Selasa, 05 Juli 2011

Area 71, beware of the dangerous idiot #3

click to go back...

-- Another Cinderella story --

Hilmy a.k.a Coneh -- cowok aneh
This story is re-telling of the Cinderella fairy tale in modern setting, with Hilmy 'Coneh' taking role as the Cinderellboy (this is weird), Dirham 'Monti' as Coneh's only best friend as his fairy big-god-daddy (whether they really exist). Deli 'Grim' taking the role of the step mother (i believe that's true); Jusma 'Snooty' and Ulul 'swart' as the two stepsisters (they really fanged). Remember that time 'Coneh' still a boy with tight pants with neatly short-cropped hair, we will only tell  the part of his life filled up with suffering.

Di pagi yang cerah, seorang bocah berlari-lari girang ditemani burung-burung bernyanyi dan matahari tersenyum menyambut dunia baru. Namun semuanya kelam, berawan dan berangin setelah kedatangan Deli dan anak-anaknya yang manis (enak juga ya bakso mas asri kemarin?).

Deli dengan kejamnya berkata,"heh Coneh !"

Hilmy bingung. Setelah yakin yang tak ada orang di sekitarnya, ia pun menjawab,"siapa? saya?"

so creepy...
Deli pun kembali menunjukkan taring nya yang masih tersisa sedikit bangkai ayam,"iyalah, dasar Coneh--cowok aneh", sambil menjilati bibir sexy nya (udah kenyang nih, udahan ah traktiran bakso nya),"minggir lu dari jalan gue !", sambil diikuti cekikikan dua putrinya.

Hilmy yang malang (aku mulai menyukai anak ini). Ia hanya ingin menikmati pagi indah itu dengan bercengkerama dengan alam. Dalam tangisnya ia berdoa,"ya Allah, kirimkanlah aku seorang yang dapat membantu dan menghiburku saat ini".

Dan *wusssshhh

Dirham a.k.a Monti, menurutku dia lebih mirip Saykoji
Muncullah secara tiba-tiba seorang peri baik hati dan penolong, Dirham -- big-god-daddy. Hilmy pun berteriak,"please, a big-god-Zilla appears to me !". Si peri pun menjawab,"there're a little failure in ur statement. First, i'm not a big-god-Zilla, Second, i am a big-god-daddy, another fairy called me that. And the last, do you've a wish? cause i am your savior--i like to say that".

Hilmy pun girang, ia berkata,"beri aku waktu sedikit, Monti, bisakah aku memanggilmu begitu? kau begitu montok nan imut", yang disambut bibir manyun si peri.

Setelah menimbang-nimbang beberapa impian, Hilmy pun mengingat kejadian tadi pagi. Dan memutuskan sebuah permintaan yang lebih cocok disebut 'kutukan'.

mimpi buruk kaum Adam,  benar Ipul?
"ng...Monti, aku harap aku dapat menemukan cinta ku yang hilang sehingga para serigala itu tak mengejekku lagi".

Dengan sedikit ayunan tongkat ajaib, dan ditambahi bumbu debu pencabul permintaan, dirayapi bumbu saus cobek yang menggairahkan diselimuti bumbu kacang dan jadilah permintaan Hilmy. (gado-gado?)

Setelah mengabulkan permintaan Hilmy, si peri pun menghilang dalam setitik cahaya bening yang memekikkan mata. Tak sabar menunggu asap sirna, Hilmy pun menutup mata sambil berhitung. 1...2...3... !

Dan muncullah seorang putri cantik *glek.

Untuk beberapa detik Hilmy terpongah menatap pemandangan langka ini. Dan detik berikutnya kejadian tragis terjadi dimana Hilmy terkapar setelah loncat dari lantai dua gedung sekolah.

--  Tokka' Love --

Hati tergelap dalam sejarah tahun pertama...

Hari itu semuanya riang gembira, matahari berkejar-kejaran dengan awan, dan tidak jadi ulangan. Seisi kelas riuh dengan yel-yel sakral yang kami nyanyikan jika satu waktu ulangan gagal dilaksanakan.

"tidak jadi ulangan...tidak jadi ulangan...tidak jadi ulangan !!"

*kreeeek...

Pintu berderak dan dua orang yang sangat tidak kami inginkan berdiri disana muncul. Dengan tatapan tajam bak elang mencari tikus diantara ilalang, dengan gunting mengkilap yang benar-benar siap untuk membuatmu teriak.

sayang, tak ada dokumentasi penting yang selamat
dari tragedi berdarah tersebut selain ini
Mereka adalah dua dari tujuh anggota 'the magnificent seven', dan mereka yang terparah. Mr. Egghead and Mrs. Humph. Tugas mereka adalah merapikan kepala yang tak rapi. Itu mudah, jika ada yang melebihi standar kepanjangan rambut, mereka tinggal membaringkan murid dan memotong apa yang ada di ujung nya (maksudku rambut kawan).

Para cewek terlihat tenang, namun mimpi buruk bagi kaum cowok. Semuanya kocar-kacir seperti alang-alang yang didatangi mesin pemotong rumput. Ada yang melompati meja, merayap di celah kursi, dan ada yang kepalanya tersangkut jendela kelas.

Tak ada yang selamat dari kejadian tragis itu. Kelas kami benar-benar menjadi lautan rambut.

-- Duta K.B.--


salah satu slogan terbaik mereka
Mungkin kalau bukan akibat acara 'cabut-cabut-cha-cha' sewaktu MOS. Kelas kami tidak akan mendapatkan predikat sebagai 'Victor Class'. Eh ralat, 'Fiktor Class' dengan Apip dan Amir sebagai 'Duta K.B' nya.

Setiap kelas biologi pasti diwarnai kericuhan. Ketika guru dan murid genit bersatu yang menghasilkan jeritan ketakutan para gadis. Sungguh momen tak terlupakan.


-- And this how its end --

Fadil - Rehan - Ikhsan - Hilmy - Aslam- Dirham
Apip - Ilham - Gue bertumpukan bareng Amir - Nopri - arwah Aco
#tolong diabaikan


Area 71, beware of the dangerous idiot #2

click to go back...

-- A hot striptease dance for Mr. Shoot-it --

hot bukan? beginimi rehan
Kisah absurd lainnya tentang guru misterius yang killer namun selalu mengundang tawa, Mr. Shoot-it.

Kebiasaan kami untuk menghindari pelajaran-pelajaran membosankan seperti kir dan tik adalah meminta izin khusus ke wc selama 3 menit dan selanjutnya akan selalu ada waktu tambahan untuk jiwa-jiwa yang tak sarapan ini.

Hari itu setelah menuntaskan urusan perut dan udah yakin Mrs. Old-Seamstressa (wali kelas tercinta sekaligus guru kir yang membosankan, Rehan mungkin masih memiliki masalah cinta dengannya, namun aku punya hutang maaf atas hal ini) sudah meninggalkan kelas, kami pun bergegas kembali dan bertindak seolah kami tersesat dan membutuhkan waktu satu jam pelajaran untuk mencari jalan pulang.

Namun langkah kami sempat terhenti di depan koridor kelas VII.2 dan menemukan pemandangan mengerikan yang menghantui kelas menyenangkan itu, Mr. Shoot-it. 

Setelah yakin disekelilingnya aman, Rehan pun mulai mengeluarkan tarian striptease (dimana dia belajar?) nya yang aduhai mantap dan mengejek yang spesial ditujukan ke Mr. Shoot-it. Ia seorang cowok dan aku berharap lebih Mr. Shoot-it akan tergoda dan berbuat baik kepada kami.

Ketika Rehan tengah asyik menari disambut siulan dan tepuk tangan dariku, Apip, dan Amir, tiba-tiba dari balik pintu temaram, tampak jelas sebuah tatapan 'extra exam later' khas nya Mr. Shoot-it ke arah kami dan kami tahu kami tidak akan saelamat dari ujian matematika lima paragrafnya besok.

-- Om satpam, I'm in love --

Mungkin inilah kisah cinta pertama yang bersemi di kelas tentu saja jika Deli tak membuka hatinya yang kedua dan seterusnya untuk Amir dan Apip.

Romeo-Juliet /wf glasses's story between Rehan and Desmy...

Selintas mereka terlihat cocok, dari postur tubuh, wajah, dll. Mereka tertawa, becanda, dll, dll. Semuanya bahagia, senang, dll, dll, dll, sampai hari itu...

Abangnya Rehan dan calon Mbaknya Rehan, sepasang Romeo-Juliet sesungguhnya mengadakan kunjungan khusus hanya untuk bertemu dengan dia yang telah memikat hati Rehan. (gue aja kaget Rehan punya hati)

kenapa ada rapip dibelakang?
Maka berlangsunglah acara interogasi antara Rehan alias Warrior Pemabuk, dan Ecy alias Peri Penjaga yang dipimpin langsung Abangnya Rehan alias Kakek Sesepuh di lahan parkir yang disaksikan kami sekelas dan om satpam botak.

Beberapa dari kami menertawakan kekakuan antara mereka berdua. 

Beberapa menit kemudian, mereka kembali ke kelas secara terpisah beserta muka cemberut.

Sejak hari itu, Ecy secara tragis dan tanpa alsan serta status yang jelas mulai menjauhi Rehan dan dalam seminggu kami memperingatinya dengan mengibarkan bendera setengah tiang (ya iyalah benderanya emang gitu kok).

Alhamdulillah, dengan akhir cerita sedih tersebut, sekarang Rehan sudah menemukan Juliet sesungguhnya, seorang putri cantik (thanks atas sogokan baksonya) bernama Sari.

-- Maksud hati pengen sok Nge-lem, apa daya malah Nge-bogem --

Setiap pengalaman konyol di tahun pertamaku pasti ada kaitannya dengan Mr. Shoot-it. Entah karena disengaja atau tidak, ia begitu mudah dipancing emosinya. Dan yang terpandai dari yang terpandai melakukannya adalah Rehan, Dirham, dan Apip tentunya.

Pada suatu hari kami diharuskan membawa persiapan lem untuk praktikum kir. Namun ternyata dua diantara kami benar-benar melekatkan sesuatu pada hari itu, yup, some trouble again.

Singkat cerita, lagi-lagi masalah muncul di jam pelajaran matematika yang emang mematematikan. That day was Friday, and i really mean its Fried day (benar-benar panas--red). And Mr. Shoot-it isn't in a good mood.

tolong jangan biarkan mereka bersatu
Entah karena takdir atau apa, Rehan dipertemukan dengan Dirham dalam sebuah bahtera bangku yang membuat mereka super menjengkelkan dan kombinasi momok yang menakutkan bagi guru manapun.

Ditengah pelajaran, Rehan feat. Dirham sedang bermain dengan lem mereka untuk membuat para gadis terhibur. Tapi sayang, tak satupun dati gadis tersebut terhibur ketika menatap Mr. Shoot-ittepat di belakang Rehan-Dirham dan tentu saja ia sedang tak enak perasaan.

*plaaak

Dirham yang berada di ujung sana terkapar, sedang Rehan sedang berpikir tentang cara untuk melarikan diri tepat ketika celana saekolahnya tersangkut di bangkunya dan sontak membuat seisi kelas tertawa.

Namun semua tawa terhenti ketika penyakit asma Dirham kambuh gagara bogem mentah yang sedikit lembut dari Mr. Shoot-it yang menurutku tidak disengajainya, mungkin dia lagi ada masalah.

Beberapa detik kemudian, kelas kami tiba-tiba berubah menjadi teater dadakan dimana scene nya bercerita dimana dirham tengah diujung sekarat dan ingin mengatakan permintaan terakhirnya, dan Mr.Shoot-it mendengarkan sambil meneteskan air mata tersendu lalu membopongnya dalam keadaan slow motion.

Sejak kejadian itu, kami mulai tak bernafsu mencari masalah dengan Mr.Shoot-it. Dan kelihatannya walaupun tak dicari, masalah itu tetap berdatangan.

--  Shad's Fin --

Hari itu hari ulang tahunku, dan aku gak sepenuhnya sadar dan siap untuk itu. Tentu saja orang sepertiku tak tinggal duduk dan diam untuk memperhatikan kalender.

Semuanya biasa saja, datar, bahkan terlihat sepi dan seram. Entah kenapa semua orang menjauhiku seakan aku baru saja menempelkan permen karet ilegal yang sudah ku kunyah ke bangku mereka.

Ada yang aneh, kulihat ada sebuah rapat tertutup. Para cowok berbisik dan satu kata yang kudengar,"lempar !". Dan para cewek menggeleng tak mampu. Lalu majulah dua lelaki kekar dan bertato, Rehan dan Aslam mengajukan diri.

Bel pulang berdering, aku memutuskan langsung pulang ke rumah. Tanpa sebongkah keringat sehabis maen basket dan setitik kecemasan ketika war clan di perfect world /wf my sparring partner, Apip and Koke.

Satu langkah aku meninggalkan kelas, dan aku mendapati tubuhku terbang dibopong Rehan dan Aslam yang secara de facto dua kali lipat badanku. Aku menjerit seperti perempuan yang hendak diperkosa, dan tentu saja mereka tertawa khas pemerkosa.

tidakkah kau memperhatikan ingus disana?
Depan kelasku terpampang seabuah limbah beracun berisi monster mutasi yang mereka sebut kolam ikan. Dan tampaknya mereka ingin menggunakan kenyataan pahit itu untuk menyakitiku. Lalu disitulah kami terhenti. Aku sedikit memberontak tapi badan goblin ku tak mampu mengalahkan seekor kolor ijo dan segumpal troll bau.

Para gadis ingin ikut melempar, namun tampaknya niat mereka menciut setelah mengetahui sebuah fakta unik dimana tanganku cukup gesit untuk mengerayangi mereka, dan mereka pun memilih menghitung,"1...2...3...!"
Jika kau pernah melihat cara bajak laut melempar tahanannya ke kerumunan hiu lapar sepanjang dua meter, sepeti itulah aku saat itu. Terputar, pusing, dan tentu saja bau. Baunya jauh lebih menyengat daripada di danau loch ness monster yang telah merenggut hape ku.


Aku tak pernah ingat jadi tontonan sekolahan. Para guru, kakak kelas keparat, anak kelas lain, anggota basket ku, tiga orang security guard, Dg. Lamming, and the gangs, dan yang paling buruk seseorang yang kucintai saat itu.


Ada yang simpati (sedikit), tanpa ekspresi (batu), dan girang (hampir semuanya).


Momennya memang tepat dan tempatnya strategis, sepulang sekolah,dan kolam dekat gerbang keluar sekolah. Pastinya aku kelihatan cukup bodoh.


Aku beberapa kali berusaha keluar dari lumpur hidup itu. Namun dengan bantuan (trims) the butcher cs, Appang, Fatir, Indra, Rehan, Apip, Dirham, Aslam, Aco, Hilmy, dan para cowok yang merasa harus berpartisipasi, itu menjadi satu hal yang cukup sulit.


Bercengkerama dengan ikan lele hasil mutasi yang mengerikan, ganggang busuk yang memasuki sepatu dan celana dalamku, serta fakta bahwa aku akan mengidap semacam bau khas sepanjang minggu membuatku kesal dan menggerutu soal parfum baru. Namun jauh dibalik itu, aku senang karena pada akhirnya aku menemukan orang yang seantusias ini merayakan ultahku.


Ketika para penonton sudah merasa cukup terhibur, dan mengucapkan selamat yang diiringi gelik tawa yang menjengkelkan, akhirnya dengan bantuan the butcher fucker cs, aku pun kembali merasakan empuknya tanah.


Setelah meminta maaf dan mengucapkan selamat juga, aku memeluk mereka yang kudapat dan membagikan semua kesenanganku, dan tentu saja beberapa sisik ikan yang bau.

-- Don't wanna be an American idiot --

Another rotten story about the stinky hole named fish pole.

Hari itu cukup bersahabat dan berangin untuk kerja bakti. Beberapa menyapu, menggunting rumput, menyirami bunga, dan yang paling berbahaya adalah membersihkan kolam.

Aku tak pernah ingat kapan terakhir kali kolam ikan itu dibersihkan, menurut sumber terpercayaku, seorang agen rahasia yang menyelundup di bagian kantin, kolam itu tidak pernah dibersihkan sejak dibuat. Hanya disaring airnya, tapi dasar dan lantainya gak pernah disikat. Momok menyeramkan buat Mr. Disk Jockey (selanjutnya dipanggil Mr. DJ) yang memegang bidang kebersihan dan lingkungan sekolah.

aku mulai menyukai anak ini
Untungnya Mr. DJ mempunyai beberapa kaki tangan genit dan salah satunya si Apip.

Entah ikhlas, atau tertekan, Apip bersama Mr. DJ pun memberanikan diri memasuki sarang ranjau itu. Mereka pun kompak mulai menjaring ikan yang selamat dari bencana kejam tersebut. 

Menurut pendapat terakhir, kolam ikan itu biasanya disalahgunakan sebagai toilet darurat yang menyebabkan pigmen hijau merayapi seluruh kolam.

Setelah air kolam diisap, maka mereka pun mulai menyikat. Kuliat ganggang dan lumut disitu mulai membentuk koral dan karang, sisa air disana seperti cairan ijo seperti ingus di video clip nya Greenday -- American Idiot, ikan yang hidup juga sudah bermutasi menjadi kecebong (ikannya emang udah ditangkap semua kali). Sungguh pemandangan yang tragis.

Akhir cerita, menjadi seorang pahlawan memang berat. Jika berhasil kita akan dipuja, namun jika gagal kita akan dihina. Namun hal yang terjadi pada Apip sedikit lain, dia berhasil dan kami tetap menertawakannya.

click to continue...

Senin, 04 Juli 2011

A line of scary words

Gosh! This picture reminded me of my damned bad memories in elementary school. My writing is far more cursed than this, btw this is my brother's cursed handwriting. But of course my english is much better.

Area 71, beware of the dangerous idiot #1

Pagi ini aku dibangunkan oleh Bapakku dengan alasan yang kurang menyenangkan,"tolong pasangkan dasi adekmu !".

Setelah mampu menguasai diri dan memfokuskan lensa mata, aku mencoba memasang dasi itu di leher adekku, but wait, i forgot how to tie a tie !! (i really mean a tie). Dia pun beringsut sambil menggerutu soal terlambat materikulasi. Oh my god, adekku tumbuh dengan cepat dan sekarang dia udah menginjak bangku smp. *hiks

Aku jadi teringat beberapa kejadian ajaib bin gokil yang terjadi di tahun pertama sekolahku di smp, mumpung lagi in a good mood, mending di ceritain :

-- Modi? Seems Familiar --

Sadiq : dilingkari, barisan paling bawah kedua dari kanan
Modi : barisan paling atas sudut kiri
Bapakku adalah tipe orang yang mudah akrab dengan siap saja, talkative, charismatic, dan mungkin ia pernah menjadi salesman pikirku. Jauh berbeda dengan pribadiku waktu itu yang pendiam, uncomunicated, dan tertutup.

Hari itu adalah pertemuan calon siswa baru di SMPN 12 Makassar. Dan secara tidak sengaja, bapakku bertemu dengan teman lamanya mungkin? Tapi ketika kuperhatikan wajahnya tampak familiar. Tapi menurut ingatanku seharusnya di pangkuannya duduk seorang gadis imut yang cantik. Where's she?

"Modi, ini Sadiq eh teman TK mu dulu !", teriak ibu itu.
Di sudut tergelap di kelas itu, disitulah dia sedang duduk di samping seorang cewek dengan gaya rambut yang aneh, mungkin Bob (ngomong-ngomong dia Irma 'Cimoot') dan mereka sedang memandangku sinis.

Aku benci itu, sekan aku punya salah pada mereka. Aku pun menarik tubuh bapakku dengan alasan mules. Setelah mohon pamit sama teman ngomongnya pas nungguin aku dan Modi pas TK, kami pun meninggalkan kelas dan tanpa lupa, aku memberikan tatapan ancamanku kepada dua orang tadi, terutama Modi.

Dan kini baru kusadari kalau waktu itu aku baru saja menerima dan memberikan tatapan cinta kepadanya.

-- Dipenogoro's troops -- 

kengerian apa yang telah
merubahnya jadi begini?
Kelas begitu hening dan sepi, kami semua hanya bertatap muka karena belum saling mengenal dan kenyataan kami sedang berada dalam tahap MOS (Masa Orientasi Siswa). Beberapa yang kukenal adalah Apip, Aco, Dirham, dan Hilmy, itupun karena kami masih berhubungan darah sesama lulusan dari SD Inp. Kampus Unhas/ Unhas 1. Juga Amir dan Rikpan yang kukenal dari hasil usaha SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) sewaktu tes, seorang lulusan Al-Ashri dan SD Inp. Daya yang baik, ceria, dan bersinar (saat itu).

Namun keadaan tadi meleleh bersama kedatangan lima ksatria matahari, Kak Ahmad Razak, Kak Iin, Kak Riri, Kak Ghea dan Kak Auno Rofiq, thanks velo udah ingetin. Mereka lah pemimpin kami, pendamping gugus I, gugus Dipenogoro.

"like we got a supranattral senior that can hipno us become a creative, brilliant, funny, cheerfull, religious, naughty, and fucker student", komentar Amir dan menurutku dia benar.
Kecuali dalam agenda mereka tidak ada acara 'cabut-cabut-cha-cha-cha' yang memberikan motivasi sehingga semua lulusan 7.1 rata-rata memiliki tingkat kelalean yang tinggi. *ngelirik Apip dan Amir

Kami bersyukur mendapatkan pendamping seperti mereka. Selain kreatif, mereka juga menyenangkan dan nggak ngebosenin. Dan itu akhirnya memberikan hasil yang baik ketika gugus kami, dengan menjadi juara 1 dalam lomba gugus terbaik tahun itu dengan yel-yel "we're dipenogoro's troops" hasil adaptasi lagu "anak gembala" nya :

"We're from the group..Dipenogoro..always cheerfull and brilliant too..we ready to get the challenges from you, and exactly we're the winner...Lalalalalalalalalalala"

-- Aco pelari marathon dengan celana merah ketatnya --

Pagi itu aku termasuk penghuni awal kelas, namun masih belum bisa mengalahkan Rikpan dan Apip yang lebih purba kedatangannya. Kami hanya ngobrol-ngidal-ngidul hingga seorang anak berambut cepak dengan celana SD diselubungi baju SMP yang kelihatan absurd yang sontak membuat kami bertiga menggelinjang karena tertawa.

Namanya Aco dan dia dalam bayang-bayang tertawaan kami, dan sekedar info hanya sedikit yang bisa lolos dari kenyataan itu.
Untungnya dia punya cukup semangat dan energi untuk tak memperdulikan kami dan berlari marathon sejauh kurang-lebih 1 km pulang-balik rumah-sekolah dalam 5 menit dan terlihat cukup jantan untuk mengikuti upacara penaikan bendera kami yang pertama.

-- Ipul, korban kuntilanak sesungguhnya --

Deli adalah anak baik dan murah senyum, walaupun tidak semua orang membutuhkannya.

primary victim
primary suspect
Long, long time ago...hiduplah seekor Deli duduk termenung memandangi kolam ikan sekolahku yang semakin lama semakin menghijau, dan takkan berubah selama ia duduk disitu. Tidak lama kemudian, lewatlah seekor Ipul dengan gaya khasnya, jalan tegak dan sering memegangi rambutnya yang seakan setiap ia memegangi rambutnya ia akan terlihat lebih gagah. Namun menurutku hal itu berhasil pada Deli. Menurut Deli, Ipul waktu itu rada-rada too-cool deibandingkan saemua cowok di dubels. (bisa kuterima)

Setiap kali upil, maksudku Ipul lewat di koridor depan kelasku, serentak Deli mempersiapkan vocal group nya yang beranggotakan Jusma, Ulul, dan Amir. Lalu mulai meluncurkan melodi serak yang berbunyi,"Ipuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuul !" disertai bunyi *tiiiiit*  yang berlangsung selama beberapa detik yang mengerikan yang mengakibatkan seisi kelas lumpuh untuk sementara.

best friends ever

Jadi kesimpulannya, setiap kali Upil-nya-Ipul lewat di depan kelas kami, maka bencana besar akan mengiringinya. (sekarang aku tau alasan mengapa Ipul lari kocar-kacir ketika mendengar panggilannya Deli)

Walaupun kelihatannya nggak terlalu seriusa, aku tau jauh di lubuk hati Deli, di bagian tergelap yang tak tersentuh kebaikan sama sekali, di antara himpitan kenangannya bersama Apip, Amir, Aco, Mega, dan Rikpan yang pernah dia kasihi, adalah Ipul saebagai first-love-never-die-is-the-best-of-the-best-nya Delilot.

-- Monokuroboy versus Mr. Shoot-it --

Itu mah cerita lama dimana suatu hari seorang anak yang genit bernama Apip 'Monokuroboy' and the gangs yang sedang mengikuti ulangan matematika. Dan yang sedang menulis di papan tulis tentu saja seorang guru matematika bernama Mr. Shoot-it (kata sapaan untuk menggantikan nama sesungguhnya, entah darimana kata itu di dapatkan, namun aku yakin penemunya adalah Rehan dan kami sedang latihan shoot).

little monokuroboy
Ketika selesai menuliskan soal, Mr. Shoot-it pun berpesan,"jangan lupa tulis nomor absensi dan Nis kalian".

Tiba-tiba beberapa kaki dari bangku ku mengacungkan tangan dan bertanya,"nama iya, sir?", tanya Apip dengan nada mengejek diikuti gelak tawa Rehan yang sakral,

Untuk beberapa detik kukira Mr. Shoot-it akan membalas,"iya, nak", dengan muka innocent nya atau setidaknya,"tentu, kecuali kau bayi besar berpopok yang hilang dan tak punya nama, sedangkan kami sekelas ini sedang makan gulai kambing di hari akikah mu", candanya.

Tak disangka ternyata Mr. Shoot-it menganggap apa yang barusan dilakukan Apip itu sebagai salah satu bentuk 'pemberontakan dan pencemaran nama baik guru oleh murid' (singkatnya 'patotoai').

Dengan wajah berubah 180 derajat, Mr. Shoot-it pun mengeluarkan ultimatum permusuhan kepada Apip dan mengeluarkannya dari kelas saat itu.

Apip yang malang (aku mulai suka anak ini). Jika saja aku bisa mencegahnya dan membisikkan kata-kata yang lebih lembut, mungkin sekarang ia tengah duduk di bangkunya dan kami sudah memulai 'operasi pemencaran kode aritmatika' yang kemudian dipersingkat menjadi 'nyontek'.

click to continue...

Jumat, 01 Juli 2011

Jolly July? or Bully July?

Ya, here we go again, guys ! 1st day in July, semoga bulan ini tumpukan wish list ku bisa berkurang (maksudku ada yang terpenuhi).

Berbicara tentang Juli.

Juli, ng...

Bulan yang paling panas, ya mungkin karena transisi antara musim kemarau dan musim hujan. Tapi kalo dilihat dari keadaan bumi sekarang yang udah mulai aneh, badai dimana-mana, tsunami, gempa bumi, hujan darah, ikan, kodok, untung gak ada hujan duit, bumi udah mulai lupa yang namanya musim, ya mungkin gagara efek global warming yang semakin menggila.

Bulan yang menyenangkan, mungkin seharusnya disebut Jolly July, ya karena Juli kan relatif banget ama liburan musim panas di luar negeri (sialnya gak di Indonesia). Entahlah, orang bule suka amat ama liburan musim panas, berjemur, dll. Orang sini mah ogah banget panas-panasan.

Yang paling sial (pastinya), sesuai ketentuan pendidikan di Indonesia, bulan Juli adalah tahun baru pendidikan yang tetap. Sialnya, aku salah satu newbie di tahun ini. Ya, yang tadinya aku berdiri tegak di puncak tertinggi sebagai seorang elang perkasa menatap adikadik kelasku  yang seolah kodok yang cengarcengir ketakutan hanya karena bayanganku.

Tahun ini aku lah yang bakalan jadi kodok itu. *croaagunk

Bicara soal newbie, anak baru, ya nggak jauh-jauh amat ama yang namanya bully (GAP). Mungkin harus kusebut Bully July.

Teringat aja pas pertama kali masuk di smp dulu. Smp nya sih deket rumah jadi aman aja pikirku. Eh didalamnya ternyata banyak banget bajingan berengsek yang kusebut Senior. Entahlah, mereka kayaknya iri banget, concern banget ama semua yang kita lakuin. Mulai dari baju, style, rambut, motor, sampai pacar. Bicara soal bully, aku punya banyak pengalaman dengan hal konyol itu.

Mulai dari kabar pacaran ku dulu yang sampai ke telinga Tante Mading yang sampe diceramahin trus jadi hot news, salah paham yag mengakibatkan kakak laki-laki pacarku yang sebelumnya ngebonyok-konyokin aku di parkiran belakang sekolah, hari pertama masuk sekolahku yang diwarnai palak-memalak, sampai aku sempat dijadiin dagger's target sama senior ku gagara main basket ketika mereka menyalahgunakan lapangan basket dan bermain bola yang lebih cocok jika kusebut bertinju.

Jauh banget ya keluar arusnya? Haha, maaf nostalgia aja ama masa lalu.

Aku berkeringat. Gak sabar aja buat hari pertama sekolah. Gak papalah di bully dikit, aku rasa itu maklum kok. Malah kalo gak ada yang namanya gituan, adek kelas bakal nentang trus  gak hormat sama kita. Mungkin aja banyak teman baru yang bikin joy. Teman lama pergi, teman baru datang, tapi semuanya tetep di hati kok. *basabasibusuk

Kita liat aja nanti, Jolly July or Bully July? aku mengharapkan keduanya !!! *excited

free counters