. Ubinnya menyeramkan, kuno, dan kombinasi catnya parah, merah-abu-abu. Mengingatkan gue pada suasana yang menyenangkan di Kfc. Sayangnya kelas ini benar-benar seperti yang gua bayangin. Berantakan, berdebu, dan berderak. Terutama kebocoran parah yang dialami jendelanya, mungkin dulunya Kenpachi pernah bertarung melwan hollow di kelas ini. Kalau emang tempat ini dulunya bekas Kfc, gue gak bisa bayangin yang berkunjung makan kesini berwujud apa. Mungkin hollow, ato para Shinigami.

Sialnya lagi gue dikelilingi orang-orang diatas normal kewarasan yang secara teminologi adalah teman kelas gue dan fakta bahwa kelas X-8 adalah kelas paling nakal sepanjang sejarah Smansa, setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Gue pikir hidup gak bakalan lebih buruk daripada itu, kan? Hingga penanggung jawab dan pendagus mengumumkan ide cemerlangnya soal unjuk bakat...

...menari dan memotong bebek angsa. MySpace

* * *

Gue sempat berpikir bahwa kotak tertawa itu ada dan bakalan terbakar seperti tipuan Squidward yang membuat Spongebob terlihat menyedihkan. Kira-kira ilustrasi itu cukup menggambarkan keadaan perut kami yang saling melilit akibat tertawa yang berlebihan.

Gugus-gugus lain sungguh menghibur. Mereka dapat mengombinasikan profesionalisme, cool performance, kontrol bola, dan humor dengan baik (gue bilang gitu karena emang penampilan gugus kan macem-macem, gak cuma nyanyi doang dong). Contoh khususnya, Mega yang awalnya gue kira bakalan ngebaca puisi yang romantis, ternyata cuman jadi penari latar doang, anjing, ngerusak imajinasi banget.

Namun, kami gak begitu menikmati penampilan-penampilan gugus selanjutnya dengan tarian erotis gak jelas khas Sm*sh. Lebih gak jelasnya lagi yang joget ternyata segumpal cowok ekstra melar.



Argumen itu mungkin beralasan mengingat akhir dari penampilan itu adalah pintu masuk para penjagal bebek angsa. MySpace

* * *

Gue cuma berharap kejadian ini gak disiarkan. Maksud gue, bisa gak lu bayangin Kak Seto bakal ngapain kalo ngeliat tiga puluh anak remaja berjerawat yang menyanyi dan menari potong bebek angsa yang bodoh dengan muka yang bodoh dan diiringi tawa yang bodoh? Dia mungkin bakalan berasumsi gak baek seperti tayangan gak mendidik soal penyuluhan tentang arti kebodohan sesungguhnya.

Kenapa gue yang gagah ini berkata demikian?

Soalnya ada puluhan-lebih wartawan yang menyesaki aula yang dari sononya udah sesak banget malahan. Fajar Tv, TVRI, Gamasi, Fashionworld, National Geographic Channel, dan jangan harap gue mau nyari tau wartawan lainnya.

Semuanya sama, dengan rambut sok dirapikan, kamera di bahu, dan sebuah nota kecil di kantongnya. Melontarkan beberapa pertanyaan menjatuhkan, mengoleksi informasi rahasia, dan berusaha membuat beritanya selalu dinantikan. Semoga aja berita tentang peristiwa barusan di edit dan di format sehingga berjudul "Cuma di Smansa, MOS sambil potong bebek angsa" yang setidaknya kedengaran lebih baik dari kenyataannya.

Untungnya, suara emas sebuah bola raksasa bernama Clara cukup menutupi kemaluan (kata ganti darurat dari rasa malu) gugus kami dengan mengoleksi perhatian dan applause dari penonton.

Setelah semua gugus selesai, para juri masuk ke ruangan isolasi. Memilah-milih pertunjukan yang terbaik dan untungnya mereka gak mempertimbangkan membuat penghargaan gugus terjelek.

Kami gak terlalu mempersoalkan soal pemenang ajang pencarian bakat dadakan itu. Bagi kami, acara berakhir dengan ataupun tanpa penghargaan. Wassalam.

* * *

Hari itu cukup melegakan, gak ada materi sia-sia sama sekali. Hanya selingan games, hiburan tambahan yang banyak memakan korban, dan acara mengerjai terbalik-dimana junior yang mengerjai seniornya-yang membuat para senior menggeram kesal mengingat pesan pak polisi kemarin soal MOS yang damai dan tentram.

Akhirnya setelah istirahat, kami dikumpulkan untuk menghadiri upacara penutupan rangkaian acara Masa Orientasi Siswa yang menyenangkan selama tiga hari itu. Makasih baksonya, pak.
Di meja tampak hadir lengkap semua personil yang membuka acara pada hari pertama. Pak D, Mr. Sunlight, dan the magnificent eight.  Diapit oleh kedua puluh pendagus, guru-guru, dan senior yang gak jelas perannya sebagai apa disitu.

Jadi, setelah beberapa sambutan pendek dan doa syukur yang dipanjang-panjangin, kami ratusan anak baru diminta berjejer memanjang seperti ular di aula, gue berdiri paling depan di barisan ketiga dan merasakan atmosfir aliran kebingungan merayapi rantai tangan yang tersambung membentuk barisan panjang dibelakangku.

Para guru, pendagus, dan senior gak jelas itu sepertinya sudah tahu akan hal ini dan tanpa dikomando mereka berbaris memanjang dibawah panggung di hadapan kami.

Pak D kemudian meraih mikrofon dan mengucapkan semacam pemberkatan kepada kami.
Lalu diawali dari gugus terujung, secara bergantian menjabat tangan pak kepala sekolah, para guru, dan senior. Giliran gue sebentar lagi, kuperhatikan Pak D sepertinya menggenggam erat wibawanya dengan memperlakukan semua anak dengan adil, tanpa diskriminasi. Hanya sebuah genggaman erat dan doa. Mr. Sunlight kelihatannya kurang berbahagia, hal itu ditandai sinarnya agak meredup hari ini.

Guru-guru lain bermacam-macam, ada yang menjambak rambut, nyubit pipi, bahkan ada yang terlalu jual mahal hanya dengan anggukan arogan. Untungnya gak ada yang repot-repot nyium pipi.

Inilah saat dimana semua dendam kesumat terbakar habis, wajah-wajah senior yang sangar kini berubah ramah. Dan ketika sampai di barisan the magnificent eight, dihadapan kak ketua Osis (yang belakangan ini gue tau ternyata sepupu lain karungnya Modi), nyali gue menciut, gemetaran, dan takut. Namun, kali ini pemandangan sungguh berbeda, dia merangkul gue dan mengangguk bangga.Seumur hidup gue yang menyedihkan ini gak pernah sekalipun merasa diakui seperti itu. Gue serasa punya kakak laki-laki yang hilang. Kalo saja tempat itu gak disesaki ratusan anak yang saling bersenggolan, gue pasti kelihatan kikuk banget.

Setelah itu, gue dengan pedenya menghampiri senior-senior cowok selanjutnya, kak wakil ketua Osis, para pendagus lain, dan...gue berhenti di hadapan seorang senior cewek.

Gue bingung. MySpace

Kalo senior cowok-cowok ama guru-guru cewek maupun cowok mah gue berani menjabat bahkan (dengan ogah) mencium tangannya. Tapi ini kan cewek, manis lagi.

TAPI INI KAN CEWEK !! C-E-W-E-K !! MANIS LAGI !!
Sengaja diulang biar kelihatan tegang.

Gue ngerasa semuanya jadi gelap, persetan dengan mereka yang berteriak dan mendorongku dari belakang.

Tiba-tiba secercah cahaya datang dan menggapai tangan gue, lalu menjabatnya dan entah darimana keberanian itu datang, gue ambil tangannya dan menciumya seperti yang kulakukan (ingat? dengan ogah) pada senior cowok.

Dalam kurang dari sedetik yang mengerikan, gue membayangkan beberapa hal yang mungkin terjadi. MySpace

Namun dia mulai tersenyum dan menjambak rambut gue. Gue lega dan kembali pede menghadapi siapapun, mau cewek maupun cowok, walaupun memang sedikit takut menghadapi beberapa senior yang mirip bencong. Kami semua lebur dalam penutupan yang penuh emosi. Salam ribuan tangan.

Inilah acara jabat tangan terbanyak yang pernah gue rasakan, lebih dari ribuan kali jabat tangan saat itu. Tidak heran kalau telapak tangan gue terasa panas dan dingin dan pegal-pegal.

Oh iya, sebagai penutup, selama tiga hari ini gue belum merasakan aura senioritas di Smansa, doakan aja tetep begitu. Amin.<>