Rabu, 11 Mei 2011

Serigala kemalaman


Yesterday, 01:06 a.m.

Bosan, naluri nocturnally ku membuat ku sering terjaga. Bahkan mataku masih memancarkan percikan api semangat yang menggebu dengan taring keluar bak serigala kemalaman, tapi entah apa yang bisa kubakar dengan ini. Selain itu aku cukup sedih habis bertengkar besar dengan pacarku. Kulihat pintu depan ku tiba-tiba mengeluarkan semacam cairan hijau kayak ingus seperti di video-clip 'American Idiot' nya Greenday ! Cairan itu merangkai suatu kata, yang bertuliskan "Escape" yang entah kenapa bisa kubaca dengan mata disleksia ku ini.

Singkat cerita aku mengikuti naluri nocturnally ku dan kutekan tombol "esc" di pintu ku ini dan bertualang. Dengan bekal jaket, jam tangan, selembaran uang 10-ribuan, dan kamera, kali aja ad kejadian syur di jalan. Aku meluncur diatas kereta angin...

Kukelilingi sekitaran kampus dan berhenti di lapangan basket. Kulihat para dewa sedang turun bermain, kurasa aku hanya akan menonton sedikit. Sekalian ngelirik ke arah pemandu sorak yang kelihatannya sudah berubah status menjadi sexy-dancer seiring pergantian hari. Sungguh erotis.

Rem kuberdecit ketika tiba di hamparan danau yang gelap dan dalam, sekedar nostalgia dengan hape perenangku. Kulemparkan sucuil arang sebagai balas dendam. Kukeluarkan kamera tua ku, kurasa pemandangan malam ini di danau cukup indah, sebelum sepersekian detik kemudian aku sadar baterainya belum di charge. Sayang, cuma satu gambar yang kudapat, namun aku cukup puas.

Cacing Ascaris lumbricoides dalam perutku mulai berunjuk rasa. Kuputuskan mengunjungi warung fried chicken pinggir jalan (disesuaikan keuangan saat itu) dan sekedar take-away dan pulang, soalnya hari makin gelap.

Suasana di perjalanan pulang cukup mistis, namun damai. Jalanan seakan di padang tak berpenghuni, tak ada suara kecuali suara Brian McKnight yang lg nyanyi 'She will be loved' di otakku (seriously). Namun iman ku harus goyah ketika TV di pos ronda di pinggir jalan menyala dengan sendirinya, ku tengok kesana tak ada siapapun. (rusak kali).

Tak cukup beberapa meter, di bawah sebuah pohon palem, terlihat seorang kakek tua pakai topi lusuh yang keliatan sangat tua sedang jongkok. Kuperhatikan di sekeliling tak ada motor, rumah, ataupun jiwa kesasar seperti aku. Hanya sebuah lampu jalan menerangi pohon palem rimbun dengan kakek menyeramkan dengan muka gelap (mungkin tak berwajah, aku tak cukup berani untuk mencari tahu) di bawahnya. Otakku cukup lama memproses keadaan dan menyimpulkan satu komando : LARI !!

Kukayuh sepedaku dengan cepat, kurasa aku memecahkan rekor tercepat ku saat itu. Tak cukup beberapa detik aku sudah sampai di rumahku, dengan badan bercucuran keringat sampai kaki. Aku cukup lelah untuk kemudian tertidur, dan melupakan ayam gorengku nikmat yang akhirnya jadi santapan adik ku yang rakus.

2 komentar:

Alex-is mengatakan...

sbelom lari, liat dulu kakinya ada ato kagak

Muhammad Shadiq mengatakan...

gak, dia make semacam tentakel. wkwkwk

Posting Komentar