Jumat, 21 Oktober 2011

#1310

Dimana-mana banyak pasangan berduaan. Tetapi bagaimana mereka sampai bertemu, bagaimana kisah mereka bermula, gue gak peduli. Gue punya kisah cinta yang patut gue kenang selamanya.

Kudapati diriku memandangnya, tindakan ekstrem yang sudah kulakukan bermiliar-miliar kali. Tingginya dan aku hampir sama akhir-akhir ini, dan hal itu bahkan terasa lebih melegakan.

Hampir.

Sayangnya, secara eksak dia-sedikit-lebih tinggi dariku.
Rasanya sedikit mengintimidasi.

Tapi dia manis.

Oke, maksudku-memang-dari dulu dia imut, tapi dia mulai jadi cantik banget. Biasanya kami gak bakalan bisa memulai suatu interaksi cinta tanpa sebuah ajang baku hantam, dan memang itulah kenyataannya. 

Aku cinta dia, dia cinta aku. Gak satupun dari kami yang mencintai mereka. #abaikan


Kalo diingat apa yang telah kami lalui selama ini, rasanya pengen nangis. Begitu banyak perkelahian, penginjak-injakan, penindasan, dan tangis. Namun kadangkala, kami sering bercanda dan tertawa-menertawakan orang lain, membisikkan kata-kata cinta, dan merangkai mimpi-mimpi indah.

Semuanya dilakukan dengan cinta dan rasa bahagia saat itu, setidaknya gue harus bilang gitu, kalo nggak Modi pasti bakal membunuh gue.

Stop.

Gue jadi ingat saat pucuk-pucuk cinta pertama mulai merekah. Bersama putri Maulidya, ketika matahari sepanas-panasnya di awal tahun. Di negeri Gorens, kerajaan Opera Van Dubels, kami dipertemukan.

Seorang dukun jadi-jadian, terpaksa gue sebutin, Deli Datu Arung-lah yang mempertemukan hati kami. Bertindak sebagai mak comblang, biasanya dia minta beberapa tumbal. Walaupun berat dan beresiko, setiap istirahat jam pelajaran terpaksa gue berkorban duit demi beberapa snack.

Emang sih, gue ama dia udah kenal lama, sering SKSD juga, tapi baru pas itu gue ngerasa lain banget. Sesuatu dalam diri gue menggeliat dan memberontak.

Gue jatuh cinta. Sudah pasti bukan sama si dukun goblok.

Jadi, akhirnya kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Smsan, telponan, ngerumpi, sampai makan nasi goreng sepiring berdua yang samasekali gak romantis karena faktor bokek nya si gue.


Saat itu, rasa canggung masih melingkupi kami berdua. Kami bagaikan singa yang haus cinta kalo lagi smsan atau telponan. Tapi kalo face to face, gak lebih dari sepasang kucing kecil yang mau pipis.

Tapi lambat laun kami semakin dekat, akrab, dan menyatu. Hati gue cuma buat dia, hati dia cuma buat gue. Gak ada yang berani tanpa hati-hati mendekati hati-hati kami.

Akhirnya, awal Maret hubungan kami pun mengikat janji resmi.

Kami pacaran. 

 
Semuanya berjalan baik, gue putih dia putih. Gue hitam dia hitam. Kami sejalan dan sehati, hati ke hati.

Saking dekatnya, sampai kisah kami menjadi buah bibir di semua kalangan. Adik kelas, musuh, teman, kakak kelas, batu, kolam, ikan, sampai guru-guru.


Tapi masalah lama muncul kembali, sesuatu yang membuat rasa cemburu mulai tumbuh. Kombinasi iri dan dengki menyayat hati dan mengikis cinta yang mulai membuat jadi sering berantem.

Akhirnya, diakhir tahun...
kami memutuskan untuk memutuskan hubungan kami.


Waktu berlalu, tak terasa kami kembali bertemu di sekolah yang sama, bahkan sekelas. Namun sayangnya tidak dalam hubungan yang sama. Gue udah putus ama dia.



Dan akhirnya hari-hari itu pun tiba.

Hari-hari tak berbicara dengannya, hari-hari tak bisa meneleponnya, hari-hari yang tak pernah gue bayangkan akhirnya mejeng di kalender kamar gue.

Tapi dia terkadang masih melemparkan senyum manisnya, dan hati gue serasa ditendang. Masih ada cinta di senyumnya. Gue ingin percaya, bahwa dia memang masih menungguku.

Tapi ternyata gue salah, dia ternyata move on nya cepat sekali. Dia barusan jadian sm mantan lamanya, si Batagor. Gue yang sama sekali gak tau cara make deodoran roll on sampe kaget, sewaktu salah satu sahabat gue menyampaikan kabar buruk ini.

Gue gak tau kenapa, gue galau banget. Lu semua pasti gak tahu gimana rasanya sekelas sm mantan pacar yang cepat banget move on nya. Semangat belajar gue abis men, mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia, pas mau ingat dia, gue lapar dan ngantuk. Asli galau gue.

Hubungan gue sekarang ama dia gak jelas, sebagai cowok tulen gue menginginkan perpisahan yang baik, namun gue masih belum biasa dalam kondisi seperti ini, gue mantan yang gagal total.

Gue cuma mau dia tahu kalo gue cinta dia kemarin, hari ini, dan besok. Sebagai teman, sahabat, pacar, mantan, musuh.

Nama gue Muhammad Shadiq, baru aja dapat gelar sebagai The man who can't be moved...

Senin, 03 Oktober 2011

Opera Van Dubels #anjing?

click to go back...

Permisi. gue mau pamer karya tangan gue lagi nyoretin dinding lab biologi sekolah. (jangan ditiru di lab biologi kamu !!)

#abaikan
Oke, kita mulai dari gambar ini. Pertama, gue mau ngejelasin setiap unsur plus struktur gambar tersebet. Dimulai dari tulisan OVD-nya. Huruf V-nya sengaja gue ganti dengan simbol peace biar kelihatan cinta damai gitu, trus gue tulis "Peace, Love, and Gaul" dan hasilya orang-orang ngehina gue makhluk dari Planet Remaja (emang ada?).

Trus soal adanya hal aneh, masjid yang bersebelahan dengan gereja. Didalam kelas gue, soal kepercayaan ada dua, Islam dan Kristen (gue sengaja gak nyebut beberapa orang yang menganggap diri mereka Tuhan). Demi menciptakan kelas yang kondusif dan asyik, beken, gaul, gilakh, jadi menurut gue kita gak perlu saling ngebeda-bedain teman hanya karena si Fulan atau si Robert beda agama dengan kita. Ibunda Justina kan udah berkali-kali nerangin ke kita, bukan?




Terakhir, soal manusia yang mirip alien botak raksasa dengan hullahoop melayang diatas kepalanya lagi ngedek di belakang gedung. Yah, saat itu mood gue lagi gak jelas, anggap aja makhluk itu gak ada. #abaikan

Pindah ke permasalahan selanjutnya, akibat dari gambar tersebut. Adanya gambar tersebut memancing munculnya partai-partai nama kelas yang lain. Dan beberapa mengakibatkan pertikaian yang serius.

Contohnya kelas gue, diejek Ovede Anjing. MySpace

Gila aja, bagian mana yang mewakili kebinatangan dari kelas kami? Sungguh daya nalar yang sangat rendah dimana mereka tidak sadar bahwa mereka lah anjing tak bertuan yang mereka singgung-singgung.

Apa gue udah cerita kalo angkatan gue terbagi atas dua kubu? Kubu Rsbi (yang kemudian disebut Gorens--Gedung Orens) dan Kubu Reguler. Yah, menurut gue itulah penyebab utama permusuhan dan perang dingin antara kedua kubu ini.

Berlari ke Gedung Orens. Di Gorens inilah kelas gue berada. Bertetangga dengan Dadu (Delapan-Dua) dan Detigh (Delapan-Tiga). Dan akibat ejekan yang tadinya terus-menerus menghantam kelasku, maka pada akhirnya kelasku berganti nama menjadi  virus Desa (Delapan-Satu).

Nah, di Gorens ini beberapa kali terjadi perang saudara sesama komunitas Rsbi. Beberapa terjadi hanya karena rasa iri dan gila urusan yang berlebihan. Yang alhamdulillah akhirnya bisa diselesaikan baik-baik dan kembali bersatu dan menjalani hidup bersama yang bahagia selamanya.


Minggu, 02 Oktober 2011

Opera Van Dubels #plagiat?

Gue kesel banget setiap kali gue denger orang bilang gitu. Emang napa coba kalo gue ngefans ama Opera Van Java? Emang napa kalo nama kelas gue mirip-miripin? Emang napa kalo Ayu Ting-Ting salah alamat? #kemudian hening

MySpace
.............



Semua berawal dari tiga orang bocah dungu yang menganggap kehidupannya hanya humor belaka bercengkerama tentang episode Opera Van Java "Meteor Garden". Mereka menyebut diri mereka masing-masing; Sadiq Taw Mingkem, Amir Wah Jhuelek, dan Megananda Mhijowo (gue gak mau ingat arti dan tafsiran dari nama yang emang aneh ini).

Dan sayangnya...

gue salah satu anak dalam dongeng itu (cari aja yang mingkem). MySpace

gue gak pernah bener-bener tahu kenapa si Amir
dan Mega ngemirip-miripin gue ama si Sule
Yah, di dalam habitat kecil itu, mereka (si jelek dan si jowo) ngasih peran ke gue sebagai Sule. Padahal gue ngerasa gak lucu, gak asik, gue malah marah banget kalo dikira pesek. Terus si jelek diumpamain aja sebagai Andre. Sayangnya peran ini dikasih berdasarkan morfolgi doang (hidung). Terakhir si jowo mungkin yang paling mumpuni dengan peran Aziz Gagap. Gue gak heran dia gagap, hidungnya aja sempit gitu.

si jelek - si jowo - si mingkem
Singkat cerita, inilah kami. Opera Van Dubels (OVD) yang gak plagiat-plagiat amat, sekian wassalam.