Kamis, 03 November 2011

Hujan pun berhenti...

Debat sore tadi panas banget. Motion-nya tentang "This house would recommended the underage to purchase liquor and condom". Untungnya gue dapet posisi 1st speaker di Opening Opposition team, pas banget dah, akhir-akhir ini jareng banget dapat kubu yang kontra. Malas gue sejalan ama Government mulu.

Dapat diartikan menurut pendapat masing-masing.

Jadi, debat selesai. Gak usah nanya tim mana yang menang, abisnya takut sombong nih. Entar orang-orang pada su'udzon mengenai abang gagah ini.

Langit menyeka tangisnya, dibarengi dua-'shit', sial, gak tega gue bilang 'teman', buru-buru gue lari sebelum langit keburu nangis lagi, gak tega gue pulang barengan 'shit-shit' ini.

Tapi di tengah jalan,

*kriiik, kriiik, kriik*...

Gue gak pernah tau bunyi perut si Rehan kalo lagi ngamuk separah itu.

Kemudian, *PING!!!*...

Gue juga kaget kalo bunyi perut si Miftah bahkan gak kalah jayus dibandingin si perut jangkrik di atas.

Dan akhirnya,

*prooot*...

Semuanya hening.

Ternyata bunyi perut gue yang paling mengundang kontroversi dan penyebab polusi suara terbaik. Langit sampe-sampe sempet ngancem bakalan nangis kalo gue kentut lagi.

Kami laper. Semuanya tercermin dari warna aura perut kami yang saling membuncahkan dan meracaukan kemarahan serta kegalauannya.

Sayangnya, anceman langit tadi beneran. Langit nangis sejadi-jadinya, membuat kota Makassar kembali Basah Mami.

Kemudian.

Rencana awal :
naek angkot, singgah di warung coto, makan sampe pegel. Sialnya, hujan-merem gini sopir pete-pete-angkot jadi nyeuh buat susah-susah ngambil anak-anak sekolah yang terlanjur basah mami gini.

Rencana cadangan :
lirik sana-sini nyari warung kaki lima deket jalanan, makan seadanya, dan pulang seadanya, seperti yang telah digariskan Tuhan secara seadanya.

Mata gue perlebar, Miftah mulai menggunakan instingnya, dan Rehan sepertinya mulai mendengus sesuatu dengan hidungnya.

Sepermili-mikro detik berlalu, Rehan telah sampai jauh di ujung sana. Di sebuah toko sekaligus warung bakso dengan label "Sentosa". Tanpa menunggu persetujuan dari kami, pelari cepat itu kemudian memesan tiga mangkuk bakso.

Bakso.

Bulat, kenyel, penuh, kental, sintal, hangat, dan bikin ketagihan. Apalagi hujan, di pencet sana-sini pasti asyik. Jadi gak tahan.

Semuanya aman, dari jauh. Namun semakin dekat, gue jadi semakin parno.

Jualnya Bakso, yang jual originally tionghoa mata rapet pake kalung perak yang mencurigakan, dan ternyata punya sepasang dalmatian galak yang kelihatan serakah. Dan anjing dalmatian ini gak bakalan seimut film animasi garapan Disney, dalmatian ini kelihatan lapar, dirantai, dan tentu saja nyata.

Gue memandang Miftah yang sama bingung dan cemasnya disamping gue, Miftah memandang Rehan dengan harapan kosong, dan-sialnya, Rehan sedang memandang proses penyiraman kuah bakso dengan seriusnya.

Dan inilah kami, duduk dengan masing-masing semangkuk bakso di depan wajah kami. Masing-masing dari kami berkelut, dan saling mamandang satu sama lain.

Sekilas memang gak ada yang aneh dari bakso-bakso imut ini. Tapi jika didalami dengan seksama, melihat kondisi eksternal disekitar kami sekarang, dengan si Tionghoa, sepasang dalmatiannya, dan kalung perak anehnya, ditambah lagi jumlah bakso yang ada di piring itu cuma tiga. Cuma T-I-G-A (sengaja diulang biar tambah mencekam) dan semuanya hitam pekat dan agak keras. Selain itu kuahnya-begitu berbeda.

Kecurigaanku berada di ujung tanduknya, kupikir kami tengah menghadapi saat-saat terdekat kami antara bisikan setan dan rengkuhan Tuhan, atau lebih buruk, tidak keduanya.

Di sudut pandangku kulihat Miftah sedang membentuk simbol tangan bersiap untuk berdoa sebelum menyantap hidangan seperti apa yang mungkin kami kira, memohon ampun atas keterpaksaan serta kesalahan situasi, tempat, dan suasana.

Begitu pula dengan Rehan, namun sekelimit kudengar sayup-sayup, ternyata dia nyengir,"lima ribu bede, baru tiga ji baksonya, ya Allah...Cina takkullei nobo'"

Mungkin di situasi normal, kami bakalan menganggapnya sebagai sebuah gurauan. Tapi hei, sulit untuk menikmati gurauan saat hidupmu sendiri bahkan terasa seperti salah satunya. Kami sedang berhadapan dan cukup tergoda dengan apa yang sejauh ini kami asumsikan sebagai bakso babi.

Itadakimasu... salam dari tuan babi...

* * *

Yang terdengar dari tempat itu hanya dentingan sendok dan garpu yang saling memukul sama kerasnya dengan mangkuk, kami hanya ingin makan dengan tenang dan tanpa rasa bersalah sekalipun, lalu membayar dan pulang dengan damai. Sekali lagi, cuma menjalani proses alamiah manusia, makan, dan bukan menikmatinya.

Untungnya, setibanya di angkot, Rehan yang paling bijaksana diantara kami kemudian menafsirkan kejadian dengan positif dan membuat sebuah kesimpulan yang cukup menenangkan.

"Apa poe kalo jadi Tai mi..."

free counters