Selasa, 08 Mei 2012

Untitled

Sebuah gambar buatannya di dalam catatan ku, sebelum kami putus.
Sebuah gambar buatannya di dalam catatannya, setelah kami putus.
Well, sebelum di tenggelamkan gue udah tenggelam duluan kok, hahaha. Sisi positif: Gambarnya di catatanku lebih bagus dan berwarna :)

Rabu, 02 Mei 2012

Untitled

Emptiness is killing me. Hits my face like the moon crashes the sun. Make a lonely ton of pain. So I gotta run, pick up my shotgun, and shoot everyone I hate to, intimidate everyone I love to, and knock everyone I don't want to. Ask them to end this show. Eeeny, meeny, miny, moe... . Fuck life. Fuck liars around me. Fuck noise. Fuck love.

All I need is some happiness. So I could stop to write this fucking words and fucking use it in everyfuckingwhere in this fucking sentence.

I hate when people say I am not happy. For me, happiness is a thing secretly combined with thousands of unfulfilled expectations. Unfilled, not yet. And I'm sure one day will be reached before the day that I die.

Or should I ask my parents to kill me now? They'd be glad to.

Selasa, 13 Maret 2012

Malaikat Tanpa Sayap

Biar lebih hikmat, kalau koneksi cepat ada baiknya diiringi dengan lagu ces.


"Dalam hidup, gak ada jaminan buat terus bahagia. Gak ada kepastian buat apapun, setiap orang bisa terlempar dari kotak rasa nyamannya itu secara tiba-tiba.." 

Alhamdulillah, gue bersyukur banget film Indonesia bergenre drama keluarga kembali menghiasi layar lebar tanah air. Film ini judulnya “Malaikat Tanpa Sayap” sangat pas ditonton oleh para remaja dan orangtua yang gak akur. Skenario film ini ditulis oleh Anggoro Saronto dan disutradarai oleh Rako Prijanto. Yang menarik dari film ini adalah banyak menampilkan dialog puitis, faktualitas hidup, dan jernihnya arti cinta yang sesungguhnya.



Film ini mengisahkan betapa berartinya sebuah keluarga. Makna terdalam dari cerita film ini mengajarkan kita akan arti pengorbanan dan perjuangan seorang remaja untuk keluarga dan orang yang dicintainya.

Kisah dalam film ini bermula dari kehidupan Vino (yang diperankan Adipati Dolken), seorang remaja tanggung yang berasal dari - mantan -keluarga kaya. Vino remaja normal ababil yang tak pernah peduli dengan permasalahan keluarganya.

Suatu ketika Ayah Vino, Amir (diperankan Surya Saputra) usahanya bangkrut karena ditipu oleh rekan bisnisnya. Rumah Vino disita Bank demi menutupi hutang ayahnya. Ibu Vino, Mirna (diperankan Kinaryosih) yang terbiasa hidup berkecukupan, tidak dapat menerima kenyataan itu. Mirna dengan tragis memilih meninggalkan keluarganya padahal ia memiliki putri kecil yang masih berusia 5 tahun, Wina (diperankan Geccha Qheagaveta).

Keluarga Vino harus menanggung semua akibat dari keterpurukan usaha Amir. Mereka terpaksa tinggal di sebuah kontrakan di lingkungan kumuh. Belum lagi ketika ayah Vino tak mampu membayar uang SPP Vino. Akibatnya Vino harus dikeluarkan dari sekolah. Di tengah situasi yang kacau itu, ternyata Wina mengalami kecelakaan. Wina terjatuh di kamar mandi. Akibatnya jika Wina tidak segera dioperasi, kakinya terancam diamputasi.

Pikiran Vino semakin kacau dan galau, ia bahkan sempat berpikir bunuh diri. Ia hanya seorang remaja biasa, yang tak tahu harus bagaimana lagi. Pura-pura tua untuk melewatinya atau pura-pura muda untuk menghindarinya. Ia sangat menyesalkan mengapa ayahnya membuat kehidupan mereka porak poranda. Di tengah kegalauan hatinya, Vino bertemu dengan broker bernama Calo (diperankan Agus Kuncoro). Calo menawarkan Vino agar ia mau menjual organ tubuhnya (jantung) untuk didonorkan kepada seseorang untuk menutupi biaya operasi adiknya. Vino yang tidak suka diberi pilihan malah marah, namun alasan Calo benar juga. Daripada bunuh diri yang sia-sia, lebih baik menguangkan hidup yang kita punya.

Tawaran Calo tersebut tak langsung diterima Vino. Vino dan Amir masih berupaya dengan berbagai cara untuk mendapatkan uang demi mengoperasi kaki Wina. Namun usaha mereka selalu gagal.

Pikiran Vino kalut. Dengan sangat terpaksa, akhirnya ia menerima tawaran Calo tersebut untuk mendonorkan jantungnya demi mendapatkan uang. Calo memberikan uang muka kepada Vino atas persetujuannya menjual jantungnya. Dengan uang itu Vino bisa membiayai operasi Wina. Vino juga bisa menebus kembali rumah lamanya yang telah disita bank.

Saat Vino berada di rumah sakit untuk mengurus keperluan operasi Wina, secara tak sengaja Vino bertemu dengan seorang gadis manis, Mura (diperankan Maudy Ayunda) .


Mura, gadis yang sebaya dengan Vino memiliki kehidupan keluarga yang hangat. Hubungan Mura dan ayahnya (diperankan Ikang Fawzie) begitu berbanding terbalik dengan kehidupan Vino yang selalu berselisih paham dengan Amir.

Perbedaan Vino dan Mura justru menjadi pelengkap bagi keduanya. Mura yang kesehariannya hanya memiliki teman di dunia maya dan mengikuti homeschooling itu merasa nyaman berteman dengan Vino yang memiliki banyak teman meskipun telah putus sekolah.



Hubungan Mura dan Vino semakin dekat dan akrab. Sejak mengenal Vino, Mura menjadi gadis yang penuh semangat dibanding sebelumnya. Ia nampak lebih ceria menjalani hari-harinya. Demikian pula halnya dengan Vino. Ia mulai peduli dengan ayah dan adiknya.


Kegalauan hati Vino mendadak muncul saat calo menagih janji Vino untuk mendonorkan jantungnya. Sejujurnya Vino belum siap memberikan jantungnya dan berniat mundur. Tapi bagaimana mungkin Vino bisa mengganti uang yang telah diterimanya dari Calo.

Masalah semakin pelik di tengah kegamangan hati Vino. Betapa ia ingin melanjutkan masa depannya dengan organ tubuh yang lengkap. Namun di lain sisi, Vino harus menerima kenyataan bahwa orang yang akan menerima donor jantungnya adalah Mura, gadis yang sangat dicintainya.

Untuk mengetahui siapakah malaikat tanpa sayap tersebut, silakan tonton film ini. Begitu banyak kisah mengharukan yang ditampilkan dalam film drama keluarga ini. Yang patut diacungi jempol adalah film ini tidak mengumbar adegan-adegan ciuman layaknya film remaja pada umumnya.


Film ini juga diiringi alunan lembut “Malaikat Juga Tahu” Dewi Lestari. Film ini serentak ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia tanggal 09 Februari, buruan nonton !

Terus mendukung perfilman Indonesia untuk bangkit. Tunjukan kualitas film kita. Masyarakat kita merindukan tontotan yang sarat edukasi untuk mendidik akhlak generasi muda bangsa ini. Bukan sekedar disuguhkan tontonan yang hanya mengumbar kevulgaran tubuh wanita, cerita-cerita mistik atau kehidupan glamour kaum jetset. (* + +)

Kamis, 01 Maret 2012

Annivailed

Hari ini gue seneng banget. Semua orang seakan senang dalam perayaan hari ini. Gue gembira, temen-temen gue gak berhenti mengucapkan selamat dan gue gak berhenti ketawa. Gue merasa seakan hari ini sekolah libur khusus buat gue, dalam artian anak-anak lain belajar dan gue molor. semuanya baik, normal sekali.

Pulang sekolah, gue dijemput supir gue pake pete-pete. Temen-temen yang tadi ngucapin selamat ke gue buat hari ini gue ajak naik juga, kasihan mereka gak pernah naik pete-pete. Mereka sangat berterima kasih, lagi-lagi mereka ngucapin selamat sampai gue hampir nangis karena gembiranya, semuanya baik, normal sekali.

Pas masuk di perumahan tempat gue tinggal. Gue ketemu sama adik-adik kelas gue di smp dulu dan mereka juga mengucapkan selamat, gue sayang ama mereka. Mereka masih unyu dan gue merasa mereka harus turut bahagia hari ini. Jadi gue traktir mereka makan bakso, gue makan baksonya mereka makan tusuknya, semuanya baik, normal sekali.

Sampai di rumah, gue jadi inget tahun-tahun yang lalu. Dimana gue juga pernah merayakan hari spesial ini. Dulu, waktu gue punya pacar.

Gue suka semua hal yang ada pada pacar gue yang dulu ini. Begitu banyak cerita yang gue lalui bersama beliau.

Gue ingat pas pertama gue jadian, hari itu adalah hari ini namun perayaannya berbeda. Saat itu orang-orang lagi merayakan hari kelahiran dia, Maulid. So, udah jelas kan kenapa nama belakangnya 'Maulidya'?

Oke, cara gue nembak dia sangat absurd.

Dia memperhatikan ustad, gue memperhatikan dia >> dia ngeluh tentang ceramah, gue berbisik tentang cinta >> dia ngangguk tanda terima, gue ngangguk tanda gak ngerti >> dia bisik cinta, gue malah ngeluh tentang ceramah >> dia memperhatikan gue, gue malah memperhatikan ustad. #krik

Dalam prosesi selanjutnya, pacaran kami sangat fantastis. Berbeda dengan anak baru pacaran lainnya, kami sangat akrab dan orang lain pasti berpikir kami bersaudara. Kami sering menghabiskan waktu bertiga. Gue, dia, dan setan yang selalu gagal menggoda kami untuk melakukan hal yang enggak-enggak.


Masa awal pacaran kami sangat indah. Layaknya remaja ababil yang normal, kami sering main persamaan dan perbedaan.

Dalam logika matematika, jika kami menemukan suatu kesamaan antarsatu sama lain, maka akan timbul pernyataan 'Kita sama, maka kita adalah jodoh'. Dan ingkarannya, jika kami menemukan banyak perbedaan, maka akan timbul pernyataan 'Perbedaan dan tidak sama lah yang membuat kita saling melengkapi'.

Kesimpulannya, apapun yang kami temukan baik itu kesamaan maupun perbedaan maka hasilnya tetap saja saling mencocokkan satu sama lain. Begitulah, gue bersyukur gue udah dewasa dan melewati fase alay ini.

Salah satu dari banyak persamaan semu yang kami temukan adalah kami jarang sarapan di rumah. Sebagai pasangan yang selalu sibuk smsan sampai begadang, kami tentu gak akan sempat bangun tepat waktu untuk sarapan. Jadi kami selalu sarapan di kantin sekolah, tiap pagi, bertiga bersama tante kantin.

Dan salah satu dari perbedaan jelas kami adalah gue suka membaca novel dan dia seneng ngembek kalo gue lagi membaca. Sampai sekarang gue masih bingung, kenapa ya cewek-cewek sering cemburu dengan benda-benda mati? Semacam buku, futsal, game, dan lain-sebagainya.

Namun yang akhirnya gue mengerti adalah mereka butuh perhatian, sepenuhnya dan hal itulah yang berusaha gue lakukan. Gue selalu berusaha perhatian buat dia. Walaupun gue tau perhatian gue gak akan pernah cukup dibandingkan perhatiannya.

Semakin lama, kami semakin tak terpisahkan. Begitu banyak problematika yang menguji hubungan kami, mulai dari munculnya rasa cemburu dan posesif yang tinggi, gosip yang miring, sampai yang paling serius kami pernah di fitnah dan berurusan dengan guru.

Gue gak akan pernah lupa dengan peristiwa itu. Saat-saat dimana gue sama doi disidang, walaupun tersudutkan dan dikepung tatapan guru yang dingin kami tetap berpegangan tangan. Saling menenangkan dan membela satu sama lain hingga masalah selesai dan guru tersebut meminta maaf.

Cinta, itu yang membuat kami tetap bertahan. Dan apakah yang akhirnya membuat kami berpisah? Waktu kah?

Begitu banyak cerita yang ingin gue ceritakan, semua yang terjadi kemarin akankah terulang hari ini. Namun sayang, hari ini hanya terdiri dari 24 jam yang gak akan pernah cukup menceritakan semuanya. Biarkan aku tetap bercerita tentang kenangan, biarkan kenangan tetap bersemayam dalam hati. Walaupun mungkin besok gue akan mencari cerita baru, memulai halaman baru tanpa namanya.


Oh iya, hari ini masih hari Kamis tanggal 1 Maret 2012, hari Kamis yang baik, dan normal sekali. Dan perlu kalian tahu, gue seneng banget semua orang merayakan hari "HAPPY *failed* ANNIVERSARY" ini. Selamat malam.

Kamis, 09 Februari 2012

I'm with her, Mom

Aku galau, aku sedih, aku menderita. Aku terima.

Dia bahagia, dia senang, dia tertawa. Aku terima.

Tapi...

Innalillahi, Wainnailaihi, Rojiun. Aku gak terima.

Disaat-saat harusnya dia bahagia, dia senang, dia tertawa, mengapa Engkau membuatnya menangis, sungguh bukti kekuasaan yang Maha Tiba-Tiba nan pahit.

Ini kali keempat aku harus menyaksikan teman-temanku kehilangan orangtuanya di depan mataku. Kali keempat dari yang nggak pernah kuinginkan. Dan yang satu ini begitu berbeda. Dulunya dia adalah calon nenek dari anak-anakku yang gak akan pernah lahir lagi. Dia salah satu dari sedikit orang yang percaya padaku.

Beberapa jam yang lalu, seorang ibu meninggalkan anak gadisnya, suaminya, keluarganya untuk selamanya. Menggantung senapan berat yang selalu dipikulnya, terbaring tenang setelah perjuangannya, membela dan melatih anak-anaknya. Sesuatu proses yang membutuhkan taktik perang yang hebat.

Matanya hitam keabu-abuan, penuh kewaspadaan dan angin badai, seakan-akan selalu sigap untuk menerkammu disaat lengah. Tapi sekaligus memancarkan keanggunan, pengetahuan, dan rasa percaya diri yang tinggi.

Rambutnya keriting berliku-liku, susah ditebak. Alisnya tipis berkabut, halus dan penyayang, namun selalu punya cara lain untuk menunjukkannya. Wajahnya bulat, tapi senantiasa membentuk siku penuh ketegaran.

Aku merindukanmu, bu. Disaat dimana kau menelpon dan mengirimkan pesan ketika khawatir dengan anak gadismu, dan kau menyuruhku agar tidak memberitahukan itu pada anakmu.


"Yang penting modi baik-baik saja, nak", katamu.

Selalu mengingatmu, bu. Disaat pertama kali kau mendapati kami sedang bermesraan di tangga mal. Kepercayaan, itu yang kau ajarkan saat itu.

Takkan kulupa, bu. Disaat aku mengantarkan anakmu pulang tanpa pengaman motor dan kau marah-marah karena khawatir kami akan terjadi apa-apa. Aku malu, bu. Saat itu aku berjanji akan mengantarkan anakmu dengan mobil mewah dan aman suatu hari nanti.

Aku rindu, ibu.

Lihat betapa miripnya dia denganmu, bu.

Maaf telah banyak sok tahu tentang dirimu, ibu. Tapi terima kasih telah melahirkan dewi yang sangat indah di muka bumi ini, ibu. Seorang gadis muda yang keras dan tangguh sepertimu. Terima kasih telah melatih dan merawatnya, sehingga aku bisa belajar banyak hal dari dirinya. Sesungguhnya tidak ada ibu yang lebih beruntung di muka bumi ini selain dirimu. 


Seorang ibu yang bahkan lebih baik dari ibuku.

Dan ketika tiba saat di mana pamakamanmu tiba, aku akan menjadi orang yang paling pertama percaya bahwa kuburan tersebut adalah jejak seorang malaikat.

Memang benar orang baik capat mati. Semoga diterima di sisi-Nya, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu. Untuk seorang menantu gagal yang mencintai kesuksesan mertuanya. Dan oh iya, sekarang anakmu sudah menemukan pengganti ku. Namanya Billy Bobby Putra, dan aku percaya dia sangat baik untuk anakmu.

Tapi tentu saja, aku selalu disini. Tiga bangku disampingnya, mengawasi dan mengaguminya. I'm with her, mom. I'm with her.

Kamis, 26 Januari 2012

Capek

Gue mulai menyerah mengikuti langkah mantan gue yang move on nya cepat banget itu. Gue merasa ketinggalan karena apa yang beberapa minggu belakangan ini gue lakuin cuma menjadi 'hantu' di hubungan mereka. Setiap beberapa menit gue gelisah, gue merasa harus nge check timeline mereka, menyaksikan bagaimana cinta tumbuh dalam garis waktu yang singkat. Timbul satu pertanyaan, yang seharusnya gue sendiri bisa menjawabnya. 'Apakah dia benar-benar cinta dengan cowo itu?'

Gue mulai sadar, gue harus berhenti menjadi 'hantu' yang bergentayangan di timeline kalian. Berhenti jadi bayangan pencemburu yang cuma diam. Berhenti menjadi seseorang yang selalu menyalahkan dirinya atas kegagalan dalam suatu hubungan. Gue harus bergerak.


Sekarang gue belajar bagaimana hidup sendiri, dimana orang-orang disekeliling gue belajar bagaimana hidup berdua. Setengah hidup disaat orang-orang diluar sana saling menghidupkan.

Sayang, butuh waktu yang lama hanya untuk membuat gue merasa baikan. Untuk mengingat bagaimana mengembalikan cahaya dalam mata gue.

Hingga akhirnya gue udah tumbuh menjadi sangat kuat, sangat kuat untuk tidak kembali sama lo lagi.

Jumat, 02 Desember 2011

Megananda Septianto

Mengawali harinya sebagai manusia darah campuran Bugis-Jawa pada tanggal 22 September 1996, di sela-sela ilalalang dan padi di kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, dari rahim seorang ibu, Heli yang ditemani sang suami, Lulus Karsono. Pria humoris ini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya dengan diasuh oleh nenek di kampung, sebelum akhirnya hijrah ke Makassar untuk bersatu kembali dengan kedua orangtua dan adik perempuannya.

Selalu berusaha menjadi manusia pembelajar dan tak pernah berhenti untuk berkawan dengan buku dan pena sejak memulai riwayat pendidikannya dengan memasuki Taman Kanak-Kanak Cahaya Ilmu Sidrap, lalu SD Inp. Paccerakkang Makassar, naik tingkatan menuju SMP Negeri 12 Makassar, dan sedang belajar mati-matian agar cukup layak disebut manusia di SMA Negeri 1 Makassar.

Pria yang terkenal sangat kritis ini mempunyai hobi membaca buku, nyanyi, joget, bermain futsal, dan ngaskus. Selain itu, ia juga hobi bermain airsoftgun, trade dueling card, dan blogging. Mempunyai sifat dominan karnivora yang sangat membenci sayuran, telur, ikan, dan seafood lainnya.

Selain itu, pria ini juga seorang yang sangat aktif dalam berorganisasi. Tercatat ia termasuk anggota grup vokal kawakan Trio OVD, Kaskuser Makassar, Kancut Keblenger, Drama musikal, Pasukan pengibar bendera (Paskib), dan Karya Ilmiah Remaja (KIR).


Orang hebat adalah orang yang mengidolakan orang yang hebatAde Wibowo”. Demikian kata mutiara tersebut terjadi pula pria ini yang mengidolakan kiper utama klub Chelsea, Peter Cech dan vokalis band Queen, Freddy Mercury.

 

Walaupun merasa tidak romantis dan mempunyai catatan sejarah kisah cinta yang selalu berakhir tragis dan menyeramkan, setelah ditolak diberbagai genre kisah cinta sebelumya, akhirnya pria yang juga jago baca puisi ini dapat merajut kisah cintanya sendiri setelah cukup depresi malang melintang mencari cinta.


Pria yang imut ini mempunyai cita-cita menjadi seorang pakar telematika dan psikiater. Dan sepertinya hal tersebut bukan merupakan hal yang sulit, mengingat semua prestasi hebat yang telah diraih oleh jagoan Kimia ini. 

Sebagian kecil prestasinya adalah juara 3 pada lomba model busana muslim dan juara 2 lomba lagu daerah saat ia berusia 6 tahun, juara umum lomba tusuk botol pada usia 9 tahun, juara 1 lomba “British Fair” saat duduk di bangku Smp kelas 2 dan yang terakhir turut berperan dalam menyabet juara 1 pada lomba baris-berbaris Smada competition.

 

Demikianlah sebuah bingkai sederhana mengenai seorang pria yang hidup berdasarkan cinta dari orang yang tersayang dan kaskus, hidup dengan membayangkan dirinya sebagai Roy Suryo, dan berbagai prestasi yang didukung kemampuan melamun yang hebat. (*)

Kamis, 03 November 2011

Hujan pun berhenti...

Debat sore tadi panas banget. Motion-nya tentang "This house would recommended the underage to purchase liquor and condom". Untungnya gue dapet posisi 1st speaker di Opening Opposition team, pas banget dah, akhir-akhir ini jareng banget dapat kubu yang kontra. Malas gue sejalan ama Government mulu.

Dapat diartikan menurut pendapat masing-masing.

Jadi, debat selesai. Gak usah nanya tim mana yang menang, abisnya takut sombong nih. Entar orang-orang pada su'udzon mengenai abang gagah ini.

Langit menyeka tangisnya, dibarengi dua-'shit', sial, gak tega gue bilang 'teman', buru-buru gue lari sebelum langit keburu nangis lagi, gak tega gue pulang barengan 'shit-shit' ini.

Tapi di tengah jalan,

*kriiik, kriiik, kriik*...

Gue gak pernah tau bunyi perut si Rehan kalo lagi ngamuk separah itu.

Kemudian, *PING!!!*...

Gue juga kaget kalo bunyi perut si Miftah bahkan gak kalah jayus dibandingin si perut jangkrik di atas.

Dan akhirnya,

*prooot*...

Semuanya hening.

Ternyata bunyi perut gue yang paling mengundang kontroversi dan penyebab polusi suara terbaik. Langit sampe-sampe sempet ngancem bakalan nangis kalo gue kentut lagi.

Kami laper. Semuanya tercermin dari warna aura perut kami yang saling membuncahkan dan meracaukan kemarahan serta kegalauannya.

Sayangnya, anceman langit tadi beneran. Langit nangis sejadi-jadinya, membuat kota Makassar kembali Basah Mami.

Kemudian.

Rencana awal :
naek angkot, singgah di warung coto, makan sampe pegel. Sialnya, hujan-merem gini sopir pete-pete-angkot jadi nyeuh buat susah-susah ngambil anak-anak sekolah yang terlanjur basah mami gini.

Rencana cadangan :
lirik sana-sini nyari warung kaki lima deket jalanan, makan seadanya, dan pulang seadanya, seperti yang telah digariskan Tuhan secara seadanya.

Mata gue perlebar, Miftah mulai menggunakan instingnya, dan Rehan sepertinya mulai mendengus sesuatu dengan hidungnya.

Sepermili-mikro detik berlalu, Rehan telah sampai jauh di ujung sana. Di sebuah toko sekaligus warung bakso dengan label "Sentosa". Tanpa menunggu persetujuan dari kami, pelari cepat itu kemudian memesan tiga mangkuk bakso.

Bakso.

Bulat, kenyel, penuh, kental, sintal, hangat, dan bikin ketagihan. Apalagi hujan, di pencet sana-sini pasti asyik. Jadi gak tahan.

Semuanya aman, dari jauh. Namun semakin dekat, gue jadi semakin parno.

Jualnya Bakso, yang jual originally tionghoa mata rapet pake kalung perak yang mencurigakan, dan ternyata punya sepasang dalmatian galak yang kelihatan serakah. Dan anjing dalmatian ini gak bakalan seimut film animasi garapan Disney, dalmatian ini kelihatan lapar, dirantai, dan tentu saja nyata.

Gue memandang Miftah yang sama bingung dan cemasnya disamping gue, Miftah memandang Rehan dengan harapan kosong, dan-sialnya, Rehan sedang memandang proses penyiraman kuah bakso dengan seriusnya.

Dan inilah kami, duduk dengan masing-masing semangkuk bakso di depan wajah kami. Masing-masing dari kami berkelut, dan saling mamandang satu sama lain.

Sekilas memang gak ada yang aneh dari bakso-bakso imut ini. Tapi jika didalami dengan seksama, melihat kondisi eksternal disekitar kami sekarang, dengan si Tionghoa, sepasang dalmatiannya, dan kalung perak anehnya, ditambah lagi jumlah bakso yang ada di piring itu cuma tiga. Cuma T-I-G-A (sengaja diulang biar tambah mencekam) dan semuanya hitam pekat dan agak keras. Selain itu kuahnya-begitu berbeda.

Kecurigaanku berada di ujung tanduknya, kupikir kami tengah menghadapi saat-saat terdekat kami antara bisikan setan dan rengkuhan Tuhan, atau lebih buruk, tidak keduanya.

Di sudut pandangku kulihat Miftah sedang membentuk simbol tangan bersiap untuk berdoa sebelum menyantap hidangan seperti apa yang mungkin kami kira, memohon ampun atas keterpaksaan serta kesalahan situasi, tempat, dan suasana.

Begitu pula dengan Rehan, namun sekelimit kudengar sayup-sayup, ternyata dia nyengir,"lima ribu bede, baru tiga ji baksonya, ya Allah...Cina takkullei nobo'"

Mungkin di situasi normal, kami bakalan menganggapnya sebagai sebuah gurauan. Tapi hei, sulit untuk menikmati gurauan saat hidupmu sendiri bahkan terasa seperti salah satunya. Kami sedang berhadapan dan cukup tergoda dengan apa yang sejauh ini kami asumsikan sebagai bakso babi.

Itadakimasu... salam dari tuan babi...

* * *

Yang terdengar dari tempat itu hanya dentingan sendok dan garpu yang saling memukul sama kerasnya dengan mangkuk, kami hanya ingin makan dengan tenang dan tanpa rasa bersalah sekalipun, lalu membayar dan pulang dengan damai. Sekali lagi, cuma menjalani proses alamiah manusia, makan, dan bukan menikmatinya.

Untungnya, setibanya di angkot, Rehan yang paling bijaksana diantara kami kemudian menafsirkan kejadian dengan positif dan membuat sebuah kesimpulan yang cukup menenangkan.

"Apa poe kalo jadi Tai mi..."

Jumat, 21 Oktober 2011

#1310

Dimana-mana banyak pasangan berduaan. Tetapi bagaimana mereka sampai bertemu, bagaimana kisah mereka bermula, gue gak peduli. Gue punya kisah cinta yang patut gue kenang selamanya.

Kudapati diriku memandangnya, tindakan ekstrem yang sudah kulakukan bermiliar-miliar kali. Tingginya dan aku hampir sama akhir-akhir ini, dan hal itu bahkan terasa lebih melegakan.

Hampir.

Sayangnya, secara eksak dia-sedikit-lebih tinggi dariku.
Rasanya sedikit mengintimidasi.

Tapi dia manis.

Oke, maksudku-memang-dari dulu dia imut, tapi dia mulai jadi cantik banget. Biasanya kami gak bakalan bisa memulai suatu interaksi cinta tanpa sebuah ajang baku hantam, dan memang itulah kenyataannya. 

Aku cinta dia, dia cinta aku. Gak satupun dari kami yang mencintai mereka. #abaikan


Kalo diingat apa yang telah kami lalui selama ini, rasanya pengen nangis. Begitu banyak perkelahian, penginjak-injakan, penindasan, dan tangis. Namun kadangkala, kami sering bercanda dan tertawa-menertawakan orang lain, membisikkan kata-kata cinta, dan merangkai mimpi-mimpi indah.

Semuanya dilakukan dengan cinta dan rasa bahagia saat itu, setidaknya gue harus bilang gitu, kalo nggak Modi pasti bakal membunuh gue.

Stop.

Gue jadi ingat saat pucuk-pucuk cinta pertama mulai merekah. Bersama putri Maulidya, ketika matahari sepanas-panasnya di awal tahun. Di negeri Gorens, kerajaan Opera Van Dubels, kami dipertemukan.

Seorang dukun jadi-jadian, terpaksa gue sebutin, Deli Datu Arung-lah yang mempertemukan hati kami. Bertindak sebagai mak comblang, biasanya dia minta beberapa tumbal. Walaupun berat dan beresiko, setiap istirahat jam pelajaran terpaksa gue berkorban duit demi beberapa snack.

Emang sih, gue ama dia udah kenal lama, sering SKSD juga, tapi baru pas itu gue ngerasa lain banget. Sesuatu dalam diri gue menggeliat dan memberontak.

Gue jatuh cinta. Sudah pasti bukan sama si dukun goblok.

Jadi, akhirnya kami jadi sering menghabiskan waktu bersama. Smsan, telponan, ngerumpi, sampai makan nasi goreng sepiring berdua yang samasekali gak romantis karena faktor bokek nya si gue.


Saat itu, rasa canggung masih melingkupi kami berdua. Kami bagaikan singa yang haus cinta kalo lagi smsan atau telponan. Tapi kalo face to face, gak lebih dari sepasang kucing kecil yang mau pipis.

Tapi lambat laun kami semakin dekat, akrab, dan menyatu. Hati gue cuma buat dia, hati dia cuma buat gue. Gak ada yang berani tanpa hati-hati mendekati hati-hati kami.

Akhirnya, awal Maret hubungan kami pun mengikat janji resmi.

Kami pacaran. 

 
Semuanya berjalan baik, gue putih dia putih. Gue hitam dia hitam. Kami sejalan dan sehati, hati ke hati.

Saking dekatnya, sampai kisah kami menjadi buah bibir di semua kalangan. Adik kelas, musuh, teman, kakak kelas, batu, kolam, ikan, sampai guru-guru.


Tapi masalah lama muncul kembali, sesuatu yang membuat rasa cemburu mulai tumbuh. Kombinasi iri dan dengki menyayat hati dan mengikis cinta yang mulai membuat jadi sering berantem.

Akhirnya, diakhir tahun...
kami memutuskan untuk memutuskan hubungan kami.


Waktu berlalu, tak terasa kami kembali bertemu di sekolah yang sama, bahkan sekelas. Namun sayangnya tidak dalam hubungan yang sama. Gue udah putus ama dia.



Dan akhirnya hari-hari itu pun tiba.

Hari-hari tak berbicara dengannya, hari-hari tak bisa meneleponnya, hari-hari yang tak pernah gue bayangkan akhirnya mejeng di kalender kamar gue.

Tapi dia terkadang masih melemparkan senyum manisnya, dan hati gue serasa ditendang. Masih ada cinta di senyumnya. Gue ingin percaya, bahwa dia memang masih menungguku.

Tapi ternyata gue salah, dia ternyata move on nya cepat sekali. Dia barusan jadian sm mantan lamanya, si Batagor. Gue yang sama sekali gak tau cara make deodoran roll on sampe kaget, sewaktu salah satu sahabat gue menyampaikan kabar buruk ini.

Gue gak tau kenapa, gue galau banget. Lu semua pasti gak tahu gimana rasanya sekelas sm mantan pacar yang cepat banget move on nya. Semangat belajar gue abis men, mau makan ingat dia, mau tidur ingat dia, pas mau ingat dia, gue lapar dan ngantuk. Asli galau gue.

Hubungan gue sekarang ama dia gak jelas, sebagai cowok tulen gue menginginkan perpisahan yang baik, namun gue masih belum biasa dalam kondisi seperti ini, gue mantan yang gagal total.

Gue cuma mau dia tahu kalo gue cinta dia kemarin, hari ini, dan besok. Sebagai teman, sahabat, pacar, mantan, musuh.

Nama gue Muhammad Shadiq, baru aja dapat gelar sebagai The man who can't be moved...

Senin, 03 Oktober 2011

Opera Van Dubels #anjing?

click to go back...

Permisi. gue mau pamer karya tangan gue lagi nyoretin dinding lab biologi sekolah. (jangan ditiru di lab biologi kamu !!)

#abaikan
Oke, kita mulai dari gambar ini. Pertama, gue mau ngejelasin setiap unsur plus struktur gambar tersebet. Dimulai dari tulisan OVD-nya. Huruf V-nya sengaja gue ganti dengan simbol peace biar kelihatan cinta damai gitu, trus gue tulis "Peace, Love, and Gaul" dan hasilya orang-orang ngehina gue makhluk dari Planet Remaja (emang ada?).

Trus soal adanya hal aneh, masjid yang bersebelahan dengan gereja. Didalam kelas gue, soal kepercayaan ada dua, Islam dan Kristen (gue sengaja gak nyebut beberapa orang yang menganggap diri mereka Tuhan). Demi menciptakan kelas yang kondusif dan asyik, beken, gaul, gilakh, jadi menurut gue kita gak perlu saling ngebeda-bedain teman hanya karena si Fulan atau si Robert beda agama dengan kita. Ibunda Justina kan udah berkali-kali nerangin ke kita, bukan?




Terakhir, soal manusia yang mirip alien botak raksasa dengan hullahoop melayang diatas kepalanya lagi ngedek di belakang gedung. Yah, saat itu mood gue lagi gak jelas, anggap aja makhluk itu gak ada. #abaikan

Pindah ke permasalahan selanjutnya, akibat dari gambar tersebut. Adanya gambar tersebut memancing munculnya partai-partai nama kelas yang lain. Dan beberapa mengakibatkan pertikaian yang serius.

Contohnya kelas gue, diejek Ovede Anjing. MySpace

Gila aja, bagian mana yang mewakili kebinatangan dari kelas kami? Sungguh daya nalar yang sangat rendah dimana mereka tidak sadar bahwa mereka lah anjing tak bertuan yang mereka singgung-singgung.

Apa gue udah cerita kalo angkatan gue terbagi atas dua kubu? Kubu Rsbi (yang kemudian disebut Gorens--Gedung Orens) dan Kubu Reguler. Yah, menurut gue itulah penyebab utama permusuhan dan perang dingin antara kedua kubu ini.

Berlari ke Gedung Orens. Di Gorens inilah kelas gue berada. Bertetangga dengan Dadu (Delapan-Dua) dan Detigh (Delapan-Tiga). Dan akibat ejekan yang tadinya terus-menerus menghantam kelasku, maka pada akhirnya kelasku berganti nama menjadi  virus Desa (Delapan-Satu).

Nah, di Gorens ini beberapa kali terjadi perang saudara sesama komunitas Rsbi. Beberapa terjadi hanya karena rasa iri dan gila urusan yang berlebihan. Yang alhamdulillah akhirnya bisa diselesaikan baik-baik dan kembali bersatu dan menjalani hidup bersama yang bahagia selamanya.


Minggu, 02 Oktober 2011

Opera Van Dubels #plagiat?

Gue kesel banget setiap kali gue denger orang bilang gitu. Emang napa coba kalo gue ngefans ama Opera Van Java? Emang napa kalo nama kelas gue mirip-miripin? Emang napa kalo Ayu Ting-Ting salah alamat? #kemudian hening

MySpace
.............



Semua berawal dari tiga orang bocah dungu yang menganggap kehidupannya hanya humor belaka bercengkerama tentang episode Opera Van Java "Meteor Garden". Mereka menyebut diri mereka masing-masing; Sadiq Taw Mingkem, Amir Wah Jhuelek, dan Megananda Mhijowo (gue gak mau ingat arti dan tafsiran dari nama yang emang aneh ini).

Dan sayangnya...

gue salah satu anak dalam dongeng itu (cari aja yang mingkem). MySpace

gue gak pernah bener-bener tahu kenapa si Amir
dan Mega ngemirip-miripin gue ama si Sule
Yah, di dalam habitat kecil itu, mereka (si jelek dan si jowo) ngasih peran ke gue sebagai Sule. Padahal gue ngerasa gak lucu, gak asik, gue malah marah banget kalo dikira pesek. Terus si jelek diumpamain aja sebagai Andre. Sayangnya peran ini dikasih berdasarkan morfolgi doang (hidung). Terakhir si jowo mungkin yang paling mumpuni dengan peran Aziz Gagap. Gue gak heran dia gagap, hidungnya aja sempit gitu.

si jelek - si jowo - si mingkem
Singkat cerita, inilah kami. Opera Van Dubels (OVD) yang gak plagiat-plagiat amat, sekian wassalam.

Rabu, 07 September 2011

Hilang, yang berarti nggak kemana-mana

Aku sudah tiga kali menyaksikan teman-temanku kehilangan sosok orangtua, ini berarti tiga kali lebih banyak dari yang nggak pernah kuinginkan...

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun...

Beberapa hari yang lalu, seorang ayah telah meninggalkan dunia. Ayahanda dari seorang kawan baik, ceria, suka menolong, dan sparring partner yang sportif.

Tadi pagi,seorang ibu juga meninggalkan anaknya. Seorang anak yang ceria, riang, dan gembira. Setia kawan dan senantiasa bersedia merangkai mimpi bersamaku. 

Sayup-sayup buah bibir pun bertebaran. Manusia selalu saja berkata:

"Ia mati karena stroke..."

"Ia mati karena kanker..."

"Ia mati karena... ya memang..." (jawaban tukang becak) dll, sebagainya...

Namun sebenarnya, manusia itu mati karena ia telah dilahirkan. Jika saja ia tidak dilahirkan, ia nggak mungkin mati.

Namun dilahirkan bukanlah sebuah pilihan, melainkan takdir yang telah diatur. Begitu juga kematian, sehingga mereka bersama-sama membangun sebuah siklus yang tak pernah berhenti hingga hari akhir.

Dipindahkan, dihilangkan, yang berarti gak kemana-mana. "mereka yang kita sayangi akan selalu ada disini, di dalam hati kita.", begitu kata Sirius Black.

Semoga almarhum ayahanda Mono dan Ibunda Al-Amir Rafsanjani dapat diterima disisi-Nya dengan baik dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, kekuatan, serta rezeki yang banyak. Amin.

sabar, kawan...

free counters